Senin, 22 September 2008

APAKAH AHMADIYAH ?

APAKAH AHMADIYAH ITU

DAN

DENGAN MAKSUD APA DIDIRIKAN ?

Pertanyaan di atas timbul dalam hati kebanyakan orang yang mengenal maupun yang belum mengenal gerakan Ahmadiyah. Penyelidikan orang-orang yang mengenal Ahmadiyah agak mendalam, sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang dimajukan orang-orang yang masih asing terhadapnya dangkal sekali. Disebabkan oleh ketidaktahuan mereka, maka banyaklah soal-soal yang mereka timbulkan sendiri di dalam alam pikiran mereka dan banyak juga mereka percayai hal-hal yang didesas-desuskan orang.

Pertama-tama saya bermaksud hendak memberikan penerangan kepada mereka yang tidak mengetahui dan masih asing terhadap Ahmadiyah, yang karenanya mereka mempunyai beraneka-corak pengertian yang salah.

AHMADIYAH BUKANLAH AGAMA BARU

Di antara orang-orang yang belum mengenal itu terdapat beberapa orang yang mempunyai tanggapan bahwa "orang-orang Ahmadi tidak mengakui kalimah Lailaha llallah Muhammad-ur-Rasullulah" dan dikatakannya, bahwa "Ahmadiyah itu adalah suatu agama baru". Orang-orang yang beranggapan demikian ialah mungkin oleh karena dihasut orang lain, atau oleh karena mereka mempunyai asosiasi pikiran demikian, bahwa Ahmadiyah adalah suatu agama baru, sedang tiap-tiap agama menghendaki suatu kalimah sebab itu mereka berpendapat, bahwa orang Ahmadi pun mempunyai kalimah yang baru pula. Bahkan, saya katakan atas pendapat mereka itu bahwa, selain dari pada Islam tidak ada sebuah agama pun yang mempunyai Kalimah Syahadat. Sebagaimana halnya dengan Kitabnya. Demikian juga berkenaan dengan Nabinya, begitu pula keuniversalannya Islam mempunyai kelebihan dari agama-agama lain maka demikianlah halnya berkenaan dengan Kalimahnya, dibandingkan dengan agama-agama lain kentara benar keistimewaannya. Tiap-tiap agama mempunyai Kitab-kitabnya masing-masing, tetapi, kecuali ummat Islam, tidak ada ummat lain yang mendapat kalamullah. Perkataan "Kitab" berarti hanya karangan, kewajiban-kewajiban dan hukum-hukum, akan tetapi dalam perkataan itu tidak tersimpul pengertian, bahwa tiap-tiap perkataan yang tercantum di dalam karangan itu adalah dari Allah swt. Akan tetapi Kitab kepunyaan ummat Islam diberinama Kalamullah, yang berarti bahwa satu persatu dari perkataannya difirmankan oleh Allah Taala, seperti halnya isi karangan dari Kitab Nabi Musa a.s. adalah memang difirmankan Allah Taala. Ajaran Nabi Isa a.s. yang dikemukakan beliau ke dunia adalah memang dari Allah Taala. Tetapi sekalian Kitab itu tidaklah memakai perkataan yang langsung diucapkan oleh Allah swt. sendiri. Jika orang yang gemar menelaah Taurat Injil dan Qur-an sudi memperhatikan tulisan ini, maka sepuluh menit kernudian sesudah membacanya ia akan mengambil kepastian, bahwa isi karangan Taurat dan Injil itu memang sungguh dari Allah Taala, tetapi kata-katanya bukanlah dari Allah Taala. Demikian juga ia akan memastikan pula bahwa isi karangan Qur-anul Karim pun adalah dari Allah Taala dan tiap kata demi katanya adalah dari Allah Taala juga. Atau katakanlah demikian, bahwa jikalau seseorang yang tidak mempercayai baik Qur-an Karim, Taurat maupun Injil membaca ketiga-tiga Kitab itu satu persatu masing-masing dalam waktu beberapa menit pastilah ia kemudian akan menyatakan, bahwa meskipun pengemuka Taurat dan injil mengatakan, "kedua Kitab itu datang dari Allah", tetapi sekali-kali ia tidak akan mengatakan bahwa tiap-tiap perkatannya adalah ucapan Allah swt. Tetapi berkenan dengan Qur-an Karim, ia terpaksa akan mengakui bahwa isi pengemukanya tidak saja menda’wahkan isi karangan Qur-an itu dari Allah Taala bahkan juga ia akan firmankan oleh Allah Taala. ltulah sebabnya maka Qur-an Karim menamakan dirinya Kitabullah bahkan Kalamullah juga. Akan tetapi Taurat dan Injil tidak menamakan dirinya Kalamullah dan tidak pula dirinya menyebutnya demikian. Jadi Islam mempunyai suatu kelebihan dari agama-agama lain dalam hal inilah, bahwa kitab-kitab agama lain memang Kitabullah,, tetapi bukan Kalamullah sedang kitab dari ummat Islam bukan saja Kitabullah, bahkan juga Kalamullah. Demikian juga sumber dari segala agama berasal dari wujudnya para nabi. Tetapi tidak ada sebuah agama pun mengemukakan seorang nabinya yang menda'wakan dirinya datang untuk menerangkan hikmah tentang seluk-beluk agama dan selaku teladan yang sempurna bagi sekalian ummat manusia. Agama Kristen, yang terdekat zamannya dengan zaman Islam, mengemukakan Almasih sebagai Anak Allah, dengan kedudukan mana tidak memungkinkan kepada manusia mengikuti jejaknya, sebab manusia tidak dapat menyamai Tuhan. Taurat tidak mengemukakan Nabi Musa a.s. sebagai teladan yang sempurna. Tidaklah pula Taurat dan Injil mengernukakan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. sebagai orang yang berwenang untuk menerangkan hikmat tentang seluk beluk agama.

Akan tetapi Nabi Muhammad saw. Qur-an Karim berkata

(Albaqarah 152) :

"Nabi ini menerangkan kepada kamu hukum-hukum llahi

bersama hikmah-hikmahnya..

Jadi keunggulan Islam terletak dalam hal inilah, bahwa nabinya merupakan suri teladan bagi ummatnya dan tidaklah menyuruh tunduk kepada hukum-hukumnya dengan paksaan, melainkan manakala ia mengeluarkan sebuah hukum, maka hal itu dimaksudkan untuk rnemperkuat iman serta menambah semangat para pengikutnya. Ia pun menerangkan, bahwa didalam segala hukum-perintahnya tersembunyi faedah-faedah guna keutuhan agama, kesejahteraan orang-orang yang menjadi pemeluknya dan untuk seluruh ummat manusia. Begitu juga Islam mempunyai kelebihan dari agama-agama lain dalam hal ajarannya.

Ajaran Islam merupakan amanat perdamaian dan kemajuan. Bagi segala lapisan masyarakat, besar kecil, kaya miskin, Iaki-perempuan, orang Timur atau Barat, lemah dan kuat, pemimpin dan rakyat jelata, majikan dan buruh, suami istri, orang tua dan anak, penjual dan pembeli, tetangga dan musafir kelana. la tidak melakukan diskriminasi terhadap sesuatu golongan di dalarn Masyarakat atau ummat manusia. la merupakan penyuluh bagi segala bangsa yang terdahulu dan yang akan datang. Sebagaimana Pandangan Allah yang bersifat "Alimulghalib" - mengetahui segala hal yang tak nampak oleh mata manusia-jatuh pada zarrah debu di bawah batu sampai pula ke bintang-bintang yang berkilau-kilau di cakrawala, begitulah ajaran Islam memenuhi segala keperluan orang yang semiskin-miskinnya dan selemah-lemahnya, dan juga melengkapi kebutuhan orang yang sekaya-kayanya dan sebesar-besarnya. Pendeknya Islam, bukanlah sebuah agama jiplakan dari agama-agama yang terdahulu, melainkan ia merupakan salah satu mata-rantai dari agama-agama dan salah satu badan dan tata-surya kerohanian. Tidak pula pada tempatnya kalau membandingkan salah satu hukumnya dengan agama-agama lain. Dalam hal penamaan agarma memang terdapat penamaan, sebagaimana halnya batubara dan intan secara kimiawi adalah tergolong sejenis, akan tetapi intan tetap bernama intan dan batubara tetap bemama batubara- Begitulah batu marmar dan batu kerikil secara kimiawi berjenis sama, tetapi tetap satu sama lain berbeda. Jadi orang yang berpendapat bahwa karena di dalam agama Islam terdapat Kalimah, maka mungkin dalam agama lain pun ada juga, tak lain sebab tidak tahunya belaka dan sebagai akibat daripada tidak menelaah Qur-an.

Lebih jauh lagi ada sementara orang yang mengemukakan Kalimah : Lailaha illallah lbrahim Khalilullah, Lailaha illallah Musa Kalimullah dan Lailaha illallah /sa Ruhullah dan mengatakan, bahwa kalimah-kalimah tersebut merupakan kalimah-kalimah dari agama-agama yang terdahulu. Padahal di dalam Taurat, Injil dan kepustakaan-kepustakaan orang Kristen tak ada terdapat kalimah-kalimah tersebut.

Di dalam kalangan ummat Islam pada dewasa ini sudah timbul ribuan macam keburukan, tetapi apakah mereka telah melupakan Kalimah mereka? Maka bagaimanakah dapat dikatakan, bahwa orang-orang Kristen dan Yahudi sudah melupakan Kalimah mereka? Seandainya mereka telah melupakan Kalimah mereka dan Kalimah itu telah hilang dari Kitab-kitab mereka, maka siapakah yang telah memberitahukan bunyi Kalimah -Kalimah mereka kepada orang Islam?

Pada hakekatnya kecuali pada Nabi Muhammad Rasulullah saw. tak ada seorang nabi pun yang memiliki Kalimah. Di antara keistimewaan-keistimewaan dari Nabi Muhammad Rasulullah saw. terdapat sebuah keistimewaan pula, bahwa di antara para nabi hanya beliaulah yang menerima Kalimah. Sebabnya ialah di dalam Kalimah itu telah dipadukan menjadi satu, Pernyataan Kerasulan dan Pernyataan Tauhid sedangkan Pernyataan Tauhid itu merupakan satu kebenaran yang abadi, ia tak dapat hapus, oleh karena masa kenabian dan para nabi yang terdahulu pada satu saat harus berakhir, sebab itu Allah Taala tidak mempersatukan nama-Nya dengan nama dan salah seorang nabi. Akan tetapi karena Kenabian dari Baginda Nabi Muhammad saw. akan berlanjut terus hingga hari Kiamat dan masa beliau tidak akan kunjung akhir, oleh sebab itu Allah Taala mempersatukan Kerasulan dan nama beliau bersama Kalimah Tauhid untuk menyebutkan kepada dunia, bahwa seperti halnya lailahaillallah tidak akan hapus begitu juga Muhammad'ur'Rasulullah.

Yang mengherankan kita ialah orang-orang Yahudi tidak mengatakan, bahwa Musa a.s. mempunyai Kalimah; orang-orang Kristen tidak mengatakan, bahwa Isa a.s. mempunya Kalimah; tetapi ummat Islam yang nabinya mempunyai Kalimah yang khusus yang Allah Taala telah mencemerlangkan nabinya dengan Kalimah, yang dengan perantaraan Kalimah telah diberi supremasi (keunggulan) di atas ummat-ummat yang lain, mereka ini dengan dada terbuka begitu bersedia hendak membagikan kehormatan nabi mereka kepada nabi-nabi yang lain. Dan meskipun ummat dari para nabi ini sendiri tidak menda'wakan sesuatu Kalimah, tetapi mereka (dari ummat Islam) itu tampil ke muka “mewakili” ummat-ummat itu membuat-buat Kalimah sendiri dan mengemukakan, bahwa Kalimah agama Yahudi demikian bunyinya dan ummat lbrahim begini dan agama Kristen begini.

Kesimpulannya ialah adanya Kalimah bagi tiap-tiap agama tidak menjadi keharusan. Jika sekiranya merupakan suatu keharusan, maka.juga Ahmadiyah tiada dapat mempunyai Kalimah yang baru, sebab Ahmadiyah bukanlah merupakan suatu agama baru, sebab Ahmadiyah hanya nama dari Islam. Ahmadiyah beriman kepada Kalimah itu ,seperti dikernukakan oleh Nabi Muhammad saw. kepada dunia ya'ni :

Orang-orang Ahmadi berpendapat bahwa, Pencipta dari alam-jagat-semesta ini ialah Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang tak ada serikatnya, Yang tak ada tandingannya mengenai Kebesaran dan kekilatanNya; Dia itu Rabb-Yang menciptakan sesuatu dan menyempurnakannya dengan secara berangsur Rahman, Rahim, MalikiYaumidin; padaNya terdapat segala sifat yang disebutkan oleh Kitab Suci Al Qur'an; Dia bersih daripada segala hal yang dinyatakan bersih oleh Al-Qur’an. Orang-orang Ahmadi berpendapat, bahwa Muhammad bin Abdullah yang bersuku Quraish dan bernegeri Mekkah adalah Rasul dari Allah Taala dan kepada beliaulah diturunkan Syariat yang penghabisan. Beliau dikirimkan bagi bangsa asing. bangsa Arab, bangsa berkulit putih dan yang berkulit hitam, seluruh bangsa dan seluruh ummat manusia. Masa kenabian beliau akan berlaku, semenjak penda'waan kenabian beliau hingga seterusnya selama dunia ini dihuni oleh setiap manusia. Tak ada seorang-orang, yang sudah cukup diberi pengertian-pengertian tetapi ia tidak mau beriman kepada beliau, dapat terhindar dari siksaan Tuhan. Tiap-tiap orang, yang sudah mendengar nama beliau dan kepadanya dikemukakan segala argumentasi-argumentasi atau dalil-dalil tentang kebenaran beliau, terkena keharusan untuk beriman kepada beliau dan tanpa keimanan kepada beliau, ia tidak berhak untuk memperoleh keselamatan. Dan kesucian yang sebenarnya dapat diperoleh hanyalah dengan mengikuti jejak langkah beliau.

MENYINGKAPKAN TABIR KERAGUAN MENGENAI

ORANG-ORANG AHMADI

Kepercayaan Ahmadi tentang Khataman Nubuwat

Beberapa orang dari kelompok orang-orang yang belum mengenal Ahmadiyah seperti tersebut di atas mempunyai tanggapan demikian, bahwa "orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada Khataman Nubuwat dan tidak percaya kepada Rasulullah saw. sebagai Khataman Nabiyyin". Hal ini merupakan suatu kepalsuan dan sebagai ekor daripada ketidak tahuan juga. Apabila orang Ahmadi menyebut dirinya orang Islam dan beriman kepada Kalimah Syahadat maka atas dasar apakah ia harus ingkar kepada Khataman Nubuwat dan tidak percaya kepada Rasulullah saw. sebagai Khataman Nabiyyin? Allah Taala dengan jelas berfirman di dalam Qur-an Karim (Al Azhab : 40).

"Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang di antara kamu orang laki-laki. melainkan ia adalah Rasulullah dan Khataman Nabiyyin “

Bagaimanakah orang yang mempercayai Qur’an Karim dapat mengingkari ayat ini? Tegasnya orang-orang Ahmadi sekali-kali tidak beritikad, bahwa Rasulullah saw.-Nauzubillah-bukanlah Khataman Nabiyyin. Apa yang dikatakan oleh orang-orang Ahmadi hanyalah demikian, bahwa ma'na tentang Khataman Nabiyyin yang dewasa ini populer dikalangan kaum Musiimin itu tidaklah sesuai dengan apa yang termaksud oleh ayat tersebut; dan begitu pula makna itu tidak menjelmakan kemuliaan dan keagungan beliau seperti kemuliaan dan keagungan yang diisyaratkan oleh ayat tersebut.

Jemaat Ahmadiyah mengartikan Khataman Nabiyyin sesuai dengan penggunaan umum dari bahasa Arab dan hal mana diperkuat oleh ucapan-ucapan Siti Aisjah r.a. Sayyidina Ali r.a. dan para sahabat lainnya. Dengan artian itu (yang dikemukakan oleh Jema'at Ahmadiyah) keagungan Rasulullah saw. dan martabat beliau bertambah semarak lagi dan terbuktilah olehnya ketinggian beliau dan seluruh ummat manusia. Jadi orang-orang Ahmadi tidak mengingkari gagasan dari Khataman Nubuwat, melainkan menolak arti Khataman Nubuwat yang dewasa ini, secara kesalahan, telah tersebar di tengah-tengah kaum Muslimin. Sebab kalau orang mengingkari Khataman Nubuwat berarti ia kufur. Sedangkan dengan kumia Allah orang Ahmadi itu adalah Muslim dan beranggapan, bahwa satu-satunya jalan keselamatan ialah berjalan di atas rel Islam.

Dari orang-orang yang masih asing terhadap Ahmadiyah ini terdapat beberapa orang yang beranggapan bahwa "orang-orang Ahmadi tidak beriman kepada Kitab Suci Al Qur-an dengan sepenuhnya, melainkan hanya percaya kepada beberapa juz saja". Hal itu terbukti, ketika baru-baru ini di kota Quetta puluhan orang menemui saya dan menyatakan bahwa "kepada kami ulama-ulama mengatakan, bahwa orang Ahmadi, tidak mempercayai seluruh isi Al Qur-an". Inipun satu tuduhan yang dilemparkan oleh orang-orang yang menaruh antipati terhadap Ahmadiyah. Ahmadiyah percaya, bahwa Qur-an adalah sebuah Kitab yang tidak akan mengalami perubahan-perubahan dan penghapusan-penghapusan. Ahmadiyah percaya dari huruf awal Bismillah sampai huruf terakhir Wanna, bahwasannya tiap-tiap huruf dan perkataannya adalah dari Allah Taala dan menerimanya sebagai hal yang harus diamalkan.

TENTANG MALAIKAT

Dari antara orang-orang yang masih belum mengenal Ahmadiyah itu ada yang menuduh, bahwa orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada adanya malaikat-malaikat dan syaitan. Tuduhan ini pun hanya bikin-bikinan belaka. Sebutan mengenai malaikat terdapat di dalam Al Qur’an, demikian juga tentang syaitan. Bagaimanakah orang-orang Ahmadi, dalam keadaan mengakui beriman kepada Qur’an Karim dapat mengingkari hal-hal yang disebut-sebut oleh Qur’an Karim? Dengan Kurnia Allah kami beriman sepenuh-penuhnya atas adanya malaikat-malaikat, bahkan oleh sebab merekalah kami menerima berkat dari wujudnya Jema'at Ahmadiyah; dan tidaklah kami ini beriman saja, bahkan juga kami berkeyakinan teguh, bahwa berkat pertolongan Qur’an Karim, kami dapat mengadakàn hubungan dengan para malaikat dan dari mereka ini kami dapat mempelajari ilmu-ilmu kerohanian.

Penulis sendiri telah banyak mendapat berbagai-bagai ilmu kerobanian dari para malaikat. Sekali peristiwa satu malaikat telah mengajarkan kepada saya fafsir dari Surah Al Fatihah. Semenjak saat itu hingga sekarang, begitu macam terbukanya rahasia arti dan makna dari Surah Al Fatihah itu sehingga tidak ada.taranya. Saya menda’wakan, bahwa seandainya ada seorang dari sesuatu agama atau sesuatu aliran yang dapat menguraikan masalah dari salah satu cabang ilmu kerohanian berdasarkan isi dari seluruh Kitabnya, maka saya dengan kurnia Allah Ta’ala dapat mengupasnya hanya berdasarkan isi surat Fatihah saja. Sejak lama saya memajukan tantangan ini kepada dunia, tetapi tidak ada muncul seorang pun yang menerima tantangan ini. Tentang bukti adanya Tuhan, bukti Keesaan Tuhan (Tauhid Illahi), pentingnya kenabian, ciri ciri Syariat yang sempurna dan apa kepentingannya bagi ummat manusia, do’a, takdir, kebangkitan sesudah mati, neraka dan sorga - kesemuanya masalah ini sedemikian rupa terangnya dapat diuraikan berdasarkan isi dari Surat Al Fatihah, sehingga ribuan halaman keterangan yang diambil dari Kitab-kitab lain pun tidak menjelaskan sejelas itu kepada manusia. Pendeknya tentang keingkaran kepada wujud malaikat hendaknya tak perlu dipersoalkan lagi, tinggal lagi sekarang mengenai masalah Syaitan. Syaitan adalah satu makhluk yang kotor. Untuk beriman kepadanya tak perlu dipersoalkan. Ya, kita mengetahui tentang wujudnya ialah dari Qur-an Karim dan kami mengakui adanya, bahkan tidak saja mengakui melainkan juga beranggapan, bahwa Allah Taala telah meletakkan kewajiban untuk mematahkan kekuatan Syaitan dan menghapuskan kekuasaan Syaitan. Dalam mimpi pun saya melihat, bahwa saya beradu gulat dengan Syaitan, dan dengan pertolongan Allah Taala serta berkat Kalimat Ta'ud saya pun dapat mengalahkannya. Sekali peristiwa Allah Taala pernah mengatakan kepada saya, bahwa di dalam tugas yang dipikulkan oleh Allah kepada saya, "syaitan dan anak-anaknya akan mengadakan bermacam-macarn rintangan dan engkau jangan menghiraukan rintangan-rintangan itu, maka melangkahlah maju terus sambil mengucapkan "Dengan Kurnia Allah dan RahimNya Kernudian saya menuju arah, kejurusan mana Allah Taala mengisyaratkan kepada saya lalu terlihat oleh saya syaitan dan anak-anaknya mulai berusaha dengan bermacam-macarn cara untuk mengancam dan menakut-nakuti. Di beberapa tempat nampak makhluk-makhluk dengan hanya kepala-kepalanya saja menghampiri dan mencoba menakut-nakuti saya. Beberapa tempat nampak pemandangan yang menyeramkan. Di beberapa tempat syaitan-syaitan itu berganti rupa seperti singa, seperti gajah, akan tetapi sesuai dengan perintah llahi, saya tidak mengacuhkan godaan-godaan mereka dan seraya menyebut "Dengan Kumia Allah dan Rahimnya" saya melangkah terus. Manakala saya mengucapkan kalimat itu pun nampak kosong. Tetapi sebentar kemudian datàng lagi mereka dengan rupa dan bentuk yang baru dan dalam pergumulan kali ini saya berhasil mengalahkan mereka, hingga akhimya mereka pontang-panting lari meninggalkan gelanggang. Maka berdasarkan ru'ya (mimpi) inilah saya senantiasa menulis di atas tulisan-tulisan saya yang penting-penting "Dengan Kurnia Allah dan RahimNya". Tegasnya kami beriman kepada Malaikat dan kami mengakui adanya wujud Syaitan.

Ada pula beberapa orang yang mengatakan bahwa orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada mu'jizat. Hal ini pun bertentangan dengan kenyataan. Jangankan lagi terhadap mu'jizat Nabi Muhammad saw., bahkan kami percaya juga bahwa Allah Taala menganugerahkan mu'jizat kepada para pengikut dari Nabi Muhammad saw yang sejati. Qur-an Karim itu penuh berisi mu'jizat-mu'jizat dari Nabi Muhammmad saw. Dan hanyalah orang-orang yang mata rohaninya buta sebuta-butanya dapat mengingkari kenyataan itu.

MASALAH KESELAMATAN (NAJAT)

Ada kekeliruan faham terdapat pada beberapa orang mengenai Ahmadiyah yang mengatakan, bahwa menurut pendirian orang-orang Ahmadi, semua orang kecuali orang-orang Ahmadi, akan masuk neraka. Hal inipun merupakan akibat daripada ketidaktahuan atau perasaan antipati belaka. Kami sekali-kali tidak mempunyai itikad, bahwa selain daripada orang Ahmadi semua orang akan masuk neraka. Pada hemat kami ialah, bahwa dapat terjadi seorang Ahmadi masuk neraka seperti halnya orang yang bukan Ahmadi akan masuk sorga, sebab sorga bukanlah hanya sekedar ungkapan mulut belaka, melainkan sorga itu dicapainya sebagai hasil penunaian dari pada berbagai-bagai pertanggungan jawab. Begitu pula tentang neraka, ia bukanlah merupakan akibat dari pada keingkaran di mulut saja, melainkan untuk menjadi umpan neraka itu menghendaki banyak syarat-syaratnya. Seseorang tidak akan masuk neraka sebelum kapadanya disampaikan petunjuk-petunjuk selengkapnya, kendatipun ia adalah seorang pengingkar kebenaran yang sebesar-besarnya. Nabi Muhammad saw. Sendiri bersabda, bahwa yang meninggal diwaktu masih anak-anak atau orang-orang yang hidup di pegunungan-pegunungan tinggi atau di hutan belantara yang akal-fikirannya tidak berkembang atau orang gila yang akalnya rusak, mereka ini tidak akan ditindaki pemeriksaan, malahan Allah Taala pada Hari Kiamat kelak akan mengutus lagi nabi ke tengah-tengah mereka agar memberikan peluang kepada mereka untuk mengenal perbedaan antara yang benar dengan yang palsu. Kemudian dia yang telah cukup diberi petunjuk-petunjuk namun ia memilih hal yang palsu barulah ia akan dimasukkan neraka. Kebalikannya, dia yang menerima petunjuk akan masuk sorga.

Jàdi keliru sekali kalau mengatakan, bahwa menurut pendirian orang-orang Ahmadi, tiap-tiap orang yang tidak masuk Ahmadiyah akan masuk neraka.

Berkenaan dengan keselamatan (najat) kami beritikad, bahwa orang-orang yang menghindarkan diri dari kebenaran dan ia berdaya upaya agar kebenaran itu jangan sampai didengar telinga, yang karenanya ia terpaksa harus menerima, atau terhadapnya telah disampaikan penerangan dan petunjuk dengan sempurna, tetapi kendati pun demikian ia tak juga hendak beriman, maka menurut Allah orang semacam itu akan ditindak. Meskipun demikian orang semacam itu pun jikalau Allah Ta’ala menghendaki akan dapat diampuni, sebab bukan di tangan kitalah terletak wewenang untuk membagikan Rahmat-Nya.

Seorang budak-sahaya tak dapat merintangi maksud majikannya untuk bermurah hati, Allah Ta’ala adalah Tuhan kita. Raja kita, Pencipta kita dan Penguasa kita.Apabila ia berkehendak menganugerahkan HikmatNya, llmu-Nya dan Rahmat-Nya kepada seorang manusia yang menurut keadaan normal nampaknya tak mungkin memperoieh anugerah, apakah kita berkuasa untuk menahan tanganNya dan merintangi anugerahNya?

Kepercayaan Ahmadiyah mengenai keselamatan demikian luasnya, sehingga konsekwensinya ialah beberapa ulama dan kiyai menjatuhkan fatwa kepada orang-orang Ahmadiyah sebagai kufur atau ke luar dari agama Islam Kami berkepercayaan, bahwa tak ada seorang pun yang akan mengalami siksaan secara abadi, baik ia mu'min ataupun kafir. Allah berfirman di dalam Al Qur’an (Al A af: 187):

yakni "Rahmatku meliputi segala sesuatu", dan bersabda lagi Ummuhu hawiyah”, yakni bandingan antara seorang kafir dan neraka ialah seibarat seorang ibu dengan anaknya. Kemudian Allah Taala berfirman lagi (Azzariyat: 67):

"Tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia melainkan supaya

mereka mengabdi kepadaKu .”

Banyak lagi ayat-ayat yang semacam itu. Betapa kami dapat menerima gagasan, bahwa Rahmat lllahi itu tidak akan melingkupi penghuni-penghuni neraka dan mereka tidak akan pernah dikeluarkan dari kancah api jahanam dan orang-orang itu yang Allah Taala ciptakan untuk menjadi hamba-hambaNya akan tetap selama-lamanya menjadi hamba-hamba Syaitan, dengan demikian tidak akan menjadi hamba-hamba Allah Taala, dan Dia dengan suaraNya yang penuh mengandung rasa kasih-sayang tidak akan menyapa mereka dengan kata-kata "Fadkhuli fi'ibadi wadkhuli jannati" - "kernarilah datang memasuki golongan hamba hambaKu dan masuklah ke dalam sorgaKu".

TENTANG HADITS

Beberapa orang meragukan Ahmadiyah dengan sangkaan, bahwa orang-orang Ahmadi tidak mempercayai Hadits dan yang lainnya menuduh, bahwa orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada para Ahli-ahli Fuqaha- Kedua tanggapan itu sungguh keliru.

Dalam hal yang menyangkut perkara taqlid dan tidak taqlid, Ahmadiyah memilih jalan tengah. Pelajaran Ahmàdiyah ialah demikian, bahwa sesuatu perkara yang sudah diputus oleh sabda Rasulullah saw., tetapi kernudian mendengarkan kata orang lain maka hal itu merupakan sebagai suatu penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Dihadapan seorang majikan, tidaklah patut untuk mendengar kata rekannya seorang anak buah. Dengan hadimya seorang guru tidak pada tempatnya belajar dan seorang murid. Para ahli fuqaha yang bagaimana pun besarnya adalah murid-murid dari Nabi Muhammad Rasulullah saw. dan segala kehormatan yang diperoleh mereka adalah berkat mengikuti titah beliau dan segala kemuliaan yang dinikmatinya adalah berkat pengabdian beliau.

Jadi apabila sesuatu hal terbukti berasal dari Rasulullah saw. dan ciri-cirinya ialah bahwa keterangan yang sumbernya dialamatkan kepada Rasulullah saw. itu sesuai dengan Qur'an Karim - maka hal itu merupakan suatu keputusan terakhir suatu perintah yang tidak boleh diabaikan. Dalam hal ini tidak ada seorang pun yang berhak untuk menolak atau menyatakan oposisi. Akan tetapi oleh karena pewarta-pewarta Hadits (rawi) itu di antaranya ada yang baik ada pula yang buruk akhlaknya, ada yang panjang ingatannya dan ada pula yang tidak, ada yang cerdas otaknya dan ada pula yang tidak. maka apabila ada sesuatu Hadits yang maksudnya bertentangan dengan Qur-an Karim, Hadits itu tidak akan diterima. Sebab tidak semua Hadits itu qot'i (tidak diragukan). Bahkan para ahli Hadits semuanya sependapat, bahwa ada beberapa Hadits yang qot'i, ada yang tingkatannya menengah, ada yang di ragu-ragukan, ada yang mendekati keyakinan benarnya dhon, dan ada pula beberapa yang dibuat-buat orang.

Akan tetapi manakala Qur-an Karim dalam sesuatu masalah tidak memberikan petunjuk yang jelas dan Hadits pun tidak menunjukkan jalan yang tegas dan meyakinkan, atau dari kalimatnya kita dapat mengambil beberapa macarn tafsiran, maka dalam hal serupa ini tentu saja para ahli fuqaha, yang seumur hidupnya tekun mempelajari dan merenungkan arti ayat-ayat Qur-an dan Hadits, mempunyai hak untuk berijtihad (membuat kesimpulan dan mengambil keputusan). Seorang awam yang tidak pernah mempelajari Qur-an dan Hadits atau kemampuan ilmu pengetahuannya tidak memungkinkan dia untuk mendalami masalah Qur-an dan Hadits, ia tidak berhak untuk mengatakan, bahwa "mengapa pendapat-pendapat Imam Abu Hanifah Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Imam Malik atau pendapat Imam Imam lainnya harus lebih diutamakan dan pada pendapatku sendiri. Padahal aku pun seorang Muslim dan mereka pun orang-orang Muslim. Jikalau ada selisih pendapat antara seorang dokter dan seorang biasa mengenai sesuatu penyakit, maka pendapat dokter itulah yang akan diindahkan. Begitu pula di dalam perselisihan pendapat mengenai perkara hukum, maka pendapat seorang Sarjana Hukum akan lebih diindahkan dan pada pendapat seorang yang bukan sarjana. Maka tidak ada sebab bagi kita untuk tidak mengindahkan pendapat-pendapat para Imam itu, yang telah menghabiskan umur mereka untuk mempelajari rahasia rahasia Qur-an dan Hadits dan yang kekuatan otaknya lebih baik dari pada ribuan manusia, sedangkan ketakwaan dan kesucian mereka tak diragukan lagi.

Pendeknya, Ahmadiyah tidak mutlak dan sepenuh-penuhnya membenarkan pendapat para Ahli hadist begitu pula tidak mutlak dan sepenuh-penuhnya mendukung pendirian orang-orang yang bertaqlid. Pendirian Ahmadiyah di dalam hal ini moderat, yakni sama seperti pendirian Imam Abu Hanifah, yang menyatakan, bahwa Qur-an Karim menempati kedudukan paling tinggi di atas segala hal, menyusul berikutnya Hadits shahih, kemudian barulah pendapat-pendapat dan ijtihad dari para cendekiawan-cendekiawan. Dengan pendirian demikian ini, orang Ahmadi seringkali mengatakan dirinya pengikut Hanifah. Artinya ialah kami benar mengikuti ajaran Abu Hanifah. Kadang-kadang juga menyebut dirinya Ahli Hadits, oleh karena menurut pendapat Ahmadiyah, sesuatu ucapan dari Nabi Muhammad saw. yang dapat dipertanggung jawabkan buktinya, memperoleh prioritas dari pada segala ucapan manusia-manusia lain, bahkan pula lebih dari pada seluruh ucapan dari para Imam.

TENTANGTAKDIR

Di antara kesalah-fahaman dari orang-orang yang belum mengenal Ahmadiyah ialah berhubungan dengan masalah takdir. Dikatakan oleh mereka, bahwa orang-orang Ahmadi menyangkal ajaran tentang takdir. Orang-orang Ahmadi sekali-kali tidak mengingkari ajaran tentang takdir ini. Dalam masalah ini kami memegang kepercayaan, bahwa Takdir llahi berlaku di dunia ini seterusnya hingga hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah TakdirNya. Kami hanya menentang hal ini bahwa kesalahan si pencuri karena mencurinya, kesalahannya yang lalai bersembahyang karena kelalaiannya kesalahan pembohong karena kebohongannya, kesalahan penipu karena penipuannya, kesalahan pembunuh karena pembunuhannya, dan kesalahan penjahat karena kejahatannya, dilemparkan ke alamat Tuhan, seolah-olah orang yang tercoreng dimukanya diusahakan hendak dipindahkan ke wajah Tuhan.

Kami berpendapat, bahwa di dunia ini berlaku dua hukum seibarat dua sungai yang mengalir sejajar berdampingan, yaitu Hukum Takdir dan Hukum Tadbir. Di antara kedua daerah itu telah ditentukan perbatasan yang tidak memungkinkan keduanya bertemu, sesuai dengan firman llahi (Al-Rahman: 21) :

Hukum Tadbir mempunyai daerah tersendiri dan Hukum Takdir pun demikian juga. Terhadap hal-hal di mana Allah swt. melancarkan Takdir, di sana Tadbir tidak akan berdaya. Sedangkan di mana Dia membuka Tadbir, lalu kita mengharap-harap Takdir saja tanpa berbuat apa-apa, hal itu akan merusak masa depan kita sendiri.

Pendek kata, apa yang kami tentang ialah usaha orang menyembunyikan kelakuan buruknya di balik tabir takdir dan meletakkan istilah takdir kepada ekor dari pada kemalasannya dan kelengahannya, juga di mana Allah Taala memerintahkan untuk mempergunakan tadbir, di waktu itu ia duduk menantikan takdir. Kami menentang hal-hal itu oleh sebab akibatnya senantiasa membahayakan.

Kaum Muslimin hanya duduk menantikan datangnya Takdir llahi, sambil meninggalkan aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang justru dibutuhkan bagi satu kaum yang berjuang untuk mencapai kemajuan, hingga akibatnya ialah nyata sudah, bahwa di dalam perkara agama mereka mengalami kemunduran, begitu juga di dalam sepak terjang soal keduniaan pun mereka jauh ketinggalan. Jika sekiranya mereka memperhatikan, bahwa manakala Allah swt. membukakan pintu Tadbir di dalam sesuatu pekerjaan lalu mereka mengenyampingkan Takdir dan mempergunakan Hukum Tadbir itu sebaik-baiknya, niscaya keadaan mereka tidak akan sedemikian jatuhnya dan tidak begitu menyedihkan seperti keadaan mereka dewasa ini.

TENTANG JIHAD

Pengertian-pengertian yang salah mengenai Ahmadiyah itu di antaranya ada pula, bahwa Ahmadiyah mengingkari Jihad. Hal ini sama sekali tidak benar. Hanya saja pendirian Ahmadiyah ialah, bahwa peperangan itu ada dua macam coraknya; yaitu yang pertama: apa yang dinamakan Perang Jihad dan yang kedua: hanya perang yang lumrah.

Apa yang dinamakan Perang Jihad ialah yang hanya peperangan, di mana sengketanya terletak pada soal mempertahankan agama dan musuh yang dihadapi ialah orang-orang yang bermaksud hendak membinasakan agama dengan jalan kekerasan dan hendak merobah kepercayaan dengan kekuatan senjata. Jika kejadian semacam itu timbul di salah satu bagian di dunia ini, maka wajiblah bagi tiap-tiap Muslimin untuk berjihad. Akan tetapi di dalam jihad semacam itu ada pula syaratnya yaitu pengumuman untuk melancarkan Perang Jihad hendaknya dinyatakan oleh seorang imam, agar supaya dapat diketahui siapa-siapa di antara kaum Musiimin yang harus maju kernedan jihad itu dan siapa-siapa yang harus menunggu gilirannya. Jika tidak demikian, maka pada waktu tibanya kesempatan untuk berjihad semacam itu, orang-orang Mu’min, yang tidak turut mengambil bagian akan berdosa. Akan tetapi jika ada Imam, maka yang berdosa itu ialah mereka (orang-orang Mukmin), yang dipanggil untuk maju ke medan laga tetapi tidak memenuhi panggilan.

Jika ada orang-orang Ahmadi yang tinggal di salah satu negeri telah menolak untuk melakukan jihad, maka penolakannya ialah karena anggapan mereka bahwa orang-orang Inggeris tidak memaksakan dengan kekuatan senjata untuk menukar agama. Jika pikiran orang-orang Ahmadi ini keliru dan memang sesungguhnya oràng-orang Inggeris itu berusaha untuk menukar agama dengan jalan kekerasan, maka jihad pada waktu itu pasti dinyatakan wajib. Tetapi soalnya sekarang apakah sesudah dinyatakan wajib jihad itu, tiap-tiap Muslimin mengangkat senjata melawan Inggris? Jika tidak, maka orang-orang Ahmadi akan menjawab dihadapan Allah Ta’ala, bahwa menurut hemat kami belum tiba waktunya jihad di saat itu. Jika kami berada dalam kedudukan yang salah, maka hal itu tak lain disebabkan oleh karena kekeliruan ijtihad (sikap pikiran). Akan tetapi apakah yang akan dikatakan oleh para kiyai? Apakah mereka akan berkata, bahwa: "Ya Tuhan. memang pada waktu itu sudah tiba saatnya jihad itu, dan kami berpendapat bahwa wajiblah sudah untuk berjihad. Akan tetapi, wahai Tuhan kami, kami tidak melakukan jihad, oleh karena hati kami takut dan begitu pula kami tidak mengirimkan orang-orang yang hatinya tidak ada ketakutan ke medan jurit. Sebabnya ialah jika kami berbuat demikian, kami cemas kalau-kalau orang-orang Inggris kami."

Saya serahkan kepada orang-orang yang berwatak adi untuk menilai kedua bentuk jawaban di atas itu. Manakah di antaranya yang lebih beralasan dan layak diterima oleh Allah swt.?

Apa yang sudah saya terangkan di atas itu semuanya adalah untuk menghilangkan keragu-raguan orang, yang sama sekali tidak mempelajari asal-usul Ahmadiyah dari yang sekedar mendengar tentang tugas pelajaran Ahmadiyah dari kalangan lawan atau tanpa menyelidikinya lalu hendak me membuat sendiri gagasan tentang kepercayaan dari ajaran dari Ahmadiyah.

Sekarang saya hendak mengarahkan pembicaraan saya kepada orang-orang yang telah mempelajari Ahmadiyah sampai batas tertentu dan yang mengetahui, bahwa orang-orang Ahmadi pun percaya kepada ketauhidan Allah Taala begitu juga kepada kerasulan dan Muhammad saw mempercayai AI-Qur’an dan Hadits, melakukan sembahyang, puasa dan haji, membayar zakat, beriman kepada hari kebangkitan dan balasan di hari kemudian, tetapi mereka merasa heran, bahwa apabila orang-orang Ahmadi benar-benar orang Musiim seperti orang-orang Muslim lainnya, maka apakah gunanya untuk membentuk sekte (firqah) baru? Pada pemandangan mereka kepercayaan dari orang-orang Ahmadi tidak dapat disalahkan, akan tetapi mereka berpendapat, bahwa untuk mendirikan suatu Jemaat baru itu adalah satu hal yang tidak dapat dibenarkan, sebab apabila tidak terdapat perbedaan mengapakah harus memencilkan diri dan apabila tidak terdapat pertentangan, maka apakah maksudnya dengan mendirikan mesjid-mesjid yang baru?

SEBABNYA MENDIRIKAN JEMA'AT BARU

Untuk menjawab soal itu dapat diberikan dengan dua macam, yakni dengan cara menggunakan akal dan dengan cara kerohanian.

Secara akal untuk menjawab soal ini ialah, bahwa Jema’at bukanlah hanya sebutan kepada jumlah massa. Ribuan dan jutaan individu tak dapat disebut satu Jema'at melainkan Jema'at itu dikatakan kepada individu-individu yang berkumpul dan bersatu-padu untuk bertekad bekerja dan melaksanakan satu program bersama. Lima atau enam jumlah orang pun yang semacarn itu merupakan satu Jema'at; sebaliknya walaupun jumlah dari orang-orang itu ribuan tapi jika dalam kumpulan orang-orang tersebut tidak terdapat unsur itu, maka mereka tak merupakan satu Jema'at.

Tatkala Rasulullah saw. mengumumkan kenabian beliau di kota Mekkah, maka pada hari pertama hanyalah empat orang saja yang beriman kepada beliau, yang berikut beliau jumlahnya lima orang. Kendatipun hanya berlima, tapi mereka merupakan satu Jema'at. Sebaliknya penduduk Mekkah yang berjumlah delapan sampai sepuluh ribu orang itu tidaklah merupakan satu Jema'at, begitu juga seluruh penduduk tanah Arab pada waktu itu tidaklah merupakan satu Jema'at, sebab mereka tidak bertekad untuk melakukan satu pekerjaan, begitu juga tidak mempunyai program bersama.

Jadi sebelum mengemukakan persoalan itu hendaknya meninjau hal ini, bahwa apakah pada waktu ini kaum Muslimin merupakan satu Jema'at? Apakah kaum Muslimin sedunia telah mengambil keputusan untuk bekerja bersama-sama dalam segala aktivitas? Apakah mereka mempunyai sebuah program bersama?

Sejauh hal yang menyangkut soal simpati, saya mengakui bahwa di dalam hati kaum Muslimin terdapat rasa-simpati antara satu sama lain. Tetapi perasaan itu tidak merata terdapat pada semua orang Muslim. Sebagian ada mempunyai perasaan itu, sebagian lagi tidak. Lagi pula tidak ada semacarn organisasi, dengan perantaraan organisasi mana pertentangan-pertentangan dapat didamaikan. Pertentangan faham itu memang terdapat juga didalam satu Jema'at, bahkan pula di dalam Jema'at para nabi.

Dizaman Rasulullah saw. juga adakalanya terjadi tidak adanya persesuaian faham antara kalangan Ansar dan Muhjirin dan kadang-kadang timbul pertikaian antar suku. Akan tetapi apabila Rasulullah saw. mengambil suatu keputusan, maka segala pertentangan dan perselisihan itu segera dapat didamaikan. Begitu pula di zaman Khilafat telah timbul perselisihan tetapi apabila timbul hal itu dan Khalifah turun tangan dengan mengambil keputusan, maka perselisihan itu reda kembali. Juga sesudah habisnya masa Khilafat hingga tujuh puluh tahun lamanya kaum MusIimin berada dibawah satu pernerintahan. Dimana juga kaum Musiinün berada pada waktu itu, di sana mereka tunduk kepada satu peraturan. Baik atau buruknya peraturan itu tidak akan kita persoalkan, tetapi bagaimanapun, peraturan itu telah mengikat kaum Muslimin menjadi satu. Sesudah itu.timbul perselisihan dan ummat Muslimin terpecah menjadi dua blok (golongan). Spanyol membentuk wilayah tersendiri dan bahagian dunia yang lainnya merupakan wilayah lain. Perpecahan itu memang telah terjadi waktu itu, tetapi perpecahan tersebut sangat terbatas. Kendatipun demikian mayoritas dan kaum Muslimin di dunia pada waktu itu masih benaung di bawah satu organisasi. Akan tetapi sesudah tiga abad berlalu susunan organisasi itu sedemikian rupa retaknya, sehingga perselisihan timbul dan meluas di tengah-tengah kaum Muslimin yang mengakibatkan menjelmanya perpecahan-perpecahan dan kekacauan (chaos). Tepatlah apa yang disabdakan Rasulullah, bahwa :

"Abad yang terbaik adalah abadku, kernudian akan hidup orang-orang di abad yang kedua, kernudian lagi akan hidup orang-orang di abad yang ketiga maka setelah itu kebenaran akan hilang sirna dan akan meluaslah kekejaman-kekjaman, ekses-ekses dan ketidak seragaman.”

Apa yang disabdakan oleh Rasulullah telah menjadi kenyataan. Pertentangan itu telah meningkat sampai sedemikian rupa, sehingga selama tiga abad berlalu, kekuatan kaum Muslimin sudah sama sekali punah.

Betapakah kekuasaan di zaman itu yang mengakibatkan seluruh Eropa merasa takut kepada raja-raja Islam. Akan tetapi sekarang, jika pun seluruh dunia Islam bergabung,akan tak sanggup menghadapi salah satu kekuatan negeri Eropa atau Amerika. Orang-rang Yahudi telah mendirikan negara Arabia, Mesir dan Palestina sedang mengadakan konfrontasi dengan negara itu. Akan tetapi orang-orang Yahudi telah menguasai daerah, yang jauh lebih luas dari pada daerah yang diberikan oleh PBB. Memang benar Amerika dan Inggeris membantu pemerintah Yahudi, tetapi soalnya, dahulu satu kerajaan Islam dapat menguasai seluruh Eropa dan sekarang keadaannya terbalik; beberapa negara Barat lebih besar kekuatannya daripada kekuatan seluruh negara-negara Islam.

Pendeknya, konsepsi atau pengertian tentang istilah Jemaa’t, tak dapat diterapkan kepada ummat Muslimin zaman sekarang, Kini ada negara-negara Islam, diantaranya yang paling besar ialah Pakistan, yang dengan Kurnia Allah Taala sekarang sudah berdiri. Akan tetapi Islam bukanlah Pakistan, Mesir, Siria, Iran Afghanistan atau Saudi Arabia.

Islam adalah semboyan dari kesatuan, suatu kesatuan mengikat seluruh ummat Islaim. Suatu kesatuan atau organisasi semacarn itu di dunia ini sekarang tidak ada. Pakistan mempunyai rasa simpati terhadap Afghanistan dan Afghanistan mempunyai rasa simpati terhadap Pakistan, akan tetapi Pakistan tidak akan bersedia menerima segala rupa pandangan politik Afghanistan, demikian juga Afghanistan tidak akan bersedia menerima sebaliknya. Masing-masing mempunyai garis-garis politik yang berlainan, dan keduanya bebas mengurus soal dalam negerinya masing-masing. Begitu pula keadaan orang-orang Islam secara individual. Penduduk negeri Afghanistan bebas di tempatnya, penduduk negeri Pakistan bebas di tempatnya, penduduk negeri Mesir bebas di tempatnya. Tak ada sesuatu hal yang mengikat kaum Muslim secara individu ke dalam satu ikatan bersama.

Pendeknya, kita sekarang mempunyai kaum Muslimin dan kerajaan -kerajaan Islam, yang dengan Kurnia Allah swt. sedang menjadi kuat. Akan tetapi meskipun demikian tak dapat dikatakan, bahwa kaum Muslimin itu satu Jema'at. Marilah kita umpamakan, bahwa angkatan laut Pakistan sedemikian rupa menjadi kuatnya sehingga ia berkuasa di Samudera Hindia. Angkatan Daratnya begitu rupa kuatnya sehingga India merasa cemas. Keadaan perekonomiannya begitu suburnya, sehingga menguasai pasaran dunia. Bahkan, baiklah kita umpamakan, hahwa kekuatannya sudah demikian besarnya hingga melebihi Amerika, maka akan bersediakah Iran, Siria, Palestina dan Mesir untuk meleburkan diri ke dalam Pakistan? Teranglah tidak. Mungkin mereka akan bersedia untuk mengakui kejayaan Pakistan. Mereka bersedia menyatakan simpati. Akan tetapi, saya kira, mereka tidak akan bersedia untuk menghapuskan wujudnya.

Jadi. walaupun dengan Kurnia Allah kedudukan kaum Muslimin dalam dunia politik sedang menuju perbaikan dan beberapa negara Islam yang baru sudah berdiri. Tetapi kendatipun demikian. kaum Musiimin sedunia tak dapat disebut satu Jema'al Islam. Sebab, mereka berpegang kepada politik yang berbeda-beda dan mereka terbagi-bagi dengan pemerintahan-pemerintahannya masing-masing. Tidak ada suatu kekuasaan yang menampung suara dan seluruh pemerintahan-pemerintahan ini.

Akan tetapi sesungguhnya Islam mumpunyai klaim (da'wa) internasional. Islam bukanlah kaum Muslimin tanah Arab, Syria, Iran atau Afghanistan. Bilamana seluruh kaum Musiimin di tiap-tiap negeri bersatu di bawah naungan Islam, pada waktu itu barulah mereka dapat dinamakan Jema'at Islami, yaitu yang mengikat erat kelompok-kelompok itu semuanya. Selama di dunia ini belum berdiri Jema'at semacam yang di atas, maka kami terpaksa harus mengatakan, bahwa dewasa ini tidak ada Jema'at kaum Muslimin - meskipun ada wujudnya pemerintahan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik.

Demikian juga berkenan dengan program bersama. Kalau suatu organisasi yang dapat mengikat kaum Musiimin sedunia tidak ada, maka selama itu kaum Muslimin pun tak akan mempunyai pegangan politik, sosial dan tradisi agama bersama. Dengan kemampuan sendiri-sendiri kaum Muslimin di sana-sini, masing-masing menghadapi musuh-musuh Islam, adalah berlainan sekali dengan secara kompak bersatu dibawah satu komando organisasi internasional - siap siaga mengimbangi kekuatan-kekuatan musuh dalam rangka usaha mengadakan konfrontasi. Jadi ditinjau dari segi program pun kaum Muslimin tidaklah merupakan satu Jema'at.

Di tengah-tengah situasi sedemikian, apabila sesuatu Jema'at terbentuk dengan memenuhi kedua maksud seperti di atas, maka Jema'at itu tak dapat dibangsakan sebagai golongan separatis.

Kepada saudara-saudara yang mempunyai perasaan syak- wasangka di dalam hatinya, bahwa mengapakah Jema'at Ahmadiyah membentuk Jema'at baru, padahal sembahyangnya sama, berkiblat sama, Qur-annya sama, Rasulnya sama, saya berkata: Sudah tiba saatnya kini Islam membentuk satu Jem.a'at! Hingga kapankah kesempatan itu ditunggu?

Pemerintah Mesir mengurus soal kepentingannya, pernerintah Iran, Afghanistan, dan negara-negara Islam lainnya pun demikian juga mengurus soal kepentingannya masing-masing; dalam pada itu masih ada kekosongan dan kekurangan. Untuk mengisi kekosongan dan kekurangan inilah Jema'at Ahmadiyah berdiri.

Ketika bangsa Turki menghapuskan Khilafat Turki, maka beberapa alim-ulama Mesir (menurut sumber-sumber yang mengetahui, ialah atas isyarat dan Raja Mesir) mulai mengadakan kampanye untuk mendirikan Khilafat. Tujuan dari gerakan itu ialah agar Raja Mesir dianggap sebagai "Khalifatul Muslimin". Dengan demikian Mesir memperoleh kedudukan di atas di tengah-tengah kerajaan-kerajaan islam yang lain. Hal ini segera mendapat tantangan dari Saudi Arabia dan ia melancarkan propaganda, bahwa gerakan tersebut di atas didalangi oieh Inggeris. Dikatakannya pula, bahwa kalau ada orang yang berhak menjadi Khalifah, maka orangnya ialah tentu Raja dari Saudi Arabia.

Sepanjang hal yang menyangkut kepentingan Khilafat tidak dapat disangsikan lagi ia merupakan satu lembaga yang mengikat sekalian kaum Muslimin. Akan tetapi apabila perkataan Khilafat ini mulai dihubungkan kepada seorang Raja tertentu, maka Raja-raja yang lainnya segera menyatakan oposisi dan merasa, bahwa bibit perpecahan telah dimasukkan ke dalam pernerintahannya. Dengan demikian, gerakan yang berguna itu menjadi sia-sia. Akan tetapi apabila gerakan ini timbul di tengah-tengah masyarakat dan semangat keagamaan mendorongnya dari belakang, maka pertentangan-pertentangan politik tidak akan menghambat jalannya. Hanyalah mungkin akan menimbulkan pertentangan antara mazhab. Oleh sebab pertentangan politik, maka gerakan semacarn itu akan terbatas daerahnya di negeri itu, di mana pemerintahnya memberi dukungan. Akan tetapi jika gerakan Khilafat ini bersifat kemazhaban, gerakan ini tidak akan terbatas di dalam sesuatu negeri. Gerakan itu akan menjalar dan akan memaksud negeri-negeri dimana pemerintahnya bukan pernerintahan Islam, dengan suksesnya. Disebabkan tidak menimbulkan kekacauan-kekacauan politik, dalam masa permulaannya pernerintahan-pemerintahan tidak akan menentangnya. Sejarah perkembangan Ahmadiyah telah memberikan bukti mengenai hal ini.

Tujuan dari Ahmadiyah ialah semata-mata hendak menimbulkan persatuan di kalangan ummat Islam. Ahmadiyah tidak menginginkan kerajaan ataupun ada ambisi mempunyai pemerintahan. Orang-orang Inggris juga kadang-kadang menimpakan kesukaran-kesukaran pada Ahmadiyan di negerinya akan tetapi oleh karena Jema'at Ahmadiyah itu hanya besifat gerakan keagamaan semata, jadi mereka tidak merasa perlu untuk mengobarkan konflik secara terbuka. Di Afghanistan raja-raja karena ketakutan dari kiyai-kiyai yang fanatik - kadang-kadang memberikan bermacam-macarn kesulitan kepada orang-orang Ahmadi, akan tetapi dalam pertemuan-pertemuan pribadi, mereka memperhatikan keuzurannya dan juga menyatakan penyesalannya. Demikian juga di lain-lain negeri Islam, orang-orang dari kalangan rakyat jelata menentang, para ulama menentang dan pemerintah saking takutnya kepada para ulama itu - kadang-kadang menjalankan kekangan. Namun tidak ada satu pernerintahan pun di dunia ini yang berpendapat, bahwa Ahmadiyah bermaksud hendak melancarkan coup atau merebut kekuasaan.

Ahmadiyah tidak mempunyai tujuan-tujuan politik. Ahmadiyah dilahirkan dengan tujuan hendak memperbaiki kehidupan agama dari pada orang-orang Islam serta mengkonsolidir mereka sehingga mereka bersatu-padu untuk dapat mengkonfrontir musuh-musuh Islam dengan senjata-senjata akhlak dan kerohanian. Berpedoman kepada cita-cita inilah muballigh-mubalIigh Ahmadiyah pergi ke Amerika. Orang-orang Amerika memperlakukan mereka seperti halnya perlakuan orang-orang Amerika itu terhadap bangsa Asia. Akan tetapi sepanjang hal yang menyangkut urusan keagamaan mereka tidak menentang. Perlakuan Belanda di ndonesia dahulu, juga seperti itu. Ketika mereka menyadari, bahwa Ahmadiyah tidak bersangkut-paut dengan urusan politik - walaupun dengan secara tidak terang-erangan mengadakan pengawasan yang keras - mereka pikir tidak perlu untuk menentangnya secara terbuka. Sikap mereka ini benar.

Kami melancarkan tabligh yang bertentangan dengan agama mereka. Oleh karena itu kami tidak mengharapkan simpati dari mereka. Akan tetapi oleh karena kami, dalam rusan politik, tidak secara langsung bertabrakan dengan mereka, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk menentang kami secara langsung. Buahnya ialah.sekarang Jema'at Ahmadiyah berdiri hampir di tiap-tiap negeri. Jema'at Ahmadiyah terdapat di Swiss, Jerman, Inggeris, Amerika Serikat, INDONESIA, Malaysia, Afrika Timur dan Selatan, Abesinia, Argentina. Pendek kata di tiap-tiap negeri terdapat Ahmadiyah dalam jumiah yang besar atau kecil, yang terdiri dari penduduk aselinya. Tidaklah benar, bahwa yang masuk dalam Jema'at Ahmadiyah itu orang-orang Hindustan yang menetap disana.

Dan mereka sedemikian tulusnya, sehingga mereka bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentingan Islam. Seorang letnan yang berkebangsaan Inggerjs telah mewakafkan (mendedikasikan) dirinya dan kini sedang mengembangkan kariernya yang baru, selaku muballigh di negeri Inggeris. la sudah .mengerjakan semhahyang lima waktu. menjauhi minuman keras. Dengan jalan berusaha dan mencari nafkah sendiri ia menerbitkan brosur-brosur dan sebagainya dan mengadakan pertemuan-peftemuan. (Untuk menunjang penghidupannya kami berikan nafkah kepadanya berupa uang dalam jumlah yang amat kecil. Seorang tukang sapu jalan di Inggeris pun berpenghasilan lebih baik dari pada jumlah itu.

Demikian juga halnya seorang bangsa Jerman telah mewakafkan dirinya. la pun seorang bekas perwira militer. Dengan bersusah payah ia berhasil meloloskan diri dari negerinya. Baru-baru ini saya mendapat keterangan, bahwa ia sedang mengusahakan visa guna kedatangannya ke Pakistan. Di dalam hati pemuda ini berkobar-kobar semangat untuk mengkhidmati Islam. Karena itulah ia bermaksud datang ke Pakistan untuk mempelajari Islam sedalam-dalamnya agar kernudian ia bisa bertabligh di negeri lain.

Ada lagi seorang bangsa Jerman - seorang pengarang dan isterinya yang terpelajar, menyatakan keinginan mereka untuk mewakafkan diri dan dalam waktu yang dekat ini mungkin akan mengambil kepastian untuk datang ke Pakistan guna memperdalam pelajaran agama Islam.

Demikian juga seorang pernuda Belanda telah menyampaikan keinginannya untuk mewakafkan diri bagi Islam dan kita harapkan agar ia selekas mungkin diaktifkan untuk menyebarkan Islam ke salah satu negeri.

Benar Jema'at Ahmadiyah ini sedikit jumlah orangnya, akan tetapi hendaknya diperhatikan, bahwa dengan perantaraannya kini sedang dibangun satu Jema'at Islami, aggauta-anggauta yang sedikit atau banyak terdapat ditiap-

tiap negeri itu diikut-sertakan untuk sama-sama meletakkan dasar persatuan yang universal. Di dalam Jema'at ini tergabung sedikit atau banyak orang penganut dari berbagai aliran politik. Gerakan semacam ini selamanya mulai

dari kecil tetapi akan tiba saatnya bila ia memperoieh kekuatan dengan cepat. Dalam waktu yang tidak lama ia akan berhasil dalam usahanya menanam bibit persatuan dan persemakmuran. Hal ini nyata, bahwa untuk kekuatan politik diperlukan partai-politik dan untuk kekuatan agama dan akhlak diperlukan Jema'at yang bercorak keagamaan dan akhlak. Atas dasar inilah Jema'at Ahmadiyah mengisolir dirinya dari urusan politik, karena apabila ia mencampuri

urusan ini, maka ia akan menjadi lalai dalam melaksanakan urusannya sendiri.

PROGRAM JEMA'AT AHMADIYAH

Masalah yang kedua berhubungan dengan program atau rencana kerja. Mengenai hal ini pun Jema'at Ahmadiyah mempunyai satu program bersama, sedangkan tidak ada satu Jema'at lain mempunyai serupa ini. Jema'at Ahmadiyah di tiap-tiap negeri melancarkan perlawanan yang sengit dengan segala kewaspadaannya terhadap serangan-serangan dari kaum Kristen. Dewasa ini bagian dunia yang terlemah dan dalam beberapa hal terkuat adalah benua Afrika kaum kristen pada saat ini telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk menanam pengaruhnya di Afrika. Dengan terang-terangan mereka sekarang menyatakan maksud dan tujuannya. Mulanya hanya terbatas di kalangan padri saja yang menaruh perhatian ke sana, kernudian timbul minat pada Partai Konservatif (Conservative party) kerajaan Inggeris dan sekarang Partai Buruh (Labour Party)-nyatelah mengumumkan, bahwa keselamatan Eropa sekarang tergantung kepada kemajuan dan kedaulatan Afrika. Akan tetapi Eropa berpendapat, bahwa kemajuan dan kedaulatan Ini baru akan berfaedah kepada Eropa apabila seluruh penduduk Afrika memeluk agama Kristen. Rahasia ini sudah tercium oleh Ahmadiyah semenjak dua puluh empat tahun yang lalu dan segera pada saat itu juga mengirimkan muballighnya kesana. Dengan tindakan yang cepat ini ribuan orang-orang yang tadinya memeluk agama Kristen telah keluar dari agama itu, kemudian memeluk agama Islam.

Dewasa ini hanya Jema'at Ahmadiyah satu-atunya Jema’at Islam yang paling terorganisasi. Orang-orang Nasrani mulai menghindarkan diri untuk berhadapan dengan Ahmadiyah. Di dalam karangan-karangan mereka berturut-turut dinyatakan mereka hal ini, bahwa Jema’at Ahmadiyah telah menggagalkan usaha dan daya-upaya padri-padri. Kegiatan tabligh ini di Afrika Barat juga telah berlangsung semenjak bertahun-tahun. VValaupun di wilayah itu kegiatan-kegiatan baru menginjak taraf permulaan dan oleh sebab itu hasilnya tidak begitu gemilang seperti hainya di Afrika Timur, akan tetapi meskipun demikian sudah mulai beberapa orang Kristen masuk Islam. Mudah-mudahanlah di dalam beberapa tahun lagi di sini juga para muballigh kami dapat menunjukkan hasil-usaha yang amat gemilang.

Di Indonesia dan Malaysia pun sudah sejak lama berdiri missi Ahmadiyah yang giat berusaha mengurungkan niat orang-orang yang hendak melarikan diri dari Islam, lalu mengumpulkan dan mempersatukan mereka untuk menghadapilawan.

Di antara negara-negara Kristen, Amerika Serikat terhitung yang terkuat. Disana pun sejak dua puluh empat tahun yang lalu muballigh Ahmadiyah beroperasi dan ribuan penduduk Amerika telah menjadi Ahmadi. Mereka tiap-tiap tahun membelanjakan ribuan dollar untuk keperluan tabligh Islam. Jika dibandingkan dengan kekayaan yang melimpah ruah di Amerika maka jumlah ini tidak seberapa artinya, Begitu pula jika dibandingkan dengan kegiatan padri-padri di sana, maka daya upaya mereka kerdil sekali. Tetapi pokoknya perlawanan sudah kami mulai dan berangsur-angsur kemenangan ada di fihak kami. Buktinya, kami dapat memboyong orang-orang dari ummat Nasrani itu dan masuk ke dalam lingkungan kami, sebaliknya tidak seorang pun dari orang-orang kami yang tertarik oleh mereka.

Jadi hendaknya jangan mengatakan, bahwa mengapa Ahmadiyah telah mendirikan Jema'at baru, tapi katakanlah, bahwa Ahmadiyah telah mendirikan Jema'at, yang sebelumnya tidak ada. Apakah hal ini patut dicela ataukah patut dihargai?

MENGAPA AHMADIYAH MENGISOLIR DIRINYA?

Sebagian orang menyatakan, bahwa apa perlunya sesuatu Jema'at semacarn itu didirikan. Padahal cita-cita semacam itu (seperti diterangkan di atas) dapat dibangkittkan di dalam tubuh seluruh ummat Muslimin sedunia.

Jawabnya secara logika ialah, seorang panglima hanya dapat mengirimkan mereka ke medan perang, yaitu orang-orang yang sudah mendaftarkan diri sebagai tentara. Bagaimana bisa orang yang tidak mendaftarkan diri dikirimkan? Kalau sekiranya Jema'at tidak didirikan, maka kepada siapakah beliau (pendiri Jema'at Ahmadiyah) dan para Khalifah beliau akan meminta tenaga dan kepada siapakah akan memberi perintah?

Apakah beliau harus ke luar masuk lorong dan pasar, lalu memegang tiap-tiap orang Musiim dengan mengatakan, sekarang di tempat anu perlu tenaga untuk menyebarkan Islam. Orang-orang itu menjawab, bahwa kami tidak bersedia melaksanakan perintah anda. Kemudian beliau pergi lagi untuk mencari orang dan beliau mendapat sambutan dingin pula. Sudah logis, bahwa apabila orang hendak meIaksanakan suatu pekerjaan yang besar, maka untuk maksud itu diperlukan untuk membentuk satu organisasi. Tanpa demikian tak mungkin suatu pekerjaan yang besar itu dapat dilaksanakan.

Jika dikatakan bahwa, boleh saja mendirikan organisasi atau Jema'at, tapi hendaknya mengadakan kerjasama dengan orang lain. Jawabnya ialah, tidak setiap orang bersedia untuk melakukan pekerjaan yang sulit dan meminta risiko

jiwa. Pekerjaan semacam itu hanyalah sanggup dikerjakan oieh orang yang gila. Orang-orang gila perlu dipisahkan dari orang-orang yang waras otaknya. Seandainya orang-orang yang waras otaknya hendak menjadikan “orang-orang

gila" seperti mereka juga, maka siapakah yang akan mengerjakan pekerjaan yang maha-besar semacam itu?

Selain dari itu sikap memencilkan diri ini, dengan sendirinya akan menimbulkan satu keheranan fihak lain, sehingga mereka akan mulai mengusut dan mencari-cari keterangan, tetapi mereka pada suatu ketika akan menjadi mangsa juga dan apa yang mereka usahakan untuk menghapuskannya.

Jadi segala tuduhan-tuduhan itu hanya merupakan ekor daripada kepicikan belaka. Jika orang mempergunakan fikirannya, maka dia akan mengerti, bahwa cara yang diambil oleh Ahmadiyah inilah yang benar. Dengan cara demikian Ahmadiyah dapat membangun satu Jema'at yang terdiri dari orang-orang yang bersedia berkorban untuk Islam. Selama ia mengikuti cara ini, hari demi hari jumlah anggautanya akan terus bertambah, sehingga suatu waktu akan dirasakan oleh musuh, bahwa sekarang Islam sudah mendapat kekuatan. Ketika mereka akan mengumpulkan segenap kekuatannya untuk menggempur Islam, akan tetapi timing (baca: taiming)-nya atau waktunya yang baik untuk; mengadakan serangan itu sudah berlalu. Medan pertempuran akan dikuasai oleh Islam dan musuh akan menderita kekalahan. '

Kami tidak menaruh batu penghalang di atas jalan perjuangan kaum politisi. Kami berkata kepada mereka bahwa apabila mereka belum memahami cita-cita kami, mereka kami persilahkan untuk terus berjuang. Akan tetapi kami pun mengharap kepada mereka, agar mereka janganlah merintang-rintangi jalan kami. Jika seseorang mendapat satu kesimpulan, bahwa cara yang ditempuh oleh mereka itu benar, maka ia akan menggabungkan diri kepada mereka. Jika seseorang mendapat satu kesimpulan, bahwa cara yang kami tempuh ini benar, maka ia akan menggabungkan diri kepada kami. Kalau cara yang ditempuh oleh mereka, meminta tidak begitu banyak pengorbanan malah memberikan banyak kemasyhuran, maka cara yang kami tempuh, meminta banyak sekali pengorbanan tapi kemasyhuran kurang. Mereka tetap memperoleh bagiannya dan kami pun tetap mempunyai bagian kami.

Barang siapa yang mempunyai pandangan bahwa, mengingat beberapa kenyataan, kebangunan Islam sangat diperlukan, ia akan datang menggabungkan diri kepada kami. Barangsiapa yang memuja kecemerlangan dari kerajaan lahir, ia akan pergi mendapatkan mereka. Akan tetapi apa gunanya kita bersengketa dan berhantaman. Kedua-duanya sama-sama menanggung derita untuk tujuan masing-masing, walaupun penanggungan sakit dan lara itu diterima oleh bagian tuhuh yang berlainan. Mereka menderita pada otak mereka dan kami menderita kepedihan hati.

Inilah jawaban saya dari segi akal. Sekarang saya hendak memberikan jawaban dari segi rohaniah, yang menurut hemat saya, merupakan satu-satunya jawaban yang jitu.

TINJAUAN SEGI KEROHANIAN

Jawaban secara rohaniah mengenai masalah ini ialah, bahwasanya Allah swt. semenjak purbakala menjalankan tradisi begini, bahwa manakala dunia dirongrong oieh niacain-niacam keburukan dan immoralitas-immoralitas mcnjauhkan diri dari nilai-nilai ruhani - manusia lebih mementinigkan urusan keduniawian daripada urusan agama, maka Albih swt. selàlu mengirimkan seorang yang terpilih di antara hamba-hambaNya untuk membimbing mereka yang tersesat, supaya kembali kepadaNya lagi dan agar supaya agamaNya yang pernah diturunkan ke dunia bisa hidup kembali. Sewaktu-waktu orang-orang yang diutus Allah ini membawa syariat dan sewaktu-waktu mereka datang untuk menghidupkan kembali syariat yang lama. Mengenai sunnat Allah swt. ini, Qur-an Karim dengan secara luar biasa menekankan dan berulang-kali Qur-an Karim meminta perhatian ummat manusia untuk mengenal Kernurahan dan Karunia Allah Taala ini.

Tidak syak lagi, bahwa Allah swt. menempati satu martabat yang Maha Tinggi dan kebalikannya jika dibandingkan dengan martabat Allah itu. martabat insan lebih buruk lagi dari seekor ulat. Akan tetapi juga tiada syak lagi, bahwa segala pekerjaan Allah swt. mengandung penuh hikmat dan tak ada satu pekerjaan yang dilakukanNya tidak bersebab dan tanpa faedah.

Allah swt. berfirman di dalam AI-Qur-an Karim :

"Dan tidak kami jadikan langit dan burni ini dan segala apa

yang ada di antara keduanya percuma begitu saja ".

Maksudnya ialàh, bahwa Tuhan tidak begitu saja menjelmakan langit dan bumi ini, bahkan di dalam penjelmaannya terdapat maksud, dan maksudnya ialah, bahwa manusia hendaknya memanifestasikan segala sifat Allah Taala. Dan sesudah menjadi mazharNya atau bayanganNya, ia berdaya upaya untuk mengenaI-Nya langsung.

Semenjak zaman purbakala hingga kini, Allah swt. telah mengutus macam-macam orang yang menjadi mazharNya pada masa-masa yang berlainan. Pernah Allah swt. menjelmakan sifatNya dengan perantaraan Adam a.s., pula pernah menjelma dengan perantaraan Nuh a.s., pernah menjelma di dalam jisim lbrahim as. pernah menampakkan perantaraan jisim Daud as. pernah Musa a.s. menampakkan wajah Allah Taala ke dunia ini, dan pernah Isa Almasih a.s. Menjelmakan di dalam dirinya cahaya demi cahaya llahi. Yang terakhir dan yang maha - sempurna ialah Muhammad Rasulullah saw. yang menjelmakan ke dunia ini segala sifat Allah swt. dengan cara menyeluruh dan secara terperinci, dalam bentuk individual maupun secara kolektif. Begitu cemerlangnya dan begitu agungnya sifat-sifat Allah swt. menjelma ke dunia sehingga seakan-akan wujud dari Rasulullah saw. itu bagaikan matahari dan wujud para nabi yang terdahulu itu Iaksana setabur bintang-bintang belaka. Sesudah Rasulullah saw. semua syariat sudah habis dan segala jalan bagi para

nabi pembawa syariat sudah tertutup. Bukanlah karena berfihak atau karena sesuatu pertimbbangan, bahkan kami katakan demikian oleh karena justru Rasulullah saw. telah membawa satu syariat yang demikian rupa hingga mencumponi (memenuhi) seluruh kebutuhan dan seluruh hasrat keinginan Allah swt. telah menyempurnakan janjiNya dan melaksanakan maksudNya. Akan tetapi tidak ada jaminan mengenai manusia, bahwa ia tidak akan meninggalkan atau menyeleweng dari jalan yang benar dan tidak akan melupakan pelajaran yang suci. Allah swt. dengan jelas berfirman dialam AI-Qur-an (Assajdah : 6):

"Allah Ta’ala merencanakan pekerjaan ini dari langit kebumi kemudian.naik kembali kipadaNya pada hari yang jangkanya seribu tahun menurui perhitungan kamu ".

Maksudnya ialah, bahwa Allah swt. akan menurunkan KalmnNya yang terakhir dan syariatNya yang terakhir ini dari langit ke bumi. Tantangan manusia tidak akan menghambat rencana ini. Akan tetapi kemudian sudah lewat satu masa, Kalam atau FirmanNya ini mulai naik ke langit dan dalam seribu tahun FirmanNya akan menjauh dari alam dunia ini.

Seperti telah diterangkan di dalam Hadith di atas, Rasulullah saw. menetapkan jangka waktu tiga ratus tahun untuk masa kemurnian agama Islam, dan AI-Qur-an juga menetapkan zaman itu dengan abjad Alif-Lam-Mim-Ra yang mempunyai nilai angka (Dua ratus tujuh puluh satu (271 tahun). Jika angka ini dijumlahkan dengan seribu tahun, dalam jangka waktu mana "agama terbang ke langit" (masa kemunduran agama Islam) maka jumlah itu menjadi 1271. Hal ini berarti bahwa hilangnya jiwa atau ruh dan agama Islam, menurut keterangan AI-Qur-an, ialah pada tahun 1271 atau menjelang akhir abad ketiga belas. Biasanya di dalam zaman seperti itu, seperti diterangkan oleh AI-Qur-an, seorang juru penerang dan Pembimbing pasti diutus oleh Allah swt., agar supaya dunia senantiasa bebas dari gangguan belenggu Syaitan dan agar supaya pemerintahan llahi jangan tenggelam untuk selama-lamanya. Jadi di masa sekarang ini kedatangan seseorang yang diutus oleh Allah swt. semacam itu merupakan satu kebutuhan.

Satu masa ketika di tengah-tengah masyarakat ummat Nabi Nuh a.s. timbul keadaan krisis, maka Allah swt. Segera membimbing mereka. Demikian juga bila keadaan semacam itu timbul di tengah-tengah ummat Nabi lbrahim AS., Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s., Allah swt. memberikan bimbingan kepada ummat-ummat itu. Akan tetapi tak sampai di akal, bahwa bila timbul krisis di tengah-tengah ummat Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw. Allah swt. tidak berkenan untuk memperbaiki ummat ini.

Berkenaan dengan ummat Rasulullah saw. ada suatu. perjanjian dari Allah swt. bahwa untuk mengamankan kekacauan kecil-kecilan, Allah swt. akan selalu mengutus seorang Pernbaharu (Mujaddid) pada permulaan tiap-tiap abad.seperti sabda Rasulullah saw. (Abu Daud.Jilid 2,halanan 241) :

"Selungguhnya Allah Taala akan mengutus untuk ummat ini pada tiap permulaan seratus tahun, orang-orang yang akan membaharui agama mereka bagi mereka ".

Akal tidak menerima, hahwa justru pada saat ini di kala timbulnya krisis yang dahsyat, tentang mana Rasulullah saw. bersabda, bahwa semenjak para anbia mulai diutus kedunia, mereka semuanya memberi khabar, tetapi tak seorang pun Utusan Allah dan tiada pula seorang Juru penerang atau seorang Pembimbing yang datang. Tiada pula masuk di akal, bahwa untuk menghimpunkan segenap kaum Muslimin agar supaya mereka kembali berdiri di atas landasan agama yang hakiki, tak ada terdengar suara yang memanggil-manggil dan menghimbau-himbau mereka. Mustahillah, bahwa tak ada "seutas tali terulur dari langit" untuk mengangkat kaum Muslirnin ke luar dari jurang kegelapan dan lembah kemunduran.

ltu Tuhan yang semenjak la ciptakan alam persada ini senantiasa mempertunjukkan sifat PengasihNya dan sifat PenyayangNya, telah mengutus Rasulullah saw. ke dunia. Dengan demikian la telah melipatgandakan desakan arus sungai Rahim dan KarimNya, bukannya telah mematikan Sifat-SifatNya ltu. Apabila dahulu Allah Taala pernah berIaku Kasih, maka la seyogyanya lebih menunjukkan KasihNya kepada ummat Muhammad. Apabila dahulu la pemah berlaku sayang, maka la seyogyanya lebih memperlihatkan sayangNya terhadap ummat Muhammad. Dan memang demikianlah nampak pada kenyataannya.

Qur-an Karim dan Hadits menjadi saksi tentang hal ini, bahwa manakala nampak gejala krisis di dalam ummat Muhammad, maka Allah swt. senantiasa mengutus seorang Penggembala. Istimewa pula pada zaman akhir ini, ketika nampak gejala Fitnah Dajjal, maka kemenangan bagi agama Kristen, kekalahan secara lahir bagi agama Islarm dan kaum Muslimin meninggalkan ajaran agama mereka lalu mengekor kepada kebiasaan dan tradisi dari bangsa yang lain, maka seorang mazhar yang utama dari pribadi Rasulullah saw. akan datang dengan tugas untuk mengadakan reformasi atau mengadakan perbaikan di zaman itu. Tentang zaman itu Rasulullah saw. bersabda : (Misykat, halaman 33) :

Maksudnya ialah, bahwa Islam akan tinggal hanya nama dan Qur-an akan tinggal hanya tulisan belaka.

Hikmat inti dari pelajaran Islam tidak akan nampak dan arti dari ayat-ayat Qur-an akan menjadi gelap? atau samar-samar.

Pendek kata, wahai saudara-saudara! Sesungguhnya Jema'at Ahmadiyah ini berdiri sejalan dengan Sunnat llahi dan sesuai dengan nubuwatan-nubuwatan (khabar ghaib-khabar ghaib) dari Rasulullah saw. dan para nabi sebelum beliau, yang menerangkan tentang zaman ini. Andaikata terpilihnya Hadhrat Mirza Ghulain Ahmad guna memikul tugas seperti dipaparkan di atas tidak cocok, maka kekeliruan ini adalah atas tanggungan Allah swt. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tidaklah benar. Akan tetapi jika sesungguhnya Allah swt. itu satu Zat Yang Maha Mengetahui tentang segala yang ghaib dan bagiNya tidak ada rahasia yang tersembunyi, dan di dalam segala amal perbuatanNya terkandung hikmat yang berlimpah-limpah, maka baiklah diketahui, bahwa pilihanNya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad itu adalah pilihan yang tepat dan dengan menerima beliau ini kebaikan akan datang kepada kaum Muslimin khususnya dan kepada masyarakat dunia umumnya.

Beliau tidaklah membawa amanat yang baru, melainkan amanat itu yang dahulu pernah disampaikan oleh Rasulullah saw. ke dunia dan yang dunia telah melupakannya. Amanat yang dikernukakan oleh AI-Qur-an itulah, yang dunia telah membelakanginya. Amanat itu mengatakan, bahwasanya Pencipta dari alam mayapada ini adalah satu Zat Yang Maha Esa. Dia telah menjelmakan insan untuk mewujudkan KecantikanNya dan SilaturrahimNya. Guna memamerkan Sifat-SifatNya, la menjelmakan manusia untuk menjadi perantara, seperti firmanNya (Al-Baqarah : 31):

"Ketika Tuhan engkau berkata kepada malaikat, sesungguhnya Aku akan menjadikan di atas muka bumi ini seorang wakil pribadi-Ku (Khalifah)”.

Jadi Nabi Adam a.s. beserta keturunannya adalah merupakan khalifah atau wakil dari Allah swt. Mereka itu di jelmakan untuk memanifestasikan Sifat-Sifat Allah Taala kedunia. Maka jadilah kewajiban bagi segenap ummat manusia, agar mereka membentuk kerangka kehidupan mereka sesuai dengan Sifat-Sifat Allah swt. itu. Sebagaimana seorang wakil selalu harus menyesuaikan segala tindak-tanduknya kepada kemauan orang yang diwakilinya, dan sebagaimana seorang pesuruh sebelum ia melaksanakan suatu pekerjaan yang baru baginya, ia harus meminta petunjuk dan majikannya, demikianlah pula kewajiban manusia ialah harus mengadakan perhubungan sedemikian rupa, sehingga Allah swt. Selalu memberikan bimbingan dalam tiap-tiap langkah dan tiap tiap pekerjaannya, dan ia harus mencintai Allah swt. Lebih dari pada kecintaannya kepada segala macam benda, dan didalam segala macam urusan ia serah-sumerah kepada kebijaksanaanNya.

Untuk meyakinkan terhadap kewajiban inilah Hadhrat Masih Mau'ud as. datang ke dunia ini. Tugas beliau ialah untuk menarik orang-orang yang berkecimpung dalam urusan keduniawian supaya menjadi orang-orang yang beragama, untuk mendirikan takhta kerajaan Islam di dalam hati sanubari manusia dan menempatkan kembali wujud Nabi Muhammad Rasulullah saw. di dalam mahligai kerohanian mereka, yang kebalikannya sedang terus menerus digempur oieh kekuasaan Syaitan - dari luar dan dalam - untuk menurunkan beliau dari mahligai kerohanian mereka itu.

Langkah pertama untuk mewujudkan maksud dan tujuan ini, Hazrat Masih Mau'ud BJ. memperingatkan kaum Muslimin terhadap pentingnya isi, dan bukannya kepada kulit. Dalam hal ini beliau menekankan, bahwa hukum yang zabir (ekstern) pun amat pentingnya, akan tetapi tanpa adanya jiwa, kemajuan tidak akan dapat dicapai. Oleh sebab itu beliau mendirikan sebuah Jema'at dan di dalam perjanjian bai'atnya ditetapkan sebuah syarat, bahwa siapa-siapa yang masuk ke dalam Jema'at ini harus berikrar, bahwa

"Saya akan mendahulukan kepentingan agama dari pada urusan dunia. "

Pada hakekatnya, penyakit inilah yang melumpuhkan kaum Muslimin, yang tak ubahnya seperti bubuk (rayap?) makan kayu. Sekalipun kemuliaan dunia sudah terlepas dari haribaan mereka, tetapi mereka masih juga mendambakan dunia. Dalam tanggapan mereka, kejayaan Islam itu berarti ia menguasai kerajaan. Di dalam khayalan mereka kemajuan Islam itu berarti nampaknya kemajuan di bidang pendidikan dan perekonomian dan orang-orang yang mengaku beragama Islam. Padahal Rasulullah saw. datang ke dunia ini tidak dengan maksud agar orang-orang (cukup) mengaku di mulut saja jadi Muslimin, supaya jadi Muslimin sejati, yang berkwalitas seperti oleh Qur-an digambarkan dengan perkataan (Al Baqarah:. 113):

yang maksudnya, bahwa ia punya wujud semuanya diserahkan kepada Allah Taala dan hasrat keduniaannya tunduk kepada hasrat keagamaannya. Nampaknya hal ini adalah suatu hal yang lumrah, akan tetapi pada hakekatnya di sinilah letak perbedaannya antara Islam dan agama-agama yang lain.

Islam tidak mencegah orang-orang mencari kekayaan, ilmu, memajukan perniagaan, perindustrian dan pertanian atau berjuang untuk memperkokoh kedudukan negara dan bangsanya. Islam hanya semata-mata bercita-cita merombak jalan pikiran manusia.

Tujuan dan usaha manusia di dunia ini mempunyai dua macam corak. Yang satu bertujuan hendak memperoleh isi dengan melalui kulit dan yang lainnya bartujuan hendak meroperoleh kulit dengan melalui isi. Siapa-siapa yang mengharapkan untuk mencapai isi melalui kulit tidaklah dapat.dipastikan, bahwa dalam usahanya itu akan berhasil, bahkan keseringannya kegagalanlah yang dijumpainya. Akan tetapi siapa-siapa yang bertujuan untuk mendapat isi, dia akan memperoleh kulitnya juga.

Rasulullah saw. beserta para pengikutnya telah berjuang demi untuk agama, akan tetapi tidaklah berarti, bahwa mereka tidak merasakan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Ini merupakan hal yang wajar, bahwa kemewahan dunia berlari lari seperti kacung-kacung mengikuti di belakang mereka yang memperoleh sukses dalam lapangan agama. Akan tetapi tidaklah merupakan satu syarat bagi orang untuk memperoleh sukses dalam agama itu dengan merintis akan keduniawian. Seringkali mereka yang menjalankan praktek semacarn itu gagal, bahkan imannya yang ada padanya pun seringkali berceceran lepas dari tangannya.

Jadi Hadhrat Masih Mau'ud dengan perintah Allah swt. telah membelokkan perhatian dunia ke arah agama sambil mengikuti jejak langkah para nabi yang dahulu. Di masa beliau dalam kalangan Muslimin terdapat dua macam aliran. Aliran pertama berpendirian, bahwa kaum Musiimin sudah lemah keadaannya, oleh karena itu kaum Muslimin harus berusaha untuk memperoleh kekuasaan dunia. Aliran yang kedua, digerakkan oleh beliau, mengatakan, bahwa manusia harus kernbali kepangkuan agama dan konsekwensinya pasti. bahwa Allah swt. dengan sendirinya akan memberikan kemuliaan dunia juga.

Adakalanya orang beranggapan salah, bahwa gerakan yang dicetuskan beliau adalah sama seperti gerakan-gerakan Sufi dan lain-lainnya, yang mementingkan ibadah sembahyang dan puasa kepada para pengikutnya yang saleh dan membuat mereka seperti gadis-gadis pingitan duduk menyendiri dan menyepi di kamar peribadatan. Jika seandainya beliau demikian, maka beliau menganjurkan untuk memperoleh kulit dengan jalan isi. Tetapi tidaklah sekali kali beliau berbuat demikian. Manakala beliau menekankan arti hukum agama, beliau pun menekankan pula hal ini. bahwa agama itu diadakan oleh Allah swt. ialah untuk mencerdaskan akal-fikiran manusia. Beliau bersabda, bahwa barangsiapa yang menjalankan agama dengan kesungguhan hati dan tanpa pretensi atau dibuat-buat, maka agama itu membentuk di dalam dirinya suatu budi yang luhur serta menimbulkan suatu daya untuk berbuat amal dan menumbuhkan semangat pengorbanan. Beliau menganjurkan agar supaya orang-orang Mu 'min menjalankan agama dengan sebenar-benarnya melakukan ibadah sembahyang, puasa. naik haji ke Tanah Suci Mekkah,dan membayar zakat yang kesemuanya harus dijalankah sesuai dengan apa yang digariskan oleh AI-Qur-an. Qur-an Karim tidak menghendaki sembahyang yang berupa demonstrasi gerakan-gerakan jasmani belaka, tidak menghendaki puasa yang hanya untuk menderita lapar semata, meninggalkan kampung halaman tanpa ada faedahnya dan membayar zakat sebagai suatu penghamburan harta belaka.

Tentang sembahyang dikatakan oleh AI-Quran (Al Ankabut : 46) :

"Sembahyang itu menghalangi manusia daripada berbuat kejahatan dan perbuatan yang terlarang".

Jadi, sembahyang yang tidak menghasilkan buah seperti diterangkan oleh AI-Qur-an itu bukanlah sembahyang namanya.

Adapun berkenaan dengan puasa AI-Qur-an Suci telah mengatakan "La'allakum tattaqun", yakni ibadah puasa itu ditetapkan untuk supaya di dalam jiwa manusia tertancap ketakwaan dan budi pekerti yang luhur. Jadi, apabila orang mengerjakan puasa, tapi buah dari pada ibadah itu tidak tercapai, maka hal itu maknanya niatnya tidak lurus, dan tidaklah ia mengerjakan puasa, melainkan penganiayaan pada diri sendiri dengan mengosongkan perut. Tuhan tidak membutuhkan dari manusia pengosongan perut.

Mengenai naik haji ke tanah suci Mekkah, Allah swt. befirman, bahwa ibadah ini merupakan suatu media (perantara) untuk menumpas pikiran-pikiran degil dan menjauhkan perselisihan-perselisihan. Jadi maksud daripada ibadah haji itu ialah untuk menghentikan kebiasaan dari (mengeluarkan ucapan-ucapan kotor, perbuatan keji dan perselisihan.

Tentang zakat Allah swt. berfirman (At Taubah: 103):

"Ambillah zakat dari harta benda mereka supaya dengan ini membersihkan dan mensucilkan mereka".

Maksudnya ialah. ditetapkannya zakat itu gunanya untuk menciptakan kesucian pada tiap individu dan masyarakat, serta untuk membersihkan rasa dan cita.

Jadi selama buah daripada ibadah-ibadah itu belum tercapai, maka penunaian ibadah haji dan membayar zakat itu hanyalah merupakan pamer belaka. Masih Mau'ud as. berkata, dirikanlah sembahyang, kerjakan puasa, pergilah naik haji, bayarlah zakat akan tetapi ibadah-ibadah itu baru akan diterima, apabila buah-buah ibadah itu tercapai dan engkau terhindar dari perbuatan-perbuatan keji dan terlarang, lagi pula di dalam diri engkau menjelma ketakwaan, engkau dengan secara mutlak menjauhkan diri dari kebiasaan omong kotor, perbuatan keji dan perselisihan, dan engkau mencapai kesucian pribadi dan masyarakat serta mencapai kebersihan rasa dan cita.

Akan tetapi orang-orang, yang di dalam dirinya tidak mendapatkan buah-buah daripada ibadah-ibadah itu, aku tidak akan menganggap mereka dari lingkungan Jema'at, sebab mereka mementingkan hanya kulit dan tidak bertujuan mengambil isi seperti apa yang dimaksudkan oleh Allah Taala.

Demikian juga mengenai ibadah-ibadah lainnya beliau menekankan tujuan isi dan mengatakan, bahwa tidak ada suatu hukum peraturan yang dikeluarkan oleh Islam tanpa mengandung hikmat di dalamnya. Allah Taala tidak dapat diraba oleh tangan, tapi dapat dijamah oleh penginderaan cinta. Tujuan dari agama ialah bukan hanya menguasai atas panca indera lahir saja, melainkan manakala Dia memerintahkan mata dan tangan, hal ini dimaksudkan untuk membersihkan hati sanubari dan emosi-emosi, sehingga itu kekuatan-kekuatan yang bermukim di diri manusia, dengan mana ia dapat melihat Allah Taala dapat meraba Zat itu dengan sepuas-puasnya, dan daya-daya yang ada di diri manusia itu dapat menyimak suara llahi.

Pendek kata sambil menekankan pentingnya hal-hal tersebut di atas, beliau telah membuka jalan baru guna kemajuan Islam, dan konsekwensinya ialah berdirinya satu Jema'at yang meskipun nampaknya kecil, namun ia merupakan suatu Jema"at yang tekun dan gigih berjuang dengan mengenyampingkan urusan keduniaan untuk mendahulukan urusan agama dan untuk merintis kemajuan kerohanian dari pada Islam, serta menegakkan "kerajaan'' rohani dari Baginda Muhammad Rasulullah saw.

Silahkan saudara berfikir dan memperbandingkan antara Jema'at Ahmadiyah yang kecil ini dengan kaum Muslimin yang umum dengan jumlahnya yang besar itu. Kendati pun demikian apa yang sedang dikerjakan dan diperjuangkan oleh Jema'at Ahmadiyah dalam rangka penyebaran dan memajukan Islam merupakan tantangan, apakah dapat orang-orang Muslim lainnya yang bilangannya ribuan kali banyaknya itu melaksanakan setengahnya atau seperempatnya saja? Maka apakah yang menjadi pangkal perbedaannya? Sebabnya ialah tak lain. karena Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah menekankan kepada orang-orang Ahmadi agar mereka mengutamakan agama daripada dunia. Rahasia ini sudah terbuka kepada orang-orang Ahmadi, sehingga amalan mereka merupakan suatu bentuk amalan yang baru. Sembahyangnya seorang Ahmadi yang sejati tidak sama dengan sembahyang yang dikerjakan oleh orang-orang Muslimin yang umum. Padahal coraknya sembahyang mereka sama, begitu pula, pemakaian kata-katanya, akan tetapi yang berlainan

ialah isinya (jiwanya). Orang Ahmadi sembahyang demi untuk sembahyang dan guna mempererat perhubungan dengan Allah swt. Mungkin saudara bertanya, apakah orang Muslim yang lain mendirikan sembahyang tidak untuk mengadakan perhubungan dengan Allah swt? Jawab saya ialah, malanglah orang-orang Muslim dewasa ini. Karena mereka mempunyai anggapan, bahwa orang tidak dapat mengadakan perhubungan secara langsung dengan Allah swt. Sudah merata di kalangan kaum Muslimin menjalar kekeliruan faham demikian ini bahwa Tuhan kini tidak bercakap-cakap lagi dengan manusia dan kebalikannya manusia tidak dapat menyampaikan kata-katanya ke Hadirat Tuhan.

Sudah lebih dari seabad lamanya kaum Muslimin sudah mengingkari turunnya llham llahi. Tak ayal lagi, bahwa sebelum zaman kita ini, di tengah-tengah ummat Islam ada terdapat orang-orang yang mengakui turunnya Kalam llahi secara terus menerus. Bukan hanya mengakui turunnya bahkan mereka berani berkata, bahwa Tuhan telah bercakap-cakap dengan mereka. Akan tetapi seabad sudah berjalan kemalangan ini menimpa ummat Islam, bahwa mereka dengan secara terbuka menyatakan keingkaran mereka kepada turunnya terus-menerus Kalam llahi. Bahkan ada beberapa ulama yang menjatuhkan fatwa kufur - ke luar dari agama Islam - kepada orang yang mengemukakan pendapat bahwa llham llahi masih berlaku terus.

Hadhrat Masih Mau'ud as. tampil ke dunia dan dengan lantangnya menyatakan, bahwa Allah Taala bercakap-cakap dengan beliau dan bukan dengan diri beliau saja, bahkan Dia akan bercakap-cakap dengan orang-orang yang iman kepada beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para pengikut beliau agar mereka pun berusaha memperoleh nikmat serupa itu.

Beliau bersabda pula, bahwa sekurang-kurangnya lima kali sehari kaum Muslimin bersembahyang, di dalam mana mereka senantiasa memanjatkan do'a kehadirat llahi demikian :

"Ya Tuhan. tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan dari mereka yang Engkau telah anugerahi ni 'mat-ni 'mat. yak 'ni para anbia suci yang terdahulu ".

Maka tidaklah masuk di akal. bahwa do'a yang diucapkan berkali-kali itu selamanya tidak mempan dan Allah swt. sama sekali tidk membukakan jalan kepada siapa pun diantara kaum Musiimin, jalan yang telah dibukakan kepada para nabi yang terdahulu, dan la tidak berbicara kepada seorang pun seperti la selalu bicara kepada para nabi yang terdahulu. Dengan demikian beliau dengan secara radikal telah mendobrak perasaan apatis (sikap masabodo) yang bercokol dalanm hati kaum muslimin.

Saya tidak mengatakan tiap-tiap Ahmadi, tetapi dengan yakin saya katakan, bahwa tiap-tiap Ahmadi yang memahami maksud dari pada Hadhrat Masih Mau'ud as.. dengan sebenar-benarnya, tidak melakukan sembahyang sedemikian rupa seolah-olah ia mencumponi atau memenuhi suatu kewajiban. la melakukan sembahyang dengan pikiran seakan-akan hendak mengambil sesuatu dari Allah swt., ia pergi untuk memperbaharui perhubungan dengan Allah swt. Siapa-siapa yang mengerjakan sembahyang dengan niatan-niatan ini dapat memahami, bahwa sembahyangnya tidaklah dapat dipersamakan dengan sembahyang dari orang-orang lain. Beliau begitu rupa menekankan pentingnya untuk mengadakan perhubungan dengan Allah swt. sehingga beliau bersabda : untuk mengakui kebenaran da'wahku banyak sekali Allah swt. telah menunjukkan dalil-dalil, tetapi aku tidak akan mengatakan kepada kalian: "piikirkanlah dan renungkanlah dalil-dalil itu". Jika kalian tidak berkesempatan untuk memikirkan dan merenungkan dalil-dalil itu, atau tidak merasa perlu atau mungkin berpikir barangkali untuk mengambil keputusan dalam masalah ini akal kalian membuat salah, maka aku anjurkan mohon do'alah kepada Allah swt. mengenai diriku dan mintalah petunjukNya yakni apa bila hal ini benar maka tunjukilah dan apabila hal ini bohong belaka jauhkanlah. Beliau bersabda selanjulnya, bahwa apabila seseorang berdo'a semacam ini, dengan hati yang bersih dan tanpa terpengaruh oleh sekelumit kefanatikan, dalam beberapa hari saja pasti Allah swt. Membukakan pintu petunjukNya dan akan menampakkan kepadanya kebenaran beliau, Ratusan bahkan ribuan orang telah melakukan cara demikian dan mereka telah memperoleh cahaya kebenaran. Betapa logisnya dalil ini. Akal manusia bisa membuat kesalahan, akan tetapi Allah swt. tidak mungkin keliru dalam memberi petunjuk. Betapa meyakinkannya hal ini kepada orang yang mengemukakan kebenaran da’wanya ke hadapan khalayak dunia dengan saran untuk mengambil keputusan tentang kebenarannya dengan cara demikian. Apakah hal ini dapat dinamakan suatu kebohongan dari orang yang meyakinkan tentang kebenaran dengan mengatakan "menghadaplah ke Hadirat Tuhan dan tanyakan lentang diriku?" Apakah seorang pendusta dapat berfikir demikian, bahwa cara memutuskan begini akan menguntungkan dirinya? Orang sembarangan yang mengaku diutlis Tuhan, lalu berani-berani mengambil cara seperti disebutkan di atas untuk membuktikan kebenarannya, sama halnya seperti dia telah menjatuhkan hukuman terhadap dirinya sendiri dan seolah-olah ia mengayunkan kampak untuk memenggal kedua belah kakinya sendiri. Akan tetapi Hadrat Masih Mau'ud a.s. senantiasa mengemukakan kepada dunia bahwa ribuan-ribuan dalil tersedia untuk membenarkan beliau, namun beliau berkata, bahwa "apabila kalian tidak puas dengan dalil-dalil ini, janganlah mendengar perkataanku dan janganlah mendengar orang-orang yang menentangku, menghadaplah kepada Tuhan dan kepadaNya tanyakanlah bahwa apakah aku ini benar ataukah dusta. Apabila Allah swt. berkata, bahwa aku benar, maka apa gunanya menolak kebenaranku. Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Betapa tepatnya dan mudahnya cara untuk menguji kebenaran beliau ini. Ribuan orang telah mengambil faedahnya dari cara itu, dan semua orang yang sekarang hendak menjalankan cara demikian untuk menguji kebenaran beliau akan dapat mengambil faedahnya pula. Di dalam cara demikian itu sebenarnya beliau meletakkan hikmat, bahwa di dalam pandangan beliau agama itu lebih utama dari urusan keduniaan. Beliau bersabda bahwa unluk melihat benda-benda madiyah (materi), Allah swt. Telah menganugerahkan sepasang mata kepada manusia. Untuk mengerti seluk-beluk segala benda di dunia ini kepada manusia Allah swt. telah menciptakan matahari dan bintang-bintang.

Jadi bagaimanakah mungkin, bahwa Allah swt. tidak memberikan suatu cara untuk memperlihatkan petunjuk-petunjuk kerohanian. Niscaya apabila seseorang mempunyai hasrat untuk melihat benda-benda rohani, Allah swt. Membukakan jalan kepadanya, Allah swt. berfirman di dalam AI-Qur-an Karim (Al Ankabut : 70):

"Barangsiapa yang berjuang dengan maksud untuk bertemu dengan Kami kepadanya pasti Kami memperlihatkan jalan yang akan menyampaikannya kepada Kami".

Kesimpulannya ialah, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah membukakan jalan bagi Jema'at untuk mengutamakan agama daripada dunia dan begitu pula hal ini pun telah beliau kemukakan kepada orang-orang yang ingkar kepada beliau. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. PemerintahanNya, baik dalam alanm lahir maupun dalam alam batin, tetap masih berjalan. Adalah merupakan kewajiban .bagi tiap-tiap orang Mu'min untuk mengadakan perhubungan yang lebih erat dan mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Dia. Orang yang belum mendapat taufik untuk menerima petunjuk, baginya perlu agar ia memohonkan cahaya kebenaran dari Allah swt. dan meminta bantuanNya untuk berusaha sampai kepada kebenaran.

Jadit tugas dan amanat dari Hadhrat Masih Mau'ud a.s. pada pokoknya ialah untuk memperbaiki dunia, dan untuk mengembalikan perhatian ummat manusia kepada Tuhan, untuk menghidupkan keyakinan akan bertemu dengan Allah swt. dan untuk mengenali kehidupan seperti yang dialami ummat di zaman Nabi Musa a.s. Nabi Isa a.s. dan para nabi lainnya.

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Bacalah kitab-kitab (suci) yang lama, begitu pula periksalah tarikh para nenek moyang. Apakah para nenek moyang kita menjalani penghidupan mereka untuk tujuan-tujuan materi? Apakah mereka hanya mengandalkan pekerjaan mereka kepada usaha-usaha madiyah? Untuk memperoleh kecintaan Allah Taala siang malam mereka bersusah payah mengadakan usaha-usaha, dan di antara mereka ada yang telah mencapai sukses dan memperoleh mu'jizat dan pertanda-pertanda dari Allah swt. Penghidupan serupa inilah yang membuat mereka lebih terkernuka daripada kaum-kaum yang lain. Akan tetapi sekarang ini, hal apakah yang melebihkan kaum Muslimin daripada orang-orang Hindu, orang-orang Kristen dan orang-orang yang beragama lainnya? Jikalau tidak ada kelebihannya, maka guna apakah adanya Islam? Pada hakekatnya kelebihan itu memang ada, akan tetapi kaum Muslimiin telah melupakannya. Kelebihannya itu ialah, bahwa di dalam agama Islam, Kalamullah itu berlaku untuk selama-lamanya, dan senantiasa orang dapat mengadakan hubungan langsung dengan Allah swt. Demikianlah artian daripada kurnia yang datang dari wujud Nabi Muhammad saw. Arti kurnia dari beliau itu bukanlah memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) atau Sarjana (MA). Apakah tidak ada orang Kristen yang bergelar Sarjana Muda atau Sarjana? Berkat dari beliau bukan pula berarti, bahwa orang-orang Islam memiliki dan menjalankan proyek-proyek industri yang besar. Apakah orang-orang Kristen dan orang-orang beragama lain tidak memiliki perindustrian? Berkat dari beliau bukan berarti kita telah mendirikan gedung-gedung perniagaan yang besar dan kita telah berhasil mengadakan hubungan perdagangan dengan negara-negara lain. Inipun semuanya dikerjakan oleh orang-orang Hindu, Kristen, Yahudi dan dalam agama lain. Arti Barkat yang terbit dari wujud Rasulullah saw. ialah, bahwa dengan perantaraan beliau manusia dapat berhubungan langsung dengan Allah swt, hati sanubari manusia dapat melihat wajah Tuhan, jiwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan, ia dapat mendengar FirmanNya yang maha merdu, dan kepadanya nampak pertanda-pertanda dan mu'jizat-mu'jizat dari Allah Taala. Hal-hal inilah yang hanya didapat dengan jalan pengabdian kepada Rasulullah saw. dan hal-hal ini pulalah yang melebihkan pengikut-pengikut beliau dari ummat-ummat agama lain.

Pendek kata, ke tujuan inilah Hadhrat Masih Mau'ud as. mengarahkan perhatian kaum Muslimin. dan hal yang dikemukakan kepada orang-orang yang tidak mengakui beliau pun ialah, bahwa Allah swt. telah memberikan kepada beliau mutiara itu yang sudah hilang dan menganugerahkan harta pusaka itu yang telah tersia-sia.

Semua hal itu beliau dapat dengan perantaraan dan berkat ketaatan mengikuti Rasulullah saw; dan karena wujud Rasulullah beliau mencapai martabat semulia itu.

Di samping itu banyak lagi karya-karya yang telah dilaksanakan oleh Hadrat Masih Mau'ud a.s. walaupun karya-karya beliau termaksud sangat pentingnya dan amat agungnya, namun semuanya itu hanya merupakan embel-embel (subsider) belaka jika dibandingkan dengan tugas yang pokok itu, yakni mengutamakan agama daripada dunia bmw dan menundukkan materialisme dibawah kekuasaan rohani. Hal ini merupakan satu kepastian, bahwa dengan jalan inlah Islam akan menang dari agama-agama yang lain.

Di negeri mana kita berada, kita harus mempertahankan tanah air dengan menggunakan berbagai alat senjata. Kita dapat menundukkan sebagian dari musuh-musuh kita dengan jalan demikian. Akan tetapi suksesnya Islam untuk menguasai dunia ini ialah hanya akan dapat dengan cara kerohanian seperti yang telah diperingatkan oleh Hadrat Masih Mau’ud.

Apabila kaum Muslimin benar-benar memegang prinsip keagamaan mereka yang sejati, apabila mereka mengutamakan agama dari pada yang dunia-berana, apabila mereka mementingkan tujuan-tujuan kerohanian dari pada tujuan-tuluan materi, maka cara hidup yang cenderung ke arah foya-foya yang dewasa ini semakin populer di negeri kita ini karena pengaruh bangsa-bangsa Barat, akan dengan sedirinya hilang-lenyap. Dan orang-orang dengan spontan, tanpa disuruh orang lain, akan menghentikan cara hidup yang tidak berguna itu, lalu akan menjalani penghidupan yang bersungguh-sungguh (serious), lidahnya bertuah, dan jiran tetangganya akan mengambil teladan kepadanya, sehingga orang-orang yang beragama lain akan berkata seperti orang-orang Mekkah (dizaman Rasulullah saw.) berkata''Lau kanu Muslimin". "Betapa bagusnya kalau kitapun jadi Muslimin". Berkata demikian, lalu seperti orang-orang Mekkah pula, lambat laun ucapan mereka menjelma menjadi amalan dan pada akhirnya mereka menjadi orang-orang Islam, sebab siapa pun tidak dapat lama-lama menjauhi hal yang baik. Pada taraf pertama timbul suatu keinginan, lalu diikuti hasrat, kemudian datang suatu tarikan dan akhirnya manusia tanpa disadarinya menuju kearah benda itu. Demikianlah akan terjadinya sekarang. Mula-mula kecintaan kepada Islam akan menyelinap ke hati orang-orang Muslim, lalu mengalir keseluruh tubuh mereka, kemudian orang-orang yang belum memeluk agama Islam dengan sendirinya tidak akan segan-segan meniru kelakuan orang-orang Muslim paripurna itu. Dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang beragama Islam dan Islam akan menguasai seluruh dunia.

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Di dalam tulisan yang sekecil ini saya tak dapat memaparkan dalil-dalil secara terperinci, begitu pula saya tak dapat mengemukakan kepada anda segala sesuatunya mengenai tugas-suci dari Ahmadiyah. Yang saya hadapkan kepada saudara-saudara hanya secara garis besarnya saja tentang tujuan dan maksud Ahmadiyah. Saya berharap benar saudara-saudara akan merenungkan tulisan ini dan silahkan anda menimbang fakta ini, bahwa di dunia ini suatu pergerakan agama, bagaimanapun tidak akan berhasil mencapai kemenangan, apabila cara yang ditempuhnya hanya dengan jalan keduniaan saja. Kemenangan dari pergerakan-pergerakan agama selamanya dicapai hanyalah dengan jalan perbaikan batin, propaganda (tabligh) dan pengorbanan. Apa yang tidak pernah terjadi dalam urutan masa semenjak Nabi Adam a.s. hingga sediakala, sekarang pun tidak akan kejadian. Dengan jalan atau cara bagaiman semenjak zaman bihari hingga sediakala seruan dan amanat Allah Taala tersebar di dunia. Sekarang juga dengan cara demikian seruan dan amanat dari Muhammad Rasulullah saw. akan tersiar di seluruh dunia.

Jadi, demi kesejahteraan diri pribadi, anak-cucu, sanak-saudara, bangsa dan tanah air anda, dengarlah seruan dari Allah Taala dan berusahalah untuk memahaminya, agar supaya Allah Taala segera membukakan kepada anda pintu KurniaNya dan anda tidak akan ketinggalan dalam derap langkah kemajuan Islam.

Banyak sekali tugas yang harus kita Iaksanakan sekarang, untuk mana kami menantikan kedatangan Saudara sebab sukses dari Allah itu datangnya, disamping oleh mu'jizat-mu'jizat, juga bertalian erat dengan penyebaran agama.

Mari datang! Mari kita bersama-sama dan bergotong-royong pikul beban yang maha-berat ini, beban yang harus dipikul untuk kernajuan Islam. Memang, perjuangan-kearah mana saudara kami ajak, amat sukar sekali. Banyak sekali meminta pengorbanan melupakan diri sendiri, harus menelan kepahitan dan penghinaan. Akan tetapi di jalan Allah, kehidupan yang hakiki itu terletak di dalam penderitaan, dan tanpa penderitaan itu manusia tidak akan dapat sampai

ke Hadirat Tuhan, dan tanpa adanya keberanian menanggung penderitaan ini tak mungkin Islam akan mendapat kemenangan. Tampillah dengan gagah berani! Peganglah piala kematian ini dan teguklah isinya, sehingga dengan kematian kami dan dengan kernatian anda, Islam akan bernafas kembali dan agama yang dianugerahkan Nabi Muhanunad Rasulullah saw. akan menampakkan kesegarannya lagi, dan dengan menerima kematian ini kita pun akan menikmati kelezatan hidup yang kekal-abadi di haribaan Kekasih kita.

Allahumma Amin!

Yang lemah

MIRZA BASHIRUDDIN MAHMUD AHMAD

Imam Jema'at Ahmadiyah

24.10.1948


Tidak ada komentar:

Posting Komentar