Sabtu, 07 Maret 2009

Malfuzhat

LEMBARAN MALFUZAAT

Kutipan Sabda-sabda Hz.Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi & Masih mauud as.

NASIHAT BERKENAAN DENGAN TAKWA

Untuk kebaikan Jemaatku, hal yang sangat penting adalah agar di berikan nasihat berkenaan dengan takwa. Sebab menurut orang yang berakal hal ini adalah nyata bahwa Allah Ta’ala tidak akan ridho/ senang terhadap suatu apapun selain dari pada takwa. Allah Ta’ala berfirman:

Innalloha maallazynat-taqauw walazyna hum-muhsinuwn—[Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-oarang yang yang berbuat kebajikan] (An-Nahl:129)

Bagi Jemaat Ahmadiyah Secara Khusus Diperlukan Takwa

Bagi Jemaat kita secara Khusus diperlukan takwa. Khususnya dengan anggapan bahwa ia telah menjalin hubungan dengan seorang yang telah menyatakan diri sebagai rasul serta masuk didalam ikatan baiatnya, supaya mereka orang-orang yang sebelumnya tenggelam di dalam kedengkian, kebencian dan kemusyrikan atau yang benar-benar telah berkiblat kepada dunia, berhasil memperoleh keselamatan dari segala musibah itu.

Saudara-saudara mengetahui bahwa jika ada orang yang sakit – tidak peduli apakah sakit ringan atau berat – lalu penyakit itu tidak di obati serta tidak di lakukan usaha gigih untuk menyembuhkannya, maka orang yang sakit itu tidak akan sembuh.

Jika sebuah noda hitam timbul di wajah, maka timbul kerisauan, jangan-jangan noda iti semakin berkembang sehingga membuat seluruh wajah menjadi hitam. Demikianlah halnya bahwa dosa merupakan sebuah noda hitam di dalam hati. Kemalasan-kemalasan kecil (kecendrungan untuk bersenang-senang) dapat berkembang menjadi besar. Hal-hal kecil seperti itulah merupakan noda yang berkembang sehingga akhirnya ia menghitamkan sebuah wajah.

Allah Ta’ala Mahapengasih dan Maha penyayang. Demikian pula ia Mahaperkasa dalam menampakkan murka-Nya serta mengadakan pembalasan. Dia melihat sebuah Jemaat di dalam pengakuan dan omong-kosong mereka terdapat segala sesuatu, sedangkan amalan mereka tidak demikian, maka amarah dan murka-Nya akan meluap. Lalu untuk menghukum Jemaat seperti itu Dia mengajukan orang-orang kafir.

Orang-orang yang tahu sejarah mengetahui bahwa beberapa kali orang islam di kalahkan oleh orang-orang kafir. Misalnya, Jhengis khan dan Halako khan telah membinasakan oran-orang islam. Padahal Allah Ta’ala telah menjadikan dukungan dan pertolongan bagi orang-orang islam, namun tetap saja orang-orang islam kalah. Peristiwa-pristiwa seperti itu kadang –kadang terjadi. Penyebabnya adalah, tatkala Allah taala melihat bahwa memang mereka menyebutkan ‘Laa ilaha illallah’ namun hati merka berpaling ke tempat lain serta tidak tunduk mereka benar-benar mengarah kepada keduniawian, maka murka-Nya akan menampakkan diri. (Pidato pertama Hz. Masih Mauud as. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1, h.10-11)

-------oo0oo-------

LETAK RASA TAKUT TERHADAP ALLAH

Rasa takut kepada Allah terletak di dalam hal berikut ini, yaitu supaya manusia melihat sejauh mana kesesuaian antara ucapan dan perbuatannya. Maka pahamilah bahwa dia akan menjadi sasaran murka Tuhan. Hati yang tidak suci, betapapun sucinya kata-kata yang ia ucapkan, di pandangan Tuhan hati tersebut tidak mempunyai nilai apa-apa. Bahkan karenanya kemurkaan tuhan akan bergejolak.

Jadi, Jemaatku harus memahami bahwa mereka telah datang kepadaku, untuk di taburi benih. Yangmana mereka akan mejadi pohon-pohon yang berbuah. Nah, setiap orang harus menelaah dirinya sendiri, bagaimana di dalam keadan diriya. Dan bagaimana keadaan batinnya. Seandainya Jemaat kitapun seperti itu – semoga tuhan tidak menjadikannya demikian – yakni di lidahnya lain dan didalam hatinya ternyata lain lagi., maka kita akan berakhir dengan tidak baik.

Kalau Allah Ta’ala melihat bahwa suatu Jemaat yang hatinya kosong mengeluarkan pernyataan-pernyataan di lidahnya, maka Dia itu Mahacukup dan tidak akan memperdulikannya. Sudah turun khabar ghaib tentang kemenangan di medan Badar. Berbagai harapan untuk menangpun ada. Namun walau demikian Yang Mulia Rasulullah saw. tetap berdoa sambil menangis-nangis. Hz. Abu Bakar Siddiq ra. Mengatakan bahwa janji kemenangan sudah ada, maka untuk apa memohon dengan merintih sendu. Yang Mulia Rasulullah saw. menjawab bahwa Zat (Allah) itu Mahacukup, yakni mungkin saja terdapat syarat-syarat yang terselubung di dalam janji Ilahi tersebut. (Pidato pertama Hz. Masih Mauud as.pd Jalsah Salanah 25 Des. 1897 / Malfuzaat jld.1 h.11)

-------oo0oo-------

TANDA-TANDA ORANG YANG MUTAKI

Jadi, hendaknya harus senantiasa di lihat sampai di manakah kita telah meraih kemajuan dalam hal ketakwaan dan kesucian. Standarnya adalah Al-Qur’an. Dari sekian tanda-tanda orang mutaki, Allah Taala ada juga menetapkan sebuah tanda, yaitu Allah Ta’ala membebaskan orang yang mutaki itu dari dunia kemakruhan [hal-hal yang tidak di sukai-Nya -pent.] lalu memberikan kecukupan pada orang itu untuk pekerjaan-pekerjaannya. Sebagaimana ia berfirman:

Wamayyattaqilloha yaj-allahu makhrajan, wayarzuqhu min haysu laa yahtasib – [Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar.Dan, Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia menyangka] (Ath-Thalaq: 3-4)

Orang yang takut kepada Allah Ta’ala, dalam setiap musibah Allah Ta’ala akan membukakan jalan keikhlasan untuknya, dan ia akan menciptakan sarana-sarana penghasilan/ nafkah bagi orang itu yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Yakni, inipun merupakan sebuah tanda orang yang mutaki, bahwa Allah Ta’ala tidak menjadikan orang mutaki itu butuh akan keperluan-keperluan yang tidak bermamfaat.

Misalnya seorang tukang kedai beranggapan bahwa tanpa berkata dusta maka pekerjaannya tidak akan jalan, oleh karena itulah dia tidak berhenti dari berkata dusta. Dan untuk berdusta ia menzahirkan alasan-alasan keterpaksaan. Akan tetapi hal itu sama-sekali tidak benar. Allah Ta’ala sendiri yang menjadi Pelindung bagi orang mutaki, dan ia menghindarkan-nya dari kndisi yang seperti itu.

Orang-orang yang menciptakan suasana keterpaksaan atas dasar hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran, ingatlah, kalau seseorang telah meninggalkan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala meninggalkannya. Kalau sang Maha pengasih telah meninggalkan seseorang, maka pasti syetan akan menjalin hubungan dengannya.

Janganlah beranggapan bahwa Allah itu lemah. Dia memiliki kekuatan yang sangat besar. Kalau kalian bertawakal atau bertumpu pada-Nya mengenai suatu hal, maka pasti Dia akan menolong kalian.

Wamay-yatawakkal alallahi fahuwahasbuhuu -- [Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia memadai baginya] (Ath-Thalaq:4)

Akan tetapi orang-orang yang pertama kali di tuju oleh ayat-ayat ini adalah orang-orang yang beragama. Seluruh perhatian (pemikiran) mereka hanyalah untuk hal-hal keagamaan, sedangkan masalah duniawi mereka serahkan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Allah swt. Menentramkan mereka bahwa “aku bersama kalian”. Ringkasnya salah satu dari berkat-berkat ketakwaan adalah bahwa Allah Ta’ala telah menganugrahkan keikhlasan kepada orang mutaki terhadap musibah-musibah yang merupakan penghalang bagi hal-hal keagamaan.

Allah Ta’ala Secara Khusus memberikan Rizki Kepada Orang Muttaki

Demikian pula hanya Allah Ta’ala secara khusus memberikan rezeki kepada orang mutaki. Di sini saya akan menyinggung masalah rezeki-rezeki makrifat (ilmu)

Rasulullah saw. Memperoleh Rezeki Rohaniah (Makrifat-makrifat) Sedemikian Rupa Sehingga Beliau Unggul atas semuanya

Walaupun yang mulia Rasulullah saw. seorang ummi (buta hurup), beliau harus melawan seluruh alam, dimana di dalam terdapat ahlikitab, filosof, orang-orang yang mempunyai selera ilmiah tinggi serta para cerdik-pandai. Akan tetapi beliau saw.telah memperoleh rezeki rohani sedemikian rupa sehingga beliau unggul atas semuanya dan telah membuktikan kesalahan-kesalahan mereka. Itulah rezeki rohani yang tidak ada bandingannya. Mengenai orang mutaki, di tempat lain pun ada dikatakan:

Inawliyaaa’uhuu illal-muttaquwn -- [Wali-walinya yang sebenarnya adalah orang-orang yang bertakwa] (Al-Anfaal:35).

Wali Allah Ta’ala itu adalah orang-orang yang mutaki, yakni sahabat Allah Ta’ala. Jadi betapa hebatnya nikmat ini bahwa dengan kesusahan yang sedikit saja pun dapat di katakan sebagai orang yang memperoleh kedekatan dengan Tuhan.

Zaman sekarang ini betapa pengecutnya. Kalau ada penguasa atau pejabat yang mengatakan kepada seseorang, “Engkau adalah sahabatku,” atau memberikan kursi kepadanya serta menghormatinya, maka orang itu akan bangga dan menyombongkan diri kemana-mana. Akan tetapi betapa mulianya derajat orang yang telah dikatakan sebagai wali atau sahabat oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah berjanji melalui lidah rasul mulia saw.—sebagaimana tercantum di dalam sebuah Hadits Bukhari: Laa yazaalu yataqarrabu abdiy bin-nawaafili hattauhibbahuu faizaa ahbabtuhuu kuntu samahullazy yasma-u bihii wayadahullaty yabtisyu bihaa warijlahullaty yamsyi bihaawala’in sa’alaniy la’a’taytuhuu wala’in ista’azany la’uiyzannahuu

Yakni, Allah Ta’ala berfirman bahwa, “sahabatku menciptakan kedekatan terhadap-Ku melalui nafal-nafal....”

(pidato Pertama Hz.Masih Mauud as. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1, h.12-13)

-------oo0oo-------

DUA BAGIAN KEBAIKAN KEBAIKAN MANUSIA

Kebaikan-kebaikan yang di lakukan oleh manusia terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah fardu-fardu dan kedua adalah nafal-nafal. Fardu-fardu adalah yang telah di wajibkan atas manusia. Misalnya melunasi utang atau membalas kebaikan dengan kebaikan. Selain fardu-fardu tersebut bersamaan dengan semua kebaikan itu terdapat nafal-nafal. Ini merupakan penggenap dan penyempurna fardu-fardu.

Di dalam dadits tersebut di terangkan bahwa penyempurna fardu-fardu diniyyah (keagamaan) para waliullah melalui nafal-nafal. Misalnya, selain dari pada zakat mereka memberikan sedekah-sedekah. Allah Ta’ala akan menjadi sahabat orang-orang demikian. Allah Ta’ala berfirman bahwa persahabatan dengannya adalah sedemikian rupa sehingga, “Aku merupakan tangannya, kakinya dan sebagainya. Sampai-sampai Aku menjadi lidah yang dengannya ia berbicara “. (Pidato Pertama Hz. Masih Mauud as. pd Jalsah Salanah 25 Des. 1897 / Malfuzaat jld.1 h.13-14)

-------oo0oo-------

BILAKAH SETIAP PERBUATAN MANUSIA ITU SELARAS DENGAN KEHENDAK TUHAN

Masalahnya adalah bahwa tatkala manusia bersih dari gejolak-gejolak nafsu serta meninggalkan egoisme lalu berjalan di dalam kehendak-hendak Tuhan, maka tidak ada perbuatan yang tidak benar. Bahkan setiap perbuatan selaras dengan kehendak Tuhan. Dimana saja orang-orang mengalami cobaan, di sana selalu timbul hal ini, yaitu perbuatan mereka tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Keridaan (kesenangan ) Tuhan bertenangan dengan hal itu. Orang-orang yang demikian berjalan di bawah dorongan hati mereka. Misalnya karena emosi mereka melakukan perbuatan yang menimbulkan perkara-perkara dan peradilan-peradilan.

Namun seandainya ini iradah seseorang, yaitu tampa mengambil musyawarah dari Kitabullah dia tidak akan bertindak serta dia akan merujuk kepada Kitabullah dalam segala permasalahannya, maka hal ini sudah pasti bahwa Kitabullah akan memberikan musyawarah. Sebagaimana (Allah Ta’ala) berfirman:

Walaa rathbiw-walaa yaabisinillaa fiy kitaabim-mubiyn—[Dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang terang] (Al-An’am:60)

Jadi, seandainya kita beriradah bahwa akan meminta musyawarah dari Kitabullah., maka kita pasti akan memperoleh musyawarahnya. Akan tetapi orang mengikuti kehendak nafsunya, dia pasti akan mengalami kerugian. Kadang-kadang dia disana harus memberikan pertanggungjawaban.maka sebaiknya Allah berfirman bahwa sahabat yang melakukan pekerjaan sembari terus bercakap-cakap dengan-Nya. Jadi,sejauh mana kekurangan pada diri seorang dalam hal kesirnaan itu, maka sejauh itu pula dia berada jauh dari tuhan.akan tetapi jika dia memiliki kesirnaan seperti apa yang telah di firmankan oleh Allah Ta’ala, maka keimananya tidak dapat dibayangkan.

Dalam memberikan dukungan-Nya terhadap mereka, Allah Ta’ala berfirman:Waman aada waliyyan faqad ‘aazantuhuu bilbarbi (hadis) - -“Barang siapa yang berperang melawan sahabat-Ku,berarti dia berperang melawan-Ku”

Kini lihatlah, betapa tingginya kemuliaan orang mutaki serta betapa tingginya derajat yang ia miliki.Seseorang yang memiliki kedekatan sedemikian rupa di sisi Tuhan,maka betapa Tuhan itu akan menjadi pendukung dan penolong baginya.(pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pada jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1, h.14-15)

- - - - - oo0oo - - - - -

BARANG SIAPA YANG DATANG KEPADA ORANG MUTAKI,IA PUN AKAN DISELAMATKAN

Orang-orang terbelenggu di dalam banyak sekali musibah,namun orang-orang mutaki senantiasa di selamatkan. Bahkan barang siapa yang datang kepada orang mutaki,ia pun akan di selamatkan. Musibah-musibah tidak mempunyai batas. Liht sajalah penyakit-penyakit, ada ribuan jenis penyakit yang cukup untuk menciptakan musibah-musibah.Namun orang yang berada dalam benteng ketakwaan, dia akan terhindar dari musibah-musibah itu. Sedangkan orang yang berada di luarnya, dia tengah berada dalam hutan-belantara yang dipenuhi oleh binatang-binatang buas. pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.15)

- - - - - oo0oo- - - - - -

ORANG-ORANG MUTAKI MEMPEROLEH KABAR-SUKA DI DUNIA INI JUGA MELALUI MIMPI-MIMPI BENAR

Bagi orang mutaki terdapat sebuah janji lagi:

Lahumul-busyraa fylhayaatid-dunyaa wafiyl-aakhirah (Yunus:65)

Yakni,orang –orang yang mutaki,mereka memperoleh kabar-kabar suka di dunia ini juga melalui mimpi-mimpi yang benar. Bahkan lebih daripada itu mereka merupakan ahli-kasyaf [orang-orang yang telah melihat kasyaf-pen.]. mereka memperoleh kehormatan bercakap-cakap dengan Allah. Pada kondisi sebagai manusia pun mereka dapat melihat malaikat. Sebagaimana ia berfirman:

Innalaziyna qoluw rabbunallahhu summastaqomuw tatanazzalu alaiyhimulmalaa’ikah...(haamin As-sajadah:31

Yakni,orang-orang yang mengatakan bahwa, “Tuhan kami adalah Allah”, serta mereka memperlihatkan keteguhan....’Yakni, pada masa datangnya cobaan, Dia memperlihatkan seseorang yang sedemikian rupa dimana dia menyatakan bahwa,”Adapun janji yang telah Aku kemukakan melelui mulutku,Aku penuhi secara nyata “.(pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzat jld.1, h.15)

- - - - -oo0oo- - - - -

Pen:M1/1990

File DN> (C:MALFUZAT.19)

LEMBARAN MALFUZAAT

Kutipan Sabda-sabda Hz.Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi & Masih mauud as.

COBAAN ITU PENTING

Sebab, cobaan itu penting. Sebagaimana ayat ini mengisyaratkan:

Ahasibannasu ayyutrakuw ay-yakuluww aamanna wahum laa yuftanuwn (Al-ankabut;3)

Allah Ta’ala barfirman bahwa orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”, serta mereka memperlihatkan keteguhan, maka malaikat-malaikat akan turun pada mereka. Adalah kesalahan para ahli-tafsir,yang mengatakan bahwa turunnya para malaikat adalah pada saat sakratul-maut.Itu tidak benar.

Artinya adalah bahwa orang-orang yang membersihkan hati mereka serta menghindarkan diri mereka dari kekotoran dan najis yang membuat manusia jauh dari Allah, maka di dalam diri mereka akan timbul suatu keserasian/kecocokan bagi rangkaian ilham. Untaian ilham akan mulai mengalir.

Kemudian, mengenai kemuliaan orang mutaki, Dia berfirman di tempat lain:

Alaa inna awliyaa’a allaahi laa khaufun ‘alaiyhim walaa hum yahzanuuwn. (Yunus:63)

Yakni,orang-orang yang merupakan Wali/Sahabat Allah, mereka tidak akan memperoleh kedudukan. Seseorang yang baginya Tuhan itu mencukupi, Orang yang melawannya tidak akan dapat memberikan kemudaratan padanya, yaitu jika Tuhan menjadi sahabat baginya. Kemudian dia berfirman:

Wa-absyiruw biljannatil-laty kuntum tuw-‘aduwn (Haamiim As-Sajdah, 41:31).

Yakni,hendaknya kalian bergembira akan surga yang telah dijanjikan bagi kalian.

Dua Buah Surga Bagi Manusia

Di dalam ajaran Al-Quran ditemukan bahwa terdapat dua buah surga bagi manusia. Seorang yang menjalin kecintaan dengan tuhan, dapatkah dia itu tinggal di dalam kehidupan yang membakar? Tatkala di sini saja sahabat seorang penguasa menjalani sejenis kehidupan surgawi, maka kenapa pula pintu surga tidak akam terbuka bagi sahabat-sahabat Tuhan. Walaupun dunia ini penuh dengan kesengsaraan dan musibah, namun siapa yang tahu bahwa betapa mereka itu merasakan kelezatan. Seandainya mereka memperoleh kesedihan- menanggung derita barang setengah jam saja pun sudah sulit - padhal seluruh umur mereka itu mereka lalui dalam kesengsaraan. Seandainya kepada mereka di berikan sebuah pemerintahan dalam suatu zaman supaya mereka mau menghentikan pekerjaan mereka, maka kapan pula mereka mau mendengar kata orang lain? Demikian pula sekiranya gunung akan meletus, mereka tidak akan meninggalkan iradah mereka. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzat jld.1,h.16)

-------oo0oo-------

AKHLAK YANG MULIA RASULULLAH SAW.

Pemberi petunjuk kita yang kamil,rasulullah saw.,terpaksa harus menyaksikan kedua hal ini. Pada suatu ketika beliau dilempari batu di Thaif. Yang satu lagi kelompok mayoritas telah memberikan kesengsaraan jasmaniah yang sangat keras. Akan tetapi keteguhan Yang Mulia Rasulullah saw. tidak pernah goyah. Ketika kaum itu melihat bahwasanya musibah-musibah dan kekerasan tidak memberikan pengaruh apa-apa pada beliau, maka mereka berkumpul dan menjanjikan suatu kerajaan, mereka ingin menjadikan beliau sebagai pimpinan mereka. Mereka menjanjikan untuk memberikan sarana-sarana bersenang-senang, sampai-sampai mereka juga wanita yang paling cantik. Dengan syarat supaya yang Mulia Rasulullah saw. berhenti mengecam berhala-berhala. Namun sebagaimana ketika menghadapi musibah di Thaif, begitu pula mendapatkan janji kerajaan ini tidak memperdulikanya. Serta memilih lebih baik dilempari batu. Jadi, kalau tidak ada suatu kelezatan yang khusus, maka apa perlunya beliau meninggalkan kesenagan lalu menjerumuskan diri dalam kesengsaraan.

Selain Rasul kita – yang atasnya Shalawat dan attahyat , kesempatan ini tidak pernah diperoleh oleh Nabi lainya, yaitu bahwa kepada beliau diberikan janji oleh mereka supaya beliau meninggalkan tugas-tugas kenabian. Almasih as. pun tidak memperoleh hal ini. Di dalam sejarah dunia hanya pada Diri yang Mulia Rasulullah saw. saja masalah ini terjadi, bahwa kepada beliau dijanjikan suatu kerajaan seandainya beliau mau meninggalkan pekerjaan beliau. Jadi, kehormatan ini khusus terdapat pada diri Rasul kita (saw.). Demikian pula pemberi petunjuk kita yang kamil telah memperoleh kedua-macam zaman, yaitu zaman kesengsaraan, supaya beliau dapat memperlihatkan suritauladan akhlak yang kamil di dalam kedua zaman tersebut.

Allah ta’ala menginginkan bagi orang-orang mutaki supaya mereka merasakan dua macam kelezatan. Kadang-kadang dalam kelezatan corak duniawi, ketentraman dan perempuan-perempuan suci; kadang-kadang dalam bentuk kesengsaraan dan musibah, agar mereka dapat memperlihatkan suritauladan akhlak yang sempurna. Sebagian akhlak terbuka dikala manusia memiliki kekuatan dan sebagian lagi terbuka dikala menghadapi musibah-musibah. Kedua hal ini diperoleh oleh nabi karim kita saw.. jadi, tidak ada umat lain yang dapat memperlihatkan akhlak nabi mereka seperti akhlak beliau saw. yang dapat kita perlihatkan. Misalnya, tentang almasih as. hanya mengenai kesabaranya saja yang dapat di tampilkan, bahwasanya beliau dahulu selalu menanggung pukulan.tetapi dari mana pula akan terdapat bukti bahwa beliau dahulu memperoleh kekuatan. Nabi itu tidak diragukan lagi memang benar. Namun tidak seluruh jenis akhlak beliau terbukti. Dikarenakan perihal beliau terdapat di dalam Al-Quran, oleh sebab itulah kita mempercayai Beliau. Dan kecuali di dalam injil, maka tidak ada akhlak beliau yang terbukti seperti kemuliaan para nabi yang perkasa.

Demikian pula halnya bagi pemberi petunjuk kita yang kamil, seandainya beliau itu wafat di dalam musibah-musibah yang tigabelas tahun itu, maka banyak sekali akhlak fadilah beliau yang tidak akan terbukti, seperti halnya Almasih as. tetapi ketika zaman kedua – zaman kemenangan – telah tiba, dan orang-orang berdosa telah di tampilkan ke hadapan beliau, maka dari itu diperoleh bukti tentang sifat kasih sayang dan sifat pengampunan yang beliau miliki.Dan dari itu tampak pula bahwa pekerjaan beliau tidak ada yang berlandasan pada pemaksaan, tidak pula pada kekerasan, melainkan segala sesuatunya berlangsung dalam corak yang alami.

Demikianlah banyak lagi akhlak beliau saw. lainya yang telah terbukti. Jadi, yang difirmankan oleh Allah Ta’ala bahwa:

Nahnu awliyaa’ukum filhayaatid-dunyaa waalakhirah(Haamim As-sajadah:32)

Bahwa, “Kami merupakan sahabat-sahabat dari orang-orang mutaki di dunia ini maupun di akhirat”. Jadi ayat ini pun membuktikan ketidakbenaran orang-orang bodoh yang telah mengingkari perihal turunya para malaikat di dalam kehidupan ini juga. Seandainya para malaikat itu turun di kala maut, maka bagaimana Allah Ta’ala menjadi sahabat di dalam kehidupan di dunia.(pidato pertama Hz.Masih Mau’ud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.17-18)

-------oo0oo-------

DI DUNIA INI KEHIDUPAN AKHIRAT DIPERLIHATKAN KEPADA ORANG MUTAKI

Jadi, ini adalah suatu nikmat, bahwa para wali dapat melihat malaikat-malaikat Tuhan. Kehidupan di alam akhirat hanyalah suatu keimanan/kepercayaan. Akan tetapi kehidupan akhirat itu diperlihatkan kepada orang mutaki di dunia ini. Di dalam kehidupan ini juga mereka menemukan Tuhan, melihat-Nya saerta bercakap-cakap denga-Nya. Jadi, seandainya hal ini tidak dialami oleh seseorang, maka kematianya buruk sekali. Ada perkataan seorang wali, bahwa jika seaseorang sepanjang umurnya tidak pernah mendapatkan mimpi yang benar, maka kematianya adalah berbahaya. Sebagaimana hal itu pun ditetapkan oleh Al-Quran sebagai tanda orang mukmin. Dengarlah, pada siapa tidak terdapat tanda ini, maka di dalam dirinya tidak ada ketakwaan. Jadi kita semua hendaknya berdoa semoga syarat ini terdapat di dalam diri kita; semoga kita memperoleh karunia berupa ilham, mimpi dan kasyap dari Allah Ta’ala. Sebab itu adalah ciri-khas orang mukmin. Jadi, ini harus ada.

Banyak lagi berkat-berkat lainya yang diperoleh orang mutaki. Misalnya, di dalam surah Alfatihah yang terdapat di awal Al-Quran, Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada orang-orang mukmin supaya mereka memanjatkan doa:

Ihdinash-shiratalmustaqiym. Shiratal-laziyna an-amta alaiyhim ghoiril-maghdhuwbi alaihiym waladh-dhoolliyn(Al-Fatihah:6-7)

Yakni, “Tunjukanlah kepada kami jalan lurus orang-orang yang atas mereka terdapat nikmat/anugrah dan karunia Engkau”. Hal ini diajarkan adalah supaya manusia – dengan menggalang semangat yang tinggi – melaluinya dapat memahami kehendak sang Khalik. Dan kehendak-Nya itu adalah supaya umat ini jangan menjalani hidupnya seperti binatang. Melainkan supaya segenap tabir-Nya terbuka. Sebagaimana aqidah orang-orang syiah bahwa setelah imam yang duabelas tidak ada lagi ke-walian, maka bertentanglah dengan itu melalui doa ini nyata bahwasanya dari sejak semula Tuhan telah memiliki iradah yaitu barang siapa yang mutaki serta sesuai dengan kehendak Tuhan, maka dia dapat meraih derajat-derajat yang diperoleh oleh para nabi dan sufi. Dari doa ini pun dapat diketahui bahwa manusia itu memperoleh kekuatan/kemampuan yang sangat besar – yang akan menampakan dirinya dan yang akan berkembang jauh. Yaa, seekor kambing dikarenakan bukan manusia, maka kekuatan/kemampuanya tidak akan mendapat perkembangan. Manusia yang memiliki semangat tinggi, ketika mendengar tentang keadaan para rasul dan nabi, menginginkan supaya bukan saja dia mempercayai anugerah-anugerah yang diperoleh oleh kelompok/jemaat suci itu, melainkan supaya bertahap dia dapat memperoleh ilmul-yaqin, ainul-yaqin dan haqul-yaqin akan anugerah-anugerah tersebut.(pidato pertama Hz. Masih Mau’ud as. pd jalsah salanah 25 des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.19-20)

- - - - -oo0oo- - - - -

TIGA TINGKATAN ILMU

Ilmu memiliki tiga tingkatan. Ilmul-yaqin, ainul-yaqin, dan haqul-yaqin. Misalnya, timbulnya keyakinan akan api setelah melihat asap yang mengepul dari suatu tempat, adalah suatu ilmul-yaqin. Akan tetapi menyaksikan api sendiri itu dengan mata, adalah ainul-yaqin. Yakni meyakini akan adanya api melalui panas bakar setelah memasukan tangan ke dalam api tersebut.

Jadi, betapa buruknya nasib orang yang tidak memperoleh tingkatan apapun dari ketiga tingkatan tersebut. Sesuai dengan ayat ini, orang yang atasnya tidak terdapat karunia Allah Ta’ala,berarti dia terperangkap didalam taqlid buta –pen.]. Allah Ta’ala berfirman:

Wallaziyn jaahaduw fiynaa lanahdiyannahum subulanaa (Al-Ankabut:70)

“Orang yang akan berusaha gigih di jalan kami, kami akan perlihatkan jalan kami kepadanya”. Ini adalah suatu janji, dan disana terdapat doa ini, ihdinash-shirotol-mustaqiym(Al-Fatihah:6)

Jadi, dengan memperhatikan hal ini, manusia hendaknya memanjatkan doa dengan penuh tadharu’ di dalam shalat, dan timbulkan keinginan untuk menjadi orang yang termasuk diantara mereka – yaitu mereka yang telah memperoleh kemajuan dan basirat(penglihatan rohani). Janganlah sampai nanti diambil dari dunia ini dalam keadaan tanpa basirat dan buta. Dia berfirman:

Man kaana fiy haazihi a’maa fahuwa fiyl-aakhiroti a’maa(Bani israil:73—”Barangsiapa yang buta di dunia ini, di akhirat pun dia akan buta”. (pidato pertama Hz.Masih Mau’ud as.pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.19-20)

- - - - -oo0oo- - - - -

PERSIAPAN UNTUK DI AKHIRAT HENDAKNYA DILAKUKAN DI DUNIA INI

Yang maksudnya adalah bahwa untuk menyaksikan alam akhirat itu kita harus membawa mata dari dunia ini. Untuk di dunia ini juga. Nah, apakah dapat dianggap bahwa Allah Ta’ala membuat janji dan Dia tidak akan memenuhinya?

Yang dimaksud dengan buta ialah Orang yang kosong dari makrifat rohaniah serta krlezatan rohani. Seseorang dengan taqlid-buta dikatakan Islam karena dia telah dilahirkan di dalam keluarga islam. Di sisi lain, seperti itu juga seorang keristen telah lahir dikalangan orang keristen, maka dia menjadi keristen. Inilah orang yang seperti itu tidak menghormati Tuhan, Rasul dan Al-Quran. Kecintaan terhadap agamapun diragukan. Dia melewati waktu-waktunya dikalangan orang-orang yang mencela Tuhan dan Rasul. Sebabnya hanyalah bahwa orang seperti itu tidak memiliki mata rohani. Di dalam dirinya tidak terdapat kecintaan terhadap agama. Dan selain itu, apakah seorang pecinta suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kekasihnya? Ringkasnya, Allah Ta’ala telah mengajarkan bahwa, “Aku siap untuk memberi, seandainya engkau siap untuk mengambilnya”. Jadi, memanjatkan doa pun sudah merupakan persiapan untuk mengambil hidayat/petunjuk tersebut.(pidato pertama Hz.Masih Mau’ud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.20)

- - - -oo0oo- - - -

TAFSIR AYAT

“HUDALLIL-MUTTAQIYN”

Setelah doa tersebut, di permulaan surah Albaqarah ada dikatakan “Hudallil-muttaqiyn”. Seolah-olah Allah Ta’ala sudah siap untuk memberi. Yakni, kitab ini menjanjikan untuk menyampaikan orang mutaki kepada kesempurnaannya. Jadi artinya adalah bahwa kitab ini bermanfaat bagi mereka yang bersedia untuk bertaqwa dan mendengarkan nasihat. Orang mutaki pada derajat ini adalah dia secara yang secara alami siap untuk mendengarkan kebenaran. Misalnya ketika seseorang menjadi muslim, maka dia akan menjadi mutaki. Ketika datang hari-hari yang baik bagi agama lain, maka di dalam dirinya timbul krtaqwaan, dan keangkuhan, kesombongan serta takabur akan lenyap. Ini adalah semua penghalang-penghalang yang telah punah.,Dengan kepunahan mereka, maka jendela rumah yang gelap menjadi terbuka, dan sinar-sinar pun telah masuk ke dalamnya.

Yang difirmankan bahwa kitab ini adalah petunjuk bagi orang-orang mutaki – yakni ‘Hudallilmuttaqyn’ – kata ‘ittaqa’ yang berasal dari bab ifii’al,bab ini digunakan untuk menyatukan hal yang dilakukan dengan usaha/kegigihan. Yakni didalamnya terdapat isyarat bahwa “ketakwaan yang kami inginkan disini adalah tidak kosong dari usaha-gigih – yangmana untuk menjaga ketakwaan itulah terdapat petunjuk-petunjuk di dalam kitab ini”. Seakan-akan orang yang mutaki itu terpaksa harus menanggung derita/susah payah dalam melakukan kebaikan.(pidato pertama Hz.Masih Mau’ud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / malfuzaat jld.1,h.21)

- - - - -oo0oo- - - - -

HAMBA YANG SALEH

Ketika tahap ini telah dilalui, maka orang yang mengambil jalan tersebut menjadi hamba yang saleh. Seakan-akan corak derita/susah-payah tersebut telah sirna, dan orang saleh itu mulai melakukan kebaikan secara alami dan fitrati. Dia akan berada didalam sejenis daarul-aman [tempat yang aman –pen.] yang di dalamnya tidak ada bahaya apapun. Kini segala peperangan melawan gejolak-gejolak nafsunya telah berakhir, dan dia telah berada dalam kondisi yang aman. Dia terhindar dari segala macam bahaya.

Ke arah inilah pemberi petunjuk kita yang kamil (saw.) telah mengisyaratkan. Beliau bersabda bahwa, “pada setiap orang terdapat syetan, akan tetapi syetanku telah masuk islam”. Jadi, orang yang mutaki itu senantiasa berperang melawan syetan. Namun tatkala dia menjadi orang yang saleh, maka segenap peperangan pun akan berakhir. Salah satu contohnya adalah sifat ria/pamer, yang harus ia perangi selama 24 jam. Orang mutaki berada di suatu arena yang senantiasa [dipenuhi oleh] pertempuran. Jika tangan karunia Allah besertanya, maka dia akan menang. Misalnya ria, yang sikapnya seperti semut. Kadang-kadang manusia melakukanya tanpa disadari, namun pada saat-saat tertentu manusia memberikan kesempatan bagi sifat ria itu untuk timbul dalam hati. Contohnya, seseorang kehilangan pisau yang ia miliki, lalu menanyakanya kepada orang lain. Maka pada kesempatan itu mulai timbul peperangan antara seorang mutaki dengan syetan yang mengajarkan bahwa cara bertanya yang demikian dari seorang pemilik merupakan suatu penghinaan. Dari itu disangsikan akan timbul perasaan terbakar pada diri orang yang ditanya tersebut. Dan mungkin saja dapat timbul perkelahian diantara keduanya. Pada saat itu seorang mutaki berperang dengan keinginan-buruk nafsunya. Jika seandainya pada diri orang terdapat kejujuran yang hanya demi Allah, maka apa perlunya dimarah. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.21-22)

- - - - - oo0oo- - - - -

-

SEJAUH MANA KEJUJURAN DITUTUPI,SEJAUH ITU PULA BAIKNYA

Sebab, sejauh mana kejujuran itu ditutupi, maka sejauh itu pula baiknya. Misalnya, seorang pemilik batu permata bertemu dengan para pencuri di tengah jalan. Dan para pencuri itu berembuk mengenai dirinya; sebagian mengatakan bahwa dia adalah seorang yang kaya, dan sebagian lagi menebaknya sebagai orang miskin. Kini, sebagai perbandingan, sang pemilik permata tersebut akan lebih menyukai kelompok yang menyatakanya sebagai orang miskin.

Menutupi Amalan-amalan Adalah Suatu Hal Yang Baik

Demikian pula,apa sebenarnya dunia ini. Yaitu semacam daruul-ibtilaa (tempat ujian dan cobaan). Yang baik adalah orang yang menutupi segala sesuatunya dan menghindarkan diri dari sikap ria/pamer. Orang-orang yang segala amal-perbuatan mereka hanya demi Allah, mereka tidak menginginkan amal-amal mereka diketahui oleh siapapun. Inilah orang-orang yang mutaki.

Saya membaca di dalam buku Tazkiratul Awliyaa bahwa seorang tua memohon di hadapan khalayak ramai, bahwasanya dia memerlukan sejumlah uang dan semoga ada yang memberikan kepadanya. Seseorang dengan menganggapnya sebagai amal saleh, memberikan uang sebanyak seribu rupiah kepada orang tua itu. Setelah menerima uang tersebut orang tua itu memuji-muji akan kebaikan hati dan kedermawananya. Atas hal itu orang tersebut menjadi sedih, sebab kalau disitu dia telah memperoleh pujian, maka mungkin dia akan luput dari ganjaran di akhirat. Tidak berapa lama berselang, orang itu maju dan mengatakan bahwa uang tadi merupakan uang milik ibunya – yang tidak ingin memberikannya kepada peminta itu. Akhirnya uang itu pun dikembalikan dan setiap orang mengutuk orang tersebut, serta ia dikatakan penipu bahwa sebenarnya bahwa dia tidak berkeinginan untuk memberi. Ketika senja tiba maka orang tua tersebut pun kembali ke rumahnya. Dan orang tadi itu datang kepadanya membawa uang seribu rupiah, lalu dia mengatakan, “Tuan telah membuat saya luput dari ganjaran akhirat dengan memberikan pujian kepada saya dihadapan umum. Itulah sebabnya saya membuat dalih itu. Sekarang uang ini adalah milik Tuan. Akan tetapi jangan tuan beritahukan nama saya kepada siapapun”. Orang tua itu pun menangis dan mengatakan, “kini engkau telah menjadi sasaran kutuk laknat hingga hari kiamat, sebab peristiwa tadi di ketahui oleh semua orang. Dan seorang pun tidak ada yang mengetahui bahwa engkau telah mengembalikanya kepadaku. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.22-23)

- - - - -oo0oo- - - - -

Pen:M1/1990

File DN> (C:MALFUZAT.19)

LEMBARAN MALFUZAAT

Kutipan Sabda-sabda Hz.Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi & Masih mauud as.

SEORANG MUTAKI SEJATI MENGINGINKAN SUATU KETERSELUBUNGAN

Seorang mutaki menyembunyikan dan merahasiakan pemikiranya setelah ia memerangi nafsu amarahnya. Akan tetapi Allah Taala senantiasa menzahirkan pemikiranya yang terselubung itu. Seperti halnya seorang manusia bejat ingin hidup bersembunyi dikarenakan perbuatan buruknya, maka seperti itu pula orang yang mutaki dengan sembunyi-sembunyi mendirikan salat dan risau kalau-kalau ada orang yang melihatnya. Seorang mutaki yang sejati menginginkan suatu keterselubungan. Tingkat ketaqwaan itu sangat banyak. Namun memang untuk ketaqwaan itu diperlukan usaha-gigih/susah –payah. Dan orang mutaki itu berada di dalam kondisi perang, sedangkan orang saleh sudah berada di luar peperangan tersebut. Seperti yang telah saya terangkan di atas mengenai sifat ria/pamer sebagai contoh, dimana seorang mutaki memeranginya selama 24 jam.

Peperangan antara Sifat Ria/Pamer & Sifat Lembut-hati

Kadang-kadang terjadi peperangan antara sifat ria dengan sifat lembut-hati. Adakalanya amarah manusia menentang kitab Allah. Mendengar cacian, maka nafsunya bergolak. Taqwa itu mengajarkan kepadanya supaya dia menahan diri dari amarah. Sebagaimana Al-Quran mengatakan:

..............Waizaa marruw billaghwi marru kiraman(Alfurqan:73)

Demikian pula halnya dia harus sering berperang dengan ketidak-sabaran. Ketidak-sabaran maksudnya adalah bahwa dia akan menghadapi kesulitan sedemikian rupa di jalan ketaqwaan sehingga dia dengan sulit baru dapat mencapai tujuanya. Oleh karena itu [manusia] menjadi tidak sabar. Misalnya [seseorang] harus menggali sumur sampai 25 meter. Seandainya setelah dua atau empat meter. dia telah menghentikan penggalian, maka itu hanya merupakan prasangka buruknya saja. Jadi, syarat daripada taqwa itu adalah, terapkanlah sampai akhir segala perintah/hukum yang telah di berikan oleh Allah Ta’ala, dan janganlah berlaku tidak sabar.(pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.23-24)

- - - - -oo0oo- - - - -

PADA JALAN ‘SULUK’ TERDAPAT DUA KELOMPOK YANG MEMILIKI

LANGKAH-LANGKAH YANG BEBERKAT

Di dalam jalan ‘suluk’ [jalan mencari kebenaran –pen.] terdapat dua kelompok yang memiliki langkah-langkah yang beberkat. Pertama adalah kelompok Dynul Ajaiz, yang mengayunkah langkah pada masalah-masalah besar. Misalnya, mereka disiplin akan hukum-hukum Syariat dan mereka telah memperoleh Najat (keselamatan). Yang kedua adalah mereka yang melangkah kedepan, tanpa merasa letih dan terus berjalan maju, sampai akhirnya mereke mencapai maksud-tujuan.

Tetapi kelompok yang gagal adalah mereka yang melangkah kaki pada masalah-masalah pokok keagamaan, namun mereka tidak mengarungi jalan suluk. Mereka pasti menjadi tak bertuhan. Misalnya sebagian orang mengatakan, “Kami pun selalu mendirikan salat, juga bersemedi, akan tetapi tidak ada faedahnya”. Sama seperti yang diterangkan oleh seseorang bernama Mansur Masih, bahwa yang menyebabkan dia masuk keristen adalah:dia pergi kepada orang-orang suci, senantiasa bersemedi, akan tetapi tidak memperoleh manfaat apa-apa. Maka dia menjadi kristen setelah menyimpan prasangka-buruk. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.24)

- - - - -oo0oo- - - - -

ISTIQAMAH

Nah, orang-orang yang tidak sabar akan berada di dalam belenggu syetan. Jadi, orang mutaki pun harus berperang melawan ketidak-sabaran. Di dalam kitab bustan ada diterangkan perihal seorang aabid (yang senantiasa menyibukkan diri dalam beribadah –pent.), bahwa bila saja ia beribadah maka Hatif (malaikat yang menyampaikan suara ghaib –pent.) selalu menyerukan bahwa, “engkau itu tidak diterima dan ditolak”. Suara tersebut dan mengatakan, “kini kan sudah di putuskan. Apa gunanya lagi bersikeras”. Sang aabid itu menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “kemana lagi aku harus pergi meninggalkan Wujud Yang Mulia itu? Jika aku terkutuk, biarlah terkutuk. Ini suatu hal yang sangat berharga bahwa aku dikatakan terkutuk”. Belum lagi pembicaraan dengan sang murid itu berakhir, datanglah suara yang mengatakan: “Engkau sudah dikabulkan”

Jadi, ini semua adalah karena ketulusan dan kesabaran, yang merupakan syarat untuk menjadi mutaki. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1987 / Malfuzaat jld.1,h.24)

- - - - -oo0oo- - - - -

TUGAS SEORANG MUJAHID

Adapun yang difirmankan:

Wallaziyna jahaduw fiynaa lanahdiyannahum subulanaa (Alankabut:70)

Yakni, “Orang yang berusaha di jalan kami, dia akan menemukan jalan” – artinya adalah bahwa dia harus berusaha keras/berjuang bersama rasul. Setelah dua tiga jam lalu melarikan diri, itu bukanlah pekerjaan seorang mujahid. Melainkan, siap mengorbankan jiwa adalah pekerjaanya. Jadi, tanda orang yang mutaki itu adalah istiqamah. Sebagaimana difirmankan:

innallaziyna qoluw robbunallahu summas-taqomuw (Haamim As-sajadah)

Yakni mereka yang telah mengatakan bahwa “Rabb kami adalah Allah” serta yang telah memperlihatkan istiqamah. Dan mereka telah mencari Allah kesana-kemari. Artinya adalah bahwa keberhasilan itu terletak pada istiqamah. Dan hal itu berupa tindakan mengenali Allah serta tidak takut terhadap ujian, goncangan dan cobaan. Sudah pasti hasilnya adalah bahwa mereka akan memperoleh karunia, berbicara dan bercakap-cakap dengan tuhan, seperti halnya para nabi. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as.pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.23-24)

- - - - -oo0oo- - - - -

UNTUK MENJADI WALI PERLU ADANYA COBAAN

Banyak sekali orang datang kesini dan menginginkan supaya disemburkan mantra-mantra kepada mereka sehingga mereka dapat mencapai Arasy serta termasuk diantara orang-orang yang berhasil memperoleh maksud tujuan. Mereka harus melihat bagaimana keadaan para nabi. Ini tidak benar dimana dikatakan bahwa dengan cara mengunjungi seorang wali maka seketika itu juga dapat lahir ribuan wali lainya. Allah Ta’ala berfirman:

Ahasibannasu ay-yutrakuw ay-yaquluww aamanna wahum laayuptanuwn (Al-ankabut:3) Selama manusia itu belum diberikan cobaan, dimasukkan kedalam fitnah/goncangan, maka kapan pula dia akan dapat menjadi wali.

Di dalam suatu pertemuan, Bayazid [salah seorang sultan turki –pen.] tengah memberikan ceramah keagamaan. Di tempat itu hadir juga seorang anak keluarga syech yang memiliki suatu silsilah panjang. Dia menyimpan kecemburuan terhadap beliau. Adalah kebiasaan Allah Ta’ala untuk meningalkan keluarga-keluarga lama lalu memilih yang baru. Sebagaimana Dia telah meninggalkan Bani Israil dan memilih Bani Ismail. Sebab, orang-orang itu telah tenggelam didalam kesenangan dan kebahagiaan sehingga mereka melupakan Tuhan.

Watikal-ayyaamu nudawiluhaa baynannaas – [Dan hari-hari itu kami pergilirkan diantara manusia] (Al-Imran:141)

Maka terpikir oleh anak syech tersebut bahwa beliau ini adalah dari kalangan keluarga biasa; bagaimana pula beliau bisa menjadi orang yang istimewa sehingga orang-orang tunduk kepada beliau sedangkan kepadanya tidak.

Hal itu dizahirkan oleh Allah Ta’ala kepada Hz.Bayasid. Maka beliaupun mulai memberikan ceramah dalam bentuk dongeng. Bahwa di suatu tempat, didalam sebuah pertemuan pada malam hari, menyala sebuah lampu yang berisikan minyak dan air. Maka terjadi perdebatan antara minyak dan air. Si air berkata kepada minyak, “Engkau keruh serta kotor. Dan walaupun engkau kotor, engkau berada diatasku. Aku adalah barang yang bersih dan aku dipergunakan untuk bersuci, namun aku berada dibawah. Apa sebenarnya yang menyebabkan ini?” Si minyak mengatakan, “sekian banyak penderitaan yang telah kualami, mana pula engkau ada menanggungnya – yaitu penderitaan yang karenanya aku memperoleh kedudukan tinggi ini. Ada suatu masa ketika aku disemaikan, hidup terselubung didalam tanah, menjadi hina. Kemudian atas kehendak Tuhan aku tidak mendapat kesempatan untuk berkembang, aku dikekang, lalu setelah menjalani berbagai-macam jerih-payah, akupun dibersihkan. Aku diperas ditempat penyaringan/penyulingan minyak. Barulah aku menjadi minyak, lalu aku dibakar dengan api. Apakah setelah menjalani sekian banyak kesengsaraan tersebut aku tidak harus memperoleh ketinggian ini?” (pidato pertama Hz.Masih Mauud as.pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.25-26)

- - - - -oo0oo- - - - -

SETELAH MENGALAMI PENDERITAAN DAN KESENGSARAAN PARA WALIULLAH MEMPEROLEH BERBAGAI MARTABAT

Itu adalah suatu contoh bahwa para wali Allah memperoleh berbagai martabat/derajat setelah mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Ini adalah pemikiran keliru kebanyakan orang, bahwa seseorang pergi kepada orang tertentu dan tanpa susah-payah serta tanpa pensucian diri dalam seketika dia telah masuk kedalam golongan para saddiq. Perhatikan Al-quran syarif, bagaimana mungkin Tuhan itu dapat ridho kepada kalian selama kalian mengalami kesengsaraan dan goncangan seperti para nabi – [yaitu] mereka yang kadang-kadang dalam keadaan terjepit sampai mengucapkan:

Hatta yaquwlar-rasuwlu wallaziyna aamanuw mahuu mataa nashrullahi, alaa inna nashrallahi qariyb – [sehingga rasul dan orang-orang yang beriman besertanya berkata, “Kapankah akan datang pertolongan Allah?” Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat] (Al-Baqarah:215)

Hamba-hamba Allah senantiasa dimasukkan ke dalam kesengsaraan. Setelah itu barulah Tuhan menerima mereka. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.26)

- - - - -oo0oo- - - - -

DUA JALAN MENUJU KEBERHASILAN

Para sufi menuliskan bahwa ada dua jalan menuju keberhasilan. Yang pertama adalah ‘suluk’ dan kedua adalah ‘jazab’. Suluk adalah [suatu jalan ] dimana orang-orang dengan kesadaran akal-pikiran mereka memilih jalan Allah Dan Rasul saw.. Sebagaimana difirmankan:

Qul inkuntum tuhibbuwnalloha fat-tabi-uwniy yuhbib kumullah (Al-Imran:32). Yakni, “seandainya kalian ingin menjadi kekasih Allah, maka ikutilah Rasul Akram saw.”.

Beliaulah Rasul yang dimaksud dengan Haadi Kamil (pembimbing yang sempurna). Yaitu Rasul yang telah menanggung sekian banyak kesengsaraan/musibah yang tidak ada bandinganya di dunia ini. Satu hari pun beliau tidak memperoleh kesempatan istirahat. Nah, pengikut-pengikut yang sejati tentulah orang-orang yang berusaha-keras sepenuhnya mengikuti segala tutur-kata dan amal-perbuatan orang yang mereka ikuti. Pengikut adalah dia yang mengikuti dari segala segi. Allah ta’ala tidak menyukai orang-orang yang mencari kesenangan bagi diri sendiri (bersenang-senang) dan yang mencari-cari kesusahan sendiri. Justru mereka itu akan memperoleh kemurkaan Allah Ta’ala.

Disini diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mengikuti Rasul Akram saw., maka tugas seorang saalik (yang menjalankan ‘suluk’; yang mengikuti jalan Alllah dan Rasul-Nya –pent.) itu adalah, pertama-tama dia harus menelaah seluruh riwayat/sejarah Rasulullah saw., lalu mengikutinya. Itulah yang dinamakan ‘suluk’. Di jalan ini banyak kesengsaraan dan penderitaan. Setelah menjalani semua itulah baru manusia menjadi seorang saalik. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.27)

- - - - -oo0oo- - - - - -

DERAJAT ORANG-ORANG YANG MEMPEROLEH ‘JAZAB’

Derajat-derajat orang yang memperoleh ‘jazab’ adalah lebih tinggi daripada derajat para saalik. Allah Ta’ala tidak hanya meletakkan mereka pada derajat suluk, melainkan Dia sendiri yang memasukan mereka ke dalam bala-musibah serta menarik mereka ke arah-Nya dengan kekutan magnetis yang sudah ada dari sejak semula. Segenap para nabi merupakan orang-orang yang memperolaeh ‘jazab’. Tatkala ruh manusia menghadapi bala-musibah, maka setelah menjalani gemblengan serta pengalaman, barulah ruh itu bersunar-sinar. Sebagaimana halnya logam atau kaca, unsur-unsur cahaya, namun mereka bisa berkilauan setelah menjalani pemolesan/pembersih. Hati iniharus dipoles/dipersihkan sedemikian rupa sehingga wajah kita tampak di dalamnya.

Apa yang dimaksud dengan tampaknya wajah? Adalah pemenuhan dari “Takhallaquw bi akhlaqillahi”. Hati para saalik itu merupakan cermin. Yaitu cermin yang telah dipoles/dibersihkan sedemikian rupa oleh bala musibah dan kesengsaraan, sehingga akhlak Nabi Muhammad saw. membekas didalamnya. Dan hal ini dapat terjadi pada saat sudah tidak tersisa lagi karat atau kotoran apapun di dalam dirinya akibat menjalani sekian banyak mujahidah dan pensucian diri. Barulah derajat tersebut dapat diraih. Setiap orang mukmin perlu mengadakan pembersihan seperti ini hingga batas tertentu. Tanpa pembersihan/pensucian, tidak seorang mukmin pun akan memperoleh najat(keselamatan). Seorang ‘saalik’, ia dengan sendirinya melakukan pemolesan/pembersihan. Mereka menanggung bala-musibah melalui tugas-tugas/pekerjaan mereka. Akan tetapi orang yang memperoleh ‘jazab’, dia yang dimasukkan ke dalam bala-musibah. Tuhan sendiri yang melakukan pembersihan bagi dirinya. Dan dengan membersihkanya melalui berbagai macam bala-musibah serta kesengsaraan, Dia menganugerahkan kepadanya derajat ‘cermin’. Buah yang dihasilkan oleh seorang ‘saalik’ dan ‘majzub’(orang yang memperoleh jazab) pada dasarnya adalah sama. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.27-28)

- - - - -oo0oo- - - - -

Pen:M1/1990

File DN> (C:MALFUZAT.20)

LEMBARAN MALFUZAAT

Kutipan Sabda-sabda Hz.Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi & Masih mauud as.

“IMAN BIL GHAIB”

Ketakwaan – sebagaimana yang telah saya uraikan – memerlukan suatu usaha-gigih/susah/payah. Oleh karena itu difirmankan:

Hudallil-muttaqiynal-laziyna yu’minuwna bilghoibiy (Al-Baqarah:3-4)

Di dalamnya terdapat suatu usaha-gigih/susah-payah. Berbeda dengan kesaksian nyata, beriman kepada hal-hal yang ghaib itu memerlukan suatu usaha-gigih. Jadi, bagi seorang mutaki, sampai batas tertentu diperlukan usaha-gigih. Sebab ketika dia meraih derajat saleh, maka hal-hal yang ghaib itu sudah tidak menjadi ghaib lagi baginya. Karena, di dalam seorang saleh mengalir sebuah sungai yang sampai kepada tuhan. Dia menyaksikan Tuhan serta kecintaa-Nya melalui mata sendiri. Yaitu:

Wa man kaana fiy haazihii a’maa (Bani Israil:73)

Dari sini nyata bahwa sebelum manusia memperoleh cahaya sepenuhnya di dunia ini, dia kapanpun tidak akan dapat menyaksikan Tuhan. Jadi, tugas seorang mutaki itu adalah senantiasa menyiapkan ‘surma’ (celak) yang dapat menghindarkan turun/susutnya secara rohani air yang dimilikinya. Kini nyatalah bahwa pada mula pertama seorang mutaki itu buta adanya.

Setelah melalui usaha-gigih dan pensucian-diri, dia pun meraih nur. Jadi, setelah mengalami gemblengan serta sudah menjadi saleh, maka tidak ada lagi masalah ‘iman-bil-ghaib’, dan istilah susah-payah sudah tidak ada lagi. Sebagaimana rasul Akram saw. telah diberikan kesempatan menyaksikan surga dan neraka dengan mata telanjang di dunia ini juga. Hal-hal yang harus diakui dalam corak ‘iman-bil-ghaib’ bagi seorang mutaki, Keseluruhanya telah disaksikan dengan nyata oleh beliau saw.. Di dalam ayat ini di isyaratkan bahwa kalaulah seorang mutaki itu buta adanya dan menanggung perihnya susah-payah/usaha-gigih,akantetapi orang yang saleh telah berada di dalam sebuah ‘daarul-aman’ 9tempat yang aman). Dan tingkatan nafsunya sudah mencapai Nafsu mutma’innah. Di dalam diri seorang mutaki berlaku kondisi iman-bil-ghaib.dia berjaln dengan meraba-meraba bagaikan orang buta. Dia tidak memperoleh kabar apapun. Dan dia bersikap iman-bil-ghaib terhadap segala sesuatunya. Di situlah terletak ketulusanya. Dan sebagai imbalan dari ketulusanya itu Allah Ta’ala menjanjikan bahwa dia akan memperoleh keberhasilan.

............Wauwlaa ika humul- muflihuwn - - [mereka itulah orang-orang yang berjaya] (Al-Baqarah:6) (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des. 1897 / malfuzaat jld.1,h. 28-29)

- - - - -oo0oo- - - - -

MENDIRIKAN SALAT

Setelah itu berkenaan dengan orang mutaki dikatakan:

.............Wayuqiymunas-shalaat........(Al-Baqarah:4)

Yakni, dia mendirikan shalat. Disini digunakan kata ‘mendirikan’. Ini pun mengisyaratkan pada masalah usaha gigih/susah-payah yang merupakan ciri-khas orang mutaki. Yakni tatkala dia mulai mengerjakan shalat, maka dia harus melawan berbagai macam waswas (kegelisahan;keraguan)yang mengakibatkan runtuhnya berkali-kali shalat yang ia lakukan. Dan itulah yang harus ia dirikan. Ketika dia mengucapkan “Allahu akbar”, maka berkecamuk rasa waswas yang membubarkan konsentrasi di dalam hatinya. Hal itu melayangkannya sampai kemana-mana. Timbul rasa duka. Setiap orang berjuang mati-matian untuk tetap sadar dan untuk meraih kelezatan. Dan dia berusaha mati-matian untuk mendirikan shalat yang jatuh. Berkali-kali ia mengucapkan “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’ iyn”, memanjatkan doa supaya dapat menegakkan shalat. Dan dia memohon petunjuk ‘ihdinassirotol mustaqym’ yang dapat membuat shalatnya tegak kembali.

Dalam melawan rasa waswas tersebut, seorang mutaki itu bagaikan anak kecil yang berguling-guling menangis di hadapan Tuhan sambil mengatakan, “Aku tengah ‘akhlada ilal ardhi’ [aku tengah condomng/jatuh kebumi] (Al-A’raf:177)”. Jadi, itulah peperangan yang harus dilakukan di dalam salat oleh orang mutaki melawan nafsu. Dan berdasarkan itulah dia akan memperoleh ganjaran pahala.

Sebagian orang ada yang ingin langsung melenyapkan rasa waswas di dalam shalat sama sekali.padahal ada maksud lain dari pada ‘wayuqiymunas shalata’. Apakah Tuhan tidak tahu ? Ada sebuah sabda yang Mulia Syech Abdul Qadir Jaelani (rahmatullahi alaihi), bahwa pahala itu tetap ada selama masih berlangsung mujahidah (usaha gigih;perjuangan). Kalau mujahidah sudah habis, maka pahala pun akan terputus. Jadi, puasa dan shalat itu akan tetap berupa amal selama di dalamnya terdapat usaha gigih melawan rasa waswas. Akan tetapi tatkala di dalamnya telah timbul suatu derajat yang tinggi/mulia serta orang yang mendirikan shalat dan mengerjakan puasa itu telah selamat keluar dari kondisi usaha-gigihnya alam ketakwaan, dan lalau dia telah dipenuhi oleh corak kesalehan, maka pada saat itu puasa serta salat tersebut sudah tidak berupa amal lagi adanya.

Pada saat itu orang-orang menanyakan, ‘apakah pada saat itu shalat sudah tidak perlu lagi dikerjakan ? sebab pahala hanya ada tatkala usaha-gigih masih harus dilakukan”. Nah, masalahnya adalah bahwa pada saat itu salat tidak lagi berupa amal, melainkan telah berupa sebuah anugerah/hadiah. Salat itu akan menjadi santapan baginya, dan berupa ‘qurratul aiyn’ – [penyejuk mata]’ baginya. Hal itu seakan- akan bonus surga.

Sebaliknya, orang-orang yang masih berada didalam kondisi mujahidah, mereka telah bergulat. Sedangkan mereka yang di terangkan di atas ini telah memperoleh najat (keselamatan). Artinya adalah bahwa tatkala tahap ‘suluk’ seorang manusia telah selesai, maka baginya bala-musibahpun telah selesai.

Sebagai contoh,jika seorang yang telah dikebiri mengatakan bahwa dia tidak pernah mengarahkan pandangannya kepada perempuan manapun, maka nikmat dan pahala apa pula yang layak di katakan kepadanya? Didalam dirinya saja sudah tidak ada kecenderungan untuk memandang dengan birahi. Akan tetapi seorang laki-laki yang jantan/berpotensi melakukan hal yang seperti itu, maka dia akan memperoleh ganjaran pahala.

Demikianlah manusia harus melampaui ribuan fase. Didalam beberapa masalah, pengalaman-pengalamannya mebuat dia dapat menguasai diri. Dan dia sudah menjalin perdamaian dengan nafsunya. Kini dia telah berada didalam surga. Akan tetapi pahala seperti yang pertama tadi itu sudah tidak ada lagi. Melainkan dia telah melakukan tindak jual beli, dan dia telah menikmati keuntungannya. Namun corak yang pertama sudah tidak ada. Setelah melakukan suatu pekerjaan dengan usaha-gigih/susah-payah, maka didalam diri manusia akan timbul corak alami. Seorang yang secara alami mendapat kan kelezatan, maka dia tidak akan dapat dipisahkan lagi dari pekerjaannya itu. Cara alami dia tidak akan dapat dienyahkan dari situ. Jadi, sampai pada tahap.”ittiqa” dan takwa itu segala sesuatunya belum terbuka dengan jelas. Melainkan masih berupa semacam pernyataan/ cetusan.(pidato pertama Hz.Masuh Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/Malfuzaat jld.1,h.29-31)

- - - - -oo0oo- - - - -

MENGORBANKAN APA-APA YANG TELAH DIREZEKIKAN ALLAH

Setelah tentang orang-orang mutaki di katakan: Wamimma rozaqnaahum yuwnfiquwn (Al-Baqarah:

Di sini bagi orang mutaki digunakan kata ‘mimma’, sebab pada saat itu dia sedang berada di dalam kondisi ‘buta’. Oleh karena itu apa saja yang telah diberikan tuhan kepadanya, sebagian dari antaranya anugerah/rizki itu dia berikan atas nama Tuhan.

Sebenarnya jika dia memiliki mata, tentu dia akan melihat bahwa dia tidak memiliki apa-apa; Segala sesuatunya hanya milik Tuhan. Ini adalah suatu tabir yang lazim terdapat di dalam ittiqa (takwa). Keinginan kondisi ittiqa itu yang membuat orang mutaki tersebut mengeluarkan sebagian dari apa-apa yang telah di berikan Tuhan padanya. Rasul karim saw., pada saat menjelang wafat, beliau menanyakan kepada Hz.Aisyah ra., apakah masih ada yang tersisa di rumah ini?Maka di ketahui bahwa ada uang satu dinar. Beliau bersabda: “Ini sungguh jauh dari ciri kehidupan yang dekat dengan Tuhan, bahwa dia menyimpan segala sesuatu pada dirinya”. Rasul Akram saw. telah melewati derajat ittiqa dan sudah sampai pada derajat kesalehan. Oleh karena itu tidak ada istilah ‘mimma’ bagi beliau. Sebab, orang itu adalah buta, yaitu orang yang menyimpan sebagian pada dirinya dan sebagian lagi dia berikan kepada Tuhan. Namun hal itu merupakan suatu kelaziman bagi orang mutaki. Sebab dengan memberikan harta di jalan Tuhanpun sudah merupakan peperangan melawan nafsu baginya. Itulah yang menyebabkan dia memberikan sebagian dan sebagian lagi dia simpan untuk dirinya. Yaa, Rasul akram saw. telah memberikan segala-galanya di jalan tuhan, dan sedikitpun tidak ada yang beliau simpan untuk diri sendiri.

Sebagaimana di dalam tulisan Dharm Mahutsu terdapat keterangan tentang tiga kondisi manusia yang dialami manusia dari sejak pertama hingga akhir, maka seperti itu pula disini pun Alquran karim – yang datang untuk membawa manusia menempuh jenjang-jenjang kemajuan – telah memulai dengan ittiqa. Ini adalah sebuah jalan yang penuh kegigihan/susah-payah. Ini adalah sebuah lapangan yang berbahaya. Di tangan orang mutaki terdapat pedang, dan di tangan lawan pun ada pedang. Jika dia selamat, maka dia telah memperoleh najat(keselamatan), dan tidak termasuk ke dalam golongan ‘Asfalus Saafiliyn’.disini tentang sifat-sifat yang mutaki tidak ada difirmankan bahwa, “Apapun yang telah kami berikan, dia keluarkan seluruhnya”. Di kekuatan iman seperti yang ada pula pada diri nabi, sehingga tidak seperti pemberi petunjuk kita yang sempurna (Rasulullah saw.),Apa yang telah di berikan Tuhan kepadanya, tidak semuanya ia serahkan kembali kepada Tuhan. Oleh karena itu pertama-tama ia hanya di wajibkan membayar pajak yang ringan, supaya setelah merasakan kelezatan itu dia menjadi siap untuk melakukan pengorbanan yang lebih banyak lagi.(pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des 1897/Malfuzaat jld.1,h.31-32)

- - - - -oo0oo- - - - -

- YANG DIMAKSUD DENGAN REZEKI

Wamimma rozaqnaahum yuwnfiquwn (Al-Baqarah:4) Yang dimaksud dengan rezeki tidak hanya harta-kekayaan. Melainkan segala sesuatu yang telah dianugerahkan kepada mereka. Ilmu, hikmah, kemahiran dalam bidang kesehatan, semuanya ini termasuk di dalam rezeki. Dari hal-hal yang semacam inilah harus dia keluarkan di jalan Allah.Manusia harus meraih kemajuan di jalan ini secara bertahap dan selangkah demi selangkah. Jika seandainya ada ajaran seperti Injil - bahwa setelah memperoleh tamparan di pipi yang satu maka pipi yang satu pun diserahkan - akibat tidak mungkinnya ajaran seperti itu diterapkan, manusia akan luput dari pahala. (pidato pertama Hz.masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/Malfuzaat jld.1,h.32)

- - - - -oo0oo- - - - -

BERSESUAIAN DENGAN FITRAT MANUSIA, ALQURAN MEMBIMBING KEARAH KEBERHASILAN BERTAHAP

Akan tetapi Alquran, bersesuaian dengan fitrat manusia, membimbing manusia kearah keberhasilan secara bertahap. Permisalan bagi Injil itu adalah bagaikan seorang anak muda yang dipaksa membaca buku yang sangat rumit sebaik dia dimasukkan ke dalam sekolah. Allah Ta’ala itu Mahaberakal (penuh hikmah). Tuntutan dari hikmah-Nya adalah supaya pendididkan itu diselesaikan secara bertahap.

Kemudian tentang orang mutaki difirmankan: Wallaziyn yu’minuwna bimaa unzila ilayka wamaa unziyla min-qoblika wabil-aakhiroti hum yuwqinuwn (Al-Baqarah:5)

Yakni: “Orang-orang yang mutaki itu adalah mereka yang beriman kepada kitab yang telah turun kepada engkau [Rasulullah saw.], serta mereka yakin akan akhirat”.

Hal ini pun tidak luput dari usaha-gigih/susah-payah. Hingga saat ini keimanan masih berada di dalam bentuk mahjubiyyat - - [objek yang memperoleh kecintaan ilahi]. Pandangan orang yang mutaki bukanlah pandangan yang memiliki makrifat maupun bashirat. Dia telah melawan setan dengan ketaqwaan sehingga sampai saat itu dia mempercayai sesuatu. Begitulah keadaan jemaat kita pada saat ini. Mereka melalui ketaqwaan memang lebih beriman/percaya, namun hingga saat itu mereka belum tahu sampai dimana jemaat ini bakal berkembang melalui tangan Ilahi. Jadi, ini adalah suatu kepercayaan/iman yang pada akhirnya akan memberikan faedah.

Jika kata ‘yaqiyn’ dipergunakan secara umum, maka maksudnya adalah keyakinan pada derajatnya yang terendah. Yakni dari tiga tingkatan ilmu, ‘ilmul-yaqiyn’ adalah tingkatan yang paling rendah. Pada tingkatan inilah orang yang bertaqwa itu berada. Namun sesudah itu tingkatan ‘ainul-yaqiyn’ dan ‘haqqul yaqiyn’ pun baru bisa di raih setelah melalui jenjang-jenjang ketaqwaan. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/Malfuzaat jld.1,h.32-33)

- - - - -oo0oo- - - - -

TAKWA BUKANLAH BARANG YANG KECIL

Takwa bukanlah barang yang kecil.melaluinya perlawanan terhadap segenap setan yang telah menguasai setiap kekuatan dan kemampuan yang terdapat di dalam diri manusia. Seluruh kekuatan/potensi yang terdapat di dalam diri manusia pada kondisi ‘nafsu-amarah’, adalah merupakan setan. Seandainya tidak ada perbaikan pada kekuatan-kekuatan tersebut, maka mereka akan memperbudak manusia. Ilmu dan akal pun jika dipergunakan pada jalan yang buruk akan menjadi setan. Pekerjaan orang mutaki adalah mengadakan keseimbangan atas kekuatan-kekuatan tersebut serta atas segenap potensi lainya. Demikian pula orang-orang yang pada segala kondisi menganggap buruk sikap pembalasan, amarah serta nikah, mereka itu menentang hukum kuadrat. Dan mereka melawan kekuatan/potensi manusia. (pidati pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/Malfuzaat jld.i,h.33)

------oo0oo-------

AGAMA YANG BENAR ADALAH AGAMA YANG MELESTARIKAN KEKUATAN/POTENSI MANUSIA

Agama yang benar adalah agama yang melestarikan kekutan/potensi manusia. Bukanya yang menyabut kekutan/potensi tersebut sampai ke akar-akarnya. Meningkatkan kejahatan (dorongan seksual) taupun amarah yang telah di ciptakan oleh Allah Ta’ala di dalam fitrat Tuhan. Sama halnya seperti sikap hidup meninggalkan segenap hal-hal keduniawian atau menjadi ‘rahib’ (pertapa). Kesemuanya ini adalah hal-hal yang menghancurkan haqul-ibaat. Jika hal itu memang demikian maka berarti kita mengecam Tuhan yang telah menciptakan kekutan-kekutan tersebut di dalam diri kita. Jadi ajaran-ajaran demikian, yang terdapat di dalam Injil dan yang mutlak menghancurkan kekutan-kekutan tersebut, akan membawa kita pada keselamatan. Allah Ta’ala menceritakan untuk mengadakan keseimbangan terhadap kekuatan-kekuatan itu. Dia tidak menghendaki supaya kekutan-keuatan tersebut dihancurkan. Firman-Nya: Innalloha ya’muru bil-adli wal-ihsan (ayat:An-Nahl 91)

Adil adalah suatu yang harus dimanfaatkan oleh semua orang. Ajaran yang “diberikan oleh” (?) Almasih as.bahwa “jika kamu melihat dengan pandangan yang buruk maka congkellah matamu”, di dalamnya pun terletak pembinasaan terhadap kekuatan/potensi tadi .sebab beliau tidak mengajarkan bahwa “Sama-sekali janganlah kamu memandang wanita yang bukan muhrim”. Justru sebaliknya beliau mengizinkan “boleh saja dilihat, tetapi jangan melihatnya dengan pandangan zina”. Larangan untuk melihat itu sendiri yang tidak ada. Kalau serorang akan melihat, maka setelah itu diperhatikan, apa pengaruhnya terhadap kekuatan/potensi yang dia miliki. Kenapa tidak seperti Alquran saja, yang melarang untuk memandang hal-hal yang dapat menggelincirkan mata serta menyesalkan sikap pembinasaan mata yang merupakan sesuatu yang bermanfaat dan berharga itu.(pidato pertama Hz.masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.33-34)

- - - - -oo0oo- - - - -

YANG DIMAKSUD DENGAN PARDAH ISLAM

Belakangan ini banyak dilancarkan kritikan terhadap masalah pardah. Akan tetapi orang-orang ini tidak mengetahui bahwasanya yang dimaksud dengan “Pardah Islam” itubukanlah penjara. Melainkan suatu penghalang supaya pria dan wanita yang bukan muhrim tidak dapat melihat satu sama lainya. Kalau pardah ditegakkan, maka manusia tidak akan tergelincir.

Seorang yang bersikap adil dapat mengatakan bahwa dikalangan orang-orang dimana pria dan wanita yang bukan muhrim tanpa sungkan serta tanpa segan dapat berjumpa atau berjalan-jalan,bagaimana mungkin secara mutlak mereka tidak akan tergelincir oleh dorongan nafsu seks. Kadang-kadang kita mendengar serta melihat melihat bangsa-bangsa yang menganggap bahwa pria dan wanita yang bukan muhrim hidup bersama di satu rumah – dalam kondisi pintu tertutup – bukanlah suatu hal yang tercela. Seolah-olah ini merupakan suatu peradaban.

Untuk membendung akibat-akibat buruk itulah Pembuat Syariat Islam (Allah swt.-pent.) melarang melakukan hal-hal yang dapat menakibatkan ketergelinciran. Mengenai peristiwa-peristiwa seperti itu dikatakan: dimana ada berkumpul seorang pria dan seorang wanita yang bukan muhrim, maka yang ketiga adalah setan. Perhatikanlah akibat-akibat buruk yang di tanggung oleh Eropa karena ajaran yang memutuskan tali hubungan dengan Tuhanitu.di beberapa tempat berlangsung kehidupan kotor yang benar-benar memalukan. Ini adalah akibat dari ajaran-ajaran tadi. Jika kalian ingin melindungi suatu benda dari penghianatan, maka jagalah dia. Akantetapi apabila kalian tidak menjaganya serta menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang beradab, maka ingatlah bahwa benda itu pasti akan hancur.

Betapa sucinya ajaran Islam yang telah memisahkan pria dengan wanita sehingga terhindar dari ketergelinciran. Dan ia tidak mengharamkan serta mencemarkan kehidupan manusia, yang mana karena melakukan hal itulah Eropa telah menyaksikan hari-hari yang penuh dengan peperangan dan aksi bunuh- diri. Sebagian wanita-wanita baik telah menjalani kehidupan kotor. Ini adalah sesuatu dampak nyata karena adanya izin untuk memandang wanita yang bukan muhrim.(Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat Jld.1,h.34-35)

- - - -oo0oo- - - -

KETAKUTAN-KETAKUTAN ANUGERAH ALLAH TA’ALA & PENDAYA-GUNAANNYA

Seberapa banyak kekuatan / potensi yang telah di anugerahkan oleh Tuhan, kesemuanya itu di berikan bukanlah untuk di sia-siakan. Menciptakan keseimbangan pada kekuatan-kekuatan itu serta menggunakannya pada jalan yang benar, adalah merupakan pertumbuhan/perkembangan dari pada kekuatan-kekuatan itu sendiri. Oleh karena itulah Islam tidak mengajarkan supaya potensi kejantanan (seksual) maupun potensi mata itu untuk di cabut. Melainkan ia mengajarkan untuk memamfaatkan mereka pada jalan yang benar serta mensucikan potensi-potensi tersebut. Sebagai mana Allah berfirman: “Qodaflahal mu’minuwn – Sesungguhnya orang-orang mukmin itu telah berhasil/sukses”(Al-mu’minun:2).Dan sama seperti itu Dia telah berfirman di sini. Yakni setelah menguraikan gambaran kehidupan orang yang mutaki, pada akhirnya Dia telah mengeukakan hasil ketakwaan tersebut: “Wa ulaika humulmuflihuwn – [Dan sesungguhnya merekalah orang-orang yang berjaya]” (Al-Baqaqrah:6).Yaitu, orang-orang yang melangkahkan kaki di atas ketakwaan; yang beriman pada hal-hal ghaib; salatya goyah, maka mereka menegakkannya kembali; mereka yang memberikan apa-apa yang telah di anugerahkan Tuhan; walaupun ada ancaman-ancaman bahaya terhadap nyawa, mereka tetap percaya terhadap Kitab-kitab Ilahi terdahulu maupun yang telah di turunkan di zaman mereka. Dan mereka sampai di derajat keyakinan. Inilah orang-orang yang memperoleh hidayat. Mereka berada di jalan yang lurus ke depan, yangmana melaluinyalah manusia akan memperoleh keberhasilan/ kejayaan. Nah, inilah orang-orang yang telah meraih kejayaan dan akan sampai pada maksud-tujuan mereka, dan mereka telah bebas dari segala bahaya. Untuk itulah pada bagian permulaan Allah Ta’ala telah mengajarkan ketakwaan pada kita lalu menganugrahkan sebuah Kitab yang mengandung wasit-wasiat tentang takwa.

Jadi, Jemaat kita seharusnya merasakan kedukaan ini lebih hebat dari pada segenap kedukaan duniawi, yaitu, apakah dalam diri mereka telah terdapat ketakwaan atau tidak? (Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as.pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld. 1,h.35)

- - - -oo0oo- - - -

Pen: M1/1990

File DN> (C:MAFUZAT.21)

LEMBARAN MALFUZAAT

Kutipan Sabda-sabda Hz.Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi & Masih mauud as.

JALANILAH HIDUP DENGAN KERENDAHAN HATI DAN KESEDERHANAAN

Untuk menjadi seorang mutaki terdapat syarat supaya menjalani hidup ini dengan kerendahan hati dan kesederhanaan. Ini adalah sebuah cabang daripada ketakwaan, yang dengan perantaraannyalah kita akan melawan amarah/ murka yang bukan pada tempatnya. Tahapan yang terakhir dan paling sulit bagi orang-orang yang memperoleh makrifat serta bagi para siddiq, adalah menghindarkan diri dari amarah/ murka. Kesombongan dan keangkuhan timbul dari amarah, dan kadang-kadang amarah itu sendiri merupakan hasil dari pada kesombongan serta keangkuhan. Sebab amarah tersebut timbul tatkala seorang manisia menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. Saya tidak ingin kalau warga Jemaat saya satu sama lain saling menganggap hina atau menganggap lebih tinggi. Atau bersikap angkuh terhadap satu sama lainnya maupun memandang rendah. Tuhan mengetahui siapa yang besar atau siapa yang kecil. hal yang demikian itu adalah semacam kenistaan, dimana di dalamnya terkandung suatu kenistaan. Dirisaukan bahwa kehinaan tersebut tumbuh besar bagaikan benih dan mengakibatkan kehancuran baginya.

Sebagian orang menemui orang-orang besar dengan penuh hormat. Akan tetapi orag besar adalah dia yang mendegarkan/memperhatikan perkataan orang miskin dengan kerendahan hati; membahagiakan hatinya; menghormati perkataannya; tidak mengeluarkan kata-kata sinis yang dapat melukai hatinya.

Allah Ta’ala berfirman: Walaatanaabazuw bil-alqaabi bi’sal-ismul-fusuwqu ba-dal-iymaan, wamal-lam yatub fa’ulaa’ika humuz-zolimuwn (Al-Hujurat:12) Janganlah kalian saling mengimbau dengan panggilan buruk. Sikap yang demikian itu adalah suatu perbuatan buruk dan dosa. Barang siapa yang mengejek-ejek orang lain, dia tidak akan mati sebelum dia sendiri tenggelam didalam hal yang seperti itu. Janganlah kalian menganggap hina saudara-sudara kalian. Kalian itu semua meminum air dri satu telaga yang sama. Maka, siapa yang tau bahwa sudah nasib seseorang akan meminum air yang banyak? Seseorang tidak dapat menjadi terhormat dan terpandang berdasarkan ketentuan-ketentuan duniawi. Di sisi Tuhan, orang yang besar itu adalah orang yag mutaki. Inna akramakum indallahi atqokum innalloha aliymun khabiy (Al-Hujurat :14) (Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as.. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.36)

-- - -oo0oo- - - -

PERBEDAAN SUKU BANGSA

Adanya perbedaan suku bangsa, tidaklah menyebabkan kelebihan antara satu sama lainnya. Allah Ta’ala menciptakan suku-suku bangsa ini hanyalah untuk identitas belaka. Dan pada zaman ini untuk mengetahui nenek moyang lebih dari empat generasi terdahulu saja sudah sulit. Bukanlah ciri khas orang-orang mutaki bahwa mereka terlibat dalam perselisihan antar etnis. Sebab Allah Ta’ala telah memutuskan bahwa bagi-Nya status suku bangsa/etnis itu tidak mempunyai arti apa-apa. Yang dapat menimbulkan kehormatan dan kebesaran sejati hanyalah ketakwaan. (Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as.. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.36-37)

-- - -oo0oo- - - -

SIAPAKAH YANG DI MAKSUD DENGAN ORANG MUTAKI

Didalam kalaam Ilahi didapati bahwa yang di maksud dengan orang mutaki itu adalah orang yang berjalan dengan keramahan dan kerendahan-hati. Dia tidak akan berbicara dengan angkuh. Cara ia berbicara adalah seperti orang bawahan yang berbicara dengan orang besar. Kita harus melakukan hal itu didalam setiap kondisi, yang dengan itulah kita akan memperoleh keberhasilan. Allah Ta’ala tidak menyewa dari siapapun (tidak berhutang budi pada siapapun –pent.).Dia secara khusus menginginkan ketakwaan. Barang siapa yang bertakwa, maka dia akan mencapai derajat yang paling tinggi.

Yang Mulia Rasulullah saw. ataupun Hz.Ibrahim as., diantara keduanya satu pun tidak ada yang memperoleh kehormatan dari harta warisan. Walaupun ini merupakan keimanan kita bahwasanya ayah yang Mulia Rasulullah saw.Abdullah, bukanlah seorang musyrik, akan tetapi bukanlah beliau yang telah menganugrahkan kenabian kepada Rasulullah saw. kenabian itu merupakan karunia Ilahi yang di peroleh karena kebenaran /kejujuran/ketulusan yang terdapat di dalam fitrat mereka. Itulah yang merangsang turunnya karunia. Hz.Ibrahim as. yang merupakan sesepuh para nabi, karena ketulusan dan ketakwaan beliaulah maka beliau tidak sungkan-sungkan untuk mengorbankan putra beliau. Beliau sendiripun telah di benamkan kedalam api. Lihatlah ketulusan dan kesetiaan junjungan kita yang Mulia Muhammad Rasulullah saw.. Beliau saw. telah menentang segala macam pergerakan buruk. Beliau telah menanggung berbagai musibah serta penderitaan. Akan tetapi Beliau tidak perduli. Itulah ketulusan dan kesetiaan yang membuat Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya. Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman: Innalloha wamalaa’ikatahuu yusholluwna alan-nabiy, yaa’ayyuhallaziyna ‘aamnuw shalluw alaiyhi wasallimuw tasliymaa (Al-Ahzab:57)

Artinya: “Allah Ta’ala beserta segenap Malaikat-Nya mengirimkan shalawat kepada Rasul saw.. Wahai orang yang beriman, kirimkan lah shalawat atas diri Nabi saw.”.

Dari ayat ini nyata bahwa amal-amal perbuatan rasul Akram saw. adalah sedemikian rupa sehingga untuk memujinya ataupun membatasi gambaran sifat-sifat beliau, Allah Ta’ala menggunakan suatu kata tertentu. Kata untuk itu memang bisa didapat, namun Dia sendiri yang tidak menggunakanya. Yakni, pujian akan amal-amal saleh beliau saw. itu tidak ada batasnya. Ayat semacam ini tidak pernah dipergunakan untuk nabi lainya. Di dalam ruh beliau saw. terdapat kebenaran/ketulusan dan kesetiaan. Dan amal-amal perbuatan beliau begitu disenangi di pandangan tuhan sehingga allah Ta’ala telah memberikan perintah untuk selamanya: supaya orang-orang mengirimkan shalawat kepada beliau saw. sebagai rasa syukur. Seandainya kita menelaah dari atas hingga ke bawah, maka kita tidak akan menemukan bandingan bagi semangat serta ketulusan beliau. Lihatlah sendiri zaman Hz.Masih as., sampai sejauh mana semangat atau ketulusan dan kesetiaan rohaniah beliau as. telah memberikan pengaruh pada pengikut-pengikut beliau?

Setiap orang dapat memahami betapa sulitnya untuk meluruskan/ memperbaiki kebiasaan buruk; betapa tidak mungkinnya menghapuskan adat-kebiasaan yang telah berakar. Akan tetapi Nabi Besar kita saw. telah meluruskan/memperbaiki puluhan ribu orang yang sebelumnya adalah lebih buruk dari pada binatang. Sebagian ada yang bagaikan hewan tidk dapat membedakan antara para ibu dengan saudara-saudara perempuan. Mereka memakan harta anak-anak yatim. Mereka memakan harta orang-orang yang telah meningal. Sebagian ada yang merupakan penyembah binatng; sebagian adalah atheis; sebagian lagi ada yang merupakan penyapembah unsur-unsur alam. Apa daratan arab itu? Daratan Arab adalah suatu kawasan yang di dalamnya terdapat kumpulan berbagai macam golongan agama. (Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as.. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.37-38)

-- - -oo0oo- - - -

ALQURAN ADALAH PETUNJUK YANG PALING SEMPURNA

Mamfaatnya yang paling besar adalah bahwa Alquran mengandung segala macam ajaran. Didalamnya terdapat cukup ajaran-ajaran untuk mencabut segala macam akidah yang salah ataupun ajaran buruk yang dapat timbul di dunia ini, sampai ke akar-akarnya. Ini adalah suatu hikmah mendalam dan kebijakan dari Allah swt.

Dikarenakan Kitab yang paling sempurna itu datang untuk melakukan islah/ perbaikan secara sempurna juga, maka adalah penting bahwa pada saat ia turun, penyakitpun sudah mencapai klimaksnya di tempat ia di turunkan. Sehinga dapatlah di lakukan pengobatan yang sempurna terhadap setiap penyakit. Jadi, di daratan Arab tersebut pada saat itu terdapat orang-orang yang sakit parah. Segala macam penyakit rohaniah ada di sana, yakni yang telah melanda pada saat itu maupun yang bakal menyerang generasi-generasi sesudahnya. Itulah sebabnya Alquran telah memenuhi syariat yang paling sempurna. Hal seperti ini tidak di perlukan pada saat kitab-kitab yang lainnya turun, dan tidak pula di dalam kitab-kitab tersebut terdapat ajaran yang kamil. (Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as.. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.38)

-- - -oo0oo- - - -

ISLAH YANG DILAKUKAN OLEH NABI KARIM SAW. MERUPAKAN MUKJIZAT YANG AGUNG

Sejauh mana berkat-berkat Nabi Akmal kita saw., seandainya seluruh mukjizat itu diklasifikasikan, maka hanya islah/perbaikan yang telah dilakukan oleh Beliau saw. sajalah yang merupakan suatu mukjizat agung. Jika ada seseorang yang menelaah keadaan ketika beliau saw.datang, lalu memperhatikan keadaan ketika beliau telah pergi, maka dia terpaksa harus mengakui bahwasanya daya pengaruh beliau itu sendiri sudah merupakan suatu mukjizat. Walaupun segenap Nabi layak untuk memperoleh kehormatan, akan tetapi; Zaalika fadhlullahi yu’tihi may-yasyaa—[Ini adalah suatu karunia Ilahi,yang ia berikan kepada siapa saja yang ia kehendaki]”. (Al-jum’ah:5)

Seandainya Yang Mulia Rasulullah saw. tidak datang, maka – bukan lagi kenabian – bukti akan adanya Tuhan pun tidak dapat di jumpai dalam keadaan demikian. Melalui ajaran beliaulah baru dapat di ketahui: Qul huallahu ahad, Allahushomad, lamyalid walam yuwlad, walam yakul-lahuu kufuwwanahad (Al-Ikhlas:2-5)

Andaikan di dalam Taurat terdapat ajaran seperti ini dan Quran Syarif hanya sekedar menjelaskannya saja, maka kenapa pula sampai ada orang-orang Nasrani? Ringkasnya, sejauh mana Alquran telah menunjukkan jalan-jalan ketakwaan serta telah mengajarkan cara untuk menjadi pewaris sebagai jenis manusia serta berbagai macam orang yang berakal; telah menunjukkan jalan bagi orang ‘jahil’[yang tidak tahu apa-apa –pent.] bagaimana caranya menjadi pewaris orang-orang berilmu dan filsuf; telah memberikan jawaban atas seluruh persoalan dari setiap lapisan – pendeknya tidak ada suatu golongan pun yang ia tidak ia beritahukan bagaimana cara untuk melakukan islah terhadap diri mereka. (Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as.. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.39)

-- - -oo0oo- - - -

IMAM MAHDI

Masih dan Imam Mahdi bukanlah dua tokoh yang berbeda, melainkan yang di maksud adalah satu orangnya. Mahdi itu artinya orang yang memperoleh petunjuk. Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa Masih yang dijanjikan itu bukanlah Imam Mahdi. Apakah Mahdi itu Masih atau tidak, bukanlah tugas orang islam untuk mengingkari ke-Mahdi-an sang Masih.

Sebenarnya Allah Ta’ala menggunakan kedua kata tersebut untuk kata seorang kafir, sesat maupun menyesatkan. Melainkan dia seorang ‘mahdi’ (yang mendapat petunjuk- pent.). Sebab Allah Ta’ala mengetahui bahwasanya Masih dan Mahdi yang akan datang itu bakal di katakan dajjal dan sesat. Untuk itulah dia di namakan Masih dan Mahdi.

Kaitan dajjal itu adalah dengan “Akhlada ilal ardhi – condong ke bumi” (Al-a’raf:177). Sedangkan Masih itu dengan rafa’ samawi (naik). Jadi apa-apa yang telah diinginkan oleh Allah Ta’ala, kesemuanya itu akan sempurna hanya di dalam dua zaman. Yang pertama di zaman beliau (rasulullah) saw., dan yang kedua di zaman Masih dan Mahdi. Yakni, di satu zaman telah turun Alquran serta ajaran yang benar. Akan tetapi ajaran ini telah di selubungi tabir pada zaman kebejatan/keburukan. Dan telah ditetapkan bahwa tabir penyelubung itu akan di sibakkan pada zaman Masih. Sebagaimana di firmankan bahwa Rasul Akram saw.telah melakukan pensucian diri terhadap sebuah jemaat/kelompok yang ada pada masa itu, yakni jemaat para sahabah. Dan yang satu lagi adalah tehadap jemaat/kelompok yang akan datang, yaitu yang mengenai mereka telah di katakan: “Lamma yalhaqu bihim” (Surah Jum’ah:4)

Nyatalah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kabar-suka bahwasanya dia tidak membiarkan Agama ini punah pada zaman kesesatan. Bahkan AllahTa’ala akan membukakan rahasia-rahasia kebenaran Alquran pada zaman yang akan datang sesudah itu. Dari sekian tanda, salah satu di antaranya adalah, Masih yang akan datang itu mempunyai suatu kelebihan dia memiliki pemahaman dan makrifat yang mendalam sekali tentang Alquran. Dan dengan hanya merujuk kepada Alquran dia akan memperingatkan orang-orang tentang kesalahan-kesalahan yang timbul di kalangan mereka karena tidak mengenal rahasia-rahasia kebenaran Alquran. (Pidato Pertama Hz.Masih Mauud as.. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.39-40)

-- - -oo0oo- - - -

PERSAMAAN SILSILAH MUSAWIAH DAN MUHAMADIAH

Di dalam Alquran, [Allah Ta’ala] telah menyatakan Rasul Akram saw. sebagai Masil Musa [yang menyerupai Musa –pent.]., firman-Nya: Innaaa arsalnaa ilaykum rasulan syaahidan alaikum kama arsalnaa ilaa Fir’auwna rasuwlaa (al-Muzammil:16)

Yakni, “Kami mengutus seorang Rasul sebagaimana Kami telah mengutus Musa kepada Firaun”. Jadi, Rasul kita adalah Masil Musa.

Ditempat lain difirmankan: Wa-adallahullaziyna aamanuw minkum wa-amilusholihaati layas takh lifannahum fiyl-ardhi kamastakhlafal-laziyna minqoblihim (An-Nur:56)

Bahwa, silsilah para khalifah dari Masil Musa inipun sama seperti istilah para Khalifah Musa as. itu adalah 1400 tahun. Selama periode tersebut secara teratur terus saja berdatangan Khalifahnya. Ini merupakan khabar-gaib dari Allah Ta’ala bahwasanya sebagaimana silsilah pertama itu bermula maka seperti itu pulalah silsilah yang ini bermula. Yakni, sebagaimana Musa as. pada masa permulaan memperlihatkan sikap perkasa dan membebaskan bangsanya dari Firaun, maka seperti Musa itu jugalah Rasul yang bakal datang tersebut.

Fakayfa tattaquwn in kafartum yaumay-yaj-alulwildaana syibaanis-samaa’umunfathirum bihii, kaana wa’duhuu maf-ulaa (Al-Muzammil:18-19)

Yakni, ‘Sebagaimana kami telah mengutus Musa, maka pada masa Rasul Akram saw. pun orang-orang kafir Arab itu penuh oleh sifat ke-Firaun-an’. Mereka pun, seperti halnya Firaun, tidak mau jera sebelum mereka menyaksikan tanda-tanda yang perkasa. Tugas Rasulullah saw. adalah seperti tugas-tugas Nabi Musa as.. pekerjaan-pekerjaan Nabi Musa as.bukanlah pekerjaan yang dapat di terima/diakui. Namun Quran Syarif telah membuatnya dapat di terima

Pada zaman Hz.Musa as., walaupun Bani Israil itu telah memperoleh keselamatan dari cemgkraman Firaun, akan tetapi mereka tidak selamat/terlepas dari dosa-dosa. Mereka bertempur, dan hati mereka pun membelot serta menyerang Musa. Akantetapi Nabi kita saw. telah memberikan keselamatan yang sempurna kepada umat beliau. Seandainya Rasul Akram saw. tidak memberikan kekuatan, keperkasaan serta kekuasaan kepada umat islam, umat Islam akan terus teraniaya serta tidak selamat dari tangan orang-orang kafir. Pertama-tama Allah Ta’ala telah memberikan keselamatan berupa tegaknya kerajaan Islam yang utuh. Yang kedua adalah, mereka mempeoleh keselamatan dari dosa-dosa. Allah Ta’ala telah memaparkan kedua-macam gambaran, yakni bagaimana Arab sebelumnya dan bagaimana sesudah itu. seandainya kedua gambaran ini dibandingkan, maka akan dapat dibayangkan bagaimana keadaan yang pertama. Jadi, Allah Ta’ala telah menganugerahkan dua macam keselamatan kepada mereka. Telah selamat dari setan dan juga telah selamat dari Thaghut. (pidato pertama Hz. Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.40-41)

- - - - -oo0oo- - - - -

PERBANDINGAN ANTARA RASULULLAH SAW. DENGAN ALMASIH AS.

Kejujuran/kebenaran dan kesucian yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah saw. beserta para sahabat mulia beliau, dimanpun tidak akan ditemukan bandinganya. Untuk mengorbankan nyawa pun mereka tidak takut. Bagi Hz. Isa as. tidak ada pekerjaan yang sulit dan tidak pula ada pengingkar ilham saat itu. Apakah sulitnya memberikan pemahaman tentang persaudaraan kepada orang-orang. Orang -orang Yahudi toh memang sudah membaca Taurat. Mereka beriman kepada kitab itu. Mereka mempercayai bahwa tuhan itu Esa dan tiada sekutu bagi-Nya.

Kadang-kadang terpikir bahwa uatuk apa sebenarnya Hz.Isa as. itu datang. Di kalangan yahudi toh hingga saat ini pun masih terdapat rasa cinta terhadap Taurat. Puncaknya dapat di katakan bahwa, mungkin kelemahan akhlak terdapat di dalam umat Yahudi, akan tetapi pelajaran sudah ada di dalam Taurat. Dalam kemudahan di mana kaum itu mempercayai Kitab tersebut. Hz.Almasih as. telah mempelajari Kitab itu dari seorang guru secara bertahap. Sebaliknya, junjungan kita yang merupakan pembimbing Sempurna (Rasulullah saw. –pent.) adalah seorang ‘ummi’. Beliau tidak mempunyai seorang guru pun. Dan inilah suatu hal yangmana penentang juga tidak bisa mengingkarinya.

Jadi, bagi Hz.Isa as.ada dua kemudahan saat itu. Pertama adalah orang-orang yang masih satu persaudaraan. Dan hal penting yang di usahakan supaya mereka mengimaninya pun sudah mereka percayai dari sejak semula. Yaa, memang ada beberapa kelemahan di bidang akhlak. Akan tetapi walaupun ada kemudahan-kemudahan seperti itu para ‘hawari’ tetap tidak betul. Mereka tetap saja tamak. Hz.Isa as. punya uang dan sebagian hawari pun mencurinya. Bahkan beliau (Hz.Masih as.) mengatakan: “aku tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaku”.

Tetapi kita menjadi heran, apa maksudnya beliau berkaata demikian. Padahal rumah ada, tempat ada hartapun ada sedemikian rupa sampai-sampai kalau di curipun tidak ketahuan. Jadi, ini adalah suatu kalimat berupa keritikan. Hal itu maksudnya adalah untuk menyatakan walaupun ada kemudaha-kemudahan, akan tetapi tidadk bisa diadakan ‘islah’/perbaikan. Memang Petrus memperoleh kunci-kunci surga, akan tetapi lidahnya tidak dapat terkontrol dari mengutuk gurunya sendiri.

Kini, sebagai perbandingannya, lihatlah secara adil apa-apa saja pengorbanan yang telah di lakukan oleh sahabat-sahabat pembimbing sempurna kita saw. demi Tuhan dan Rasul mereka. Mereka telah di usir dari tanah-air mereka. Mereka mengalami penganiayaan. Merka menanggung berbagai macam bala-musibah. Mereka memngorbankan nyawa mereka. Akan tetapi mereka tetap saja melangkah denga penuh ketulusan dan kesetiaan. Nah, apa yang membuat mereka sampai begitu hebat berkorban? Adalah karena gejolak kecintaan Ilahi sejati, yangmana bersitan cahayanya telah menerpa relung hati mereka. Oleh karena itu, dengan nabi manapun bila di bandingkan – bagaimana ajaran beliau saw.; bagaimana pensucian hati yang beliau lakukan; bagai mana beliau membuat para pengikut beliau tidak tergila-gila kepada dunia; bertempur dengan perkasa untuk kebenaran - maka tidak akan di temukan bandingannya. Itu lah derajat para sahabat Rasulullah saw.

Gambaran tentang kecintaan dan kasih sayang antara sesama mereka telah di terangkan di dalam dua kalimat ini: Wa’allafa baiyna quluwbihim law anfaqta maa fiyl-ardhi jamiy-aa maa allafta baiyna quluwbihim (Al-Anfal:64)

Yakni, kecintaan yang terdapat di dalam diri mereka, tidak akan dapat kalian ciptakan walaupun untuk itu kalian telah menyerahkan gunung emas.

Nah, kini ada sebuah Jemaat Masih Mauud as. yang mereka corak-ragam para sahabat ra.. sahabat ra. Adalah suatu jemaat suci yangmana seluruh Quran Syarif itu penuh dengan sanjungan-sanjungan bagi mereka. Apakah saudara-saudara demikian? Jika Tuhan telah berfirman bahwa-yang akan menyertai Hz. Masih itu adalah orang-orang yang menyatu dengan para sahabah, maka sahabah itu adalah orang-orang yang telah menyerahkan harta dan tanah-air mereka pada jalan kebenaran. Mereka telah meninggalkan segala sesuatunya.

Tentu kalian telah sering mendengar tentang Hz.Siddiq Akbar ra. (Abu BaqarSiddiq –pent.).Suatu tatkala Di perintahkan untuk mengorbankan harta di jalan Allah, maka beliau mengangkut seluruh harta kekayaan beliau. Ketika Rasul Karim saw. Menanyakan: “apa yang engkau sisakan di rumahmu?”, maka beliau ra. Berkata:”Aku hanya menyisakan Allah dan Rasul di rumahku”. Beliau adalah rais mekkah, namun beliau mengenaikan pakaian para darwish, pakaian orang-orang miskin.

Pahamilah bahwa mereka ini adalah orang-orang yang telah syahid di jalan Allah. Dan bagi mereka telah dituliskan bahwa: di bawah pedang itu terletak surga. Namun bagi kita tidak seberat itu. Sebab bagi kita dikatakan: “Yadha’ul Harbu”. Yakni, di zaman Imam Mahdi itu tidak akan ada peperangan. (pidato pertama Hz. Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.41-43)

- - - - -oo0oo- - - - -

Pen:MI/1990

File DN> (C:MALFUZAT

LEMBARAN MALFUZAAT

Kutipan Sabda-sabda Hz.Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi & Masih mauud as.

PEPERANGAN ISLAM

Atas beberapa hikmah/ kebijasanaan, Allah Ta’ala melakukan suatu pekerjaan, dan di masa mendatang tatkala pekerjaan itu menim bulkan hujat/ keritikan, maka dia tidak akan meneruskan pekerjaan tersebut. Mula pertama Rasul Akram kita saw. tidak ada mengangkat pedang. Namun beliau terpaksa menanggung penderitaan yang sangat berat. Tigabelas tahun sudah cukup untuk membuat seorang anak kecil menjadi baligh. Bagi Hz.Masih as. jika jangka waktu tersebut dikurangi sepuluh bagian pun, sudah mencukupi bagi beliau (hanya tiga tahun –pent.).pendeknya dalam masa yang panjang itu segala macam panderitaan terpaksa harus di hadapi.

Akhirnya beliau saw. pergi dari kampung halaman beliau. Beliau terus di kejar. Beliaupun berlindung di daerah lain. Musuh tetap tidak membiarkan beliau disana. Tatkala keadaan sudah seperti itu, maka untuk menyelamatkan orang-orang teraniaya dari penganiayaan orang-orang yang zalim, turunlah perintah ini: Uzina lillazynz yuqotiluwna alaa nashrihim laqoddiyunil-laziyna ukhrijuw mindiyaarihim bighoiri haqqin illa ayyaquwluw robbunalloh -- [Telah diperkenankan – untuk mengangkat senjata – bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah diperlakukan dengan aniaya, dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah mereka tanpa sebab yang sebenarnya, hanya karena mereka berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah] (Al-haj:40-41)

Mereka telah diserang dengan semena-mena; mereka diusir dari rumah mereka dengan sewenag-wenang, hanya karena mereka telah mengatakan “Tuhan kami adalah Allah”.

Jadi, itulah yang menyebabkan telah diadakan perang. Selain daripada itu beliau saw. tidak pernah mengangkat pedang. Yaa, pada zaman kita ini pena telah dihunuskan dalam menentang kita. Melalui pena, kita telah dibuat menderita dan diserang dengan keras. Oleh karena itu sebagai bandinganya senjata kita pun adalah pena. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.43-44)

- - - - -oo0oo- - - - -

GANJARAN DI DAPAT SESUAI DENGAN QURUB YANG DIRAIH

Saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa sejauh mana seseorang itu memperoleh kedekatan, maka sejauh itu pula dia akan mendapatkan perhitungan/ ganjaran. Ahlibait pun dahulu memiliki nilai yang besar dalam memperoleh perhitungan/ ganjaran. Orng-orang yang jauh, mereka tidak layak untuk memperoleh perhitungan/ ganjaran. Naun kalian harus. Jika kalian tidak memiliki keimanan yang lebih dari pada mereka, maka apalah bedanya antara kalian dengan mereka.

Kalian berada di bawah pemantauan ribuan orang. Mereka bagaikan mata-mata Pemerintah yang memperhatikan gerak-gerik kalian. Mereka benar. Tatkala para sahabat Masih as. sudah sewarna dengan sahabat-sahabat radhiallahu anhum, apakah kalian juga demikian. Jika kalian tidak demikian, maka kalian berada dalam keadaan terancam. Walaupun ini merupakan kondisi awal, namun kita tidak bisa memperhitungkan maut. Maut adalah suatu hal yang mutlak yang di hadapi oleh setiap orang.

Jika memang demikian halnya, maka kenapa kalian teledor. Kalau ada orang yang tidak menjalin hubungan dengan saya, itu lain masalahnya. Akan tetapi tatkala kalian sudah datang kepada saya; kalian telah menerima pengakuan saya serta mempercayai bahwa saya adalah Masih, maka seakan-akan kalian telah menyatakan bahwa kalian adalah sama seperti para sahabah mulia radhiallahu anhum. Nah, apakah para sahabah ra. pernah enggan untuk melangkah dengan penuh ketulusan dan kesetiaan? Apakah pada mereka terdapat kemalasan? Apakah mereka orang-orang yang menyakitkan hati?Apakah mereka tidak bisa mengendalikan dorongan-dorongan hati mereka? Bukankah mereka itu orang-rang yang senantiasa merendahkan diri? Bahkan di dalam diri mereka terdapat sikap merendahkan-diri yang paling dalam sekali.

Maka berdoalah, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik yang seperti itu kepada kalian. Sebab tidak ada seorangpun dapat menjalani kehidupan yang ‘hina’ serta rendah hati selama Allah Ta’ala tidak membantunya. Simaklah diri sendiri. Dan seandainya kalian menemukan diri kalian lemah bagaikan seorang bayi, maka jangan takut. Bagaikan para sahabah, teruslah panjatkan doa “Ihdinassirotol mustaqiim” (Al-Fatihah:6). (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.44-45)

- - - - -oo0oo- - - - -

BANGUNLAH DI TENGAH MALAM DAN BERDOALAH

Bangunlah di tengah malam, dan berdoalah supaya Allah Ta’ala menunjukkan jalan-Nya kepada kalian. Para sahabah yang Mulia Rasulullah saw. memperoleh tarbiyat secara bertahap. Apalah mereka sebelumnya. Mereka itu bagaikan suatu proses penyemaian yang di lakukan oleh seorang petani. Lalu yang mulia Rasulullah saw. mengairi mereka. Beliau saw. banyak mendoakan mereka. Bibitnya bagus dan tanahnya pun subur. Maka dari pengairan tersebut keluarlah buah-buah yang bagus. Sebagaimana Rasulullah saw. berjalan, seperti itulah mereka berjalan. Mereka tidak menunggu siang atau malam.

Bertobatlah kalian dengan sesungguhnya. Bangunlah untuk Tahajjud; luruskanlah hati; dan hilangkanlah kelemahan-kelemahan kalian. Dan selaraskanlah perkataan serta amalan kalian dengan keridhaan AllahTa’ala. Yakinilah, barang siapa yang akan menerapkan nasihat ini sebagai pekerjaannya sehari-hari, serta dengan sesungguhnya akan memanjatkan doa, dan benar-benar akan memohon kehadapan Tuhan, maka Allah Ta’ala akan melimpahkan karunia kepadanya. Dan di dalam hatinya akan terjadi suatu perubahan. Janganlah kalian putus-asa terhadap Allah Ta’ala. Barkariymaa kaarhaa dusywaar niyst [Syair Farsi]. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.45)

- - - -oo0oo- - - - -

MANUSIA ADALAH UNTUK MENJADI WALI/SAHABAT ALLAH

Sebagian orang mengatakan, “Apakah kita wali?”. Sangat di sayangkan bahwa mereka sedikitpun tidak menghargai. Tidak di ragukan lagi bahwa manusia adalah untuk menjadi wali/ sahabat (Tuhan). Jika dia berjalan diatas ‘Sirotol Mustaqiim’, maka Tuhan pun akan menuju kapadanya. Dan kemudian pada suatu tempat dia akan menemuai-Nya. Gerakannya ke arah Allah Ta’ala walau bagaimana perlahannya, namun sebaliknya gerakan Allah Ta’ala akan sangat cepat. Ayat berikut ini mengisyaratkan kepada hal itu: Wallaziyna jaahaduw fiynaa lanahdiyannahum – [Dan tentang orang-orang yang berjuang untuk bertemu dengan kami, sesungguhnya kami akan memberi petunjuk kepada mereka] (Al-Ankabut: 70)

Jadi, apa saja yang telah saya wasiatkan pada hari ini, ingatlah bahwa hanya di situlah terletak ‘najaat’ (keselamatan). Hubungan kalian – sebagai makhluk - dengan Tuhan hendaknya sedemikian rupa dimana di dalamnya terdapat keridhoan Ilahi. Ringkasnya, dengan itu kalian harus menjadi bukti-penyempurna akan: Wa’aakhoriyna minhum lamma yalhaqquwbihim – [Dan- Dia akan membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan – lain di antara mereka yang belum pernah bergabung/ berjumpa dengan mereka (Al-jum’ah:4). (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.45-46)

- - - - -oo0oo- - - - -

DUA SILSILAH: ISRAILI DAN ISMAILI

Yaa, sebagaimana di depan telah di terangkan, bahwa hikmah kamil Tuhan telah berkeinginan untuk menegakkan dua silsilah di dunia ini – Israili dan Ismaili. Silsilah pertama bermula dari Hz.Musa as. dan berakhir pada Hz.Masih as.. silsilah tersebut berlangsung selama 1400 tahun. Demikian pula bahwa dari masa yang mulia Rasul Akram saw. hingga sekarang telah berjalan 1400 tahun (14 abad), hal ini mengisyaratkan akan kedatangan seseorang Masih. Salah satu kaitan khas yang terdapat pada angka 14 adalah bahwa manusia itu mencapai masa balighnya pada tahun ke 14.

Hz.Musa as. memperoleh khabar bahwasanya Masih as. akan datang pada masa tatkala di kalangan umat Yahudi banyak terdapat firqah; terdapat petentangan yang sengit di dalam masalah akidah-akidah mereka – sebagian mengingkari akan adanya wujud malaikat, sebagian mengingkari masalah Kiamat dan Kebangkitan di padang Mahsar. Ringkasnya tatkala perbuatan dan akidah-akidah buruk telah menyebar secara nyata, maka pada saat itulah baru Masih akan datang kepada mereka sebagai ‘Hakam’.

Demikian pula halnya, Pemberi Petunjuk kita yang kamil saw. (Rasulullah saw. –pen.) memberi tahukan kepada kita, bahwasanya tatkala dikalangan kita telah timbul banyak firqah seperti dikalangan orang yahudi; dan seperti merekaa, telah bermunculan berbagai macam akidah buruk serta perbuatan-perbuatan bejat; seperti kaum ulama yahudi, sebagian telah mengafirkan sebagian lainya; maka pada saat itu di dalam umat-marhumah ini akan datang juga seorang Masih sebagai ‘hakam’ yang akan mengambil keputusan daru Quran Syarif atas setiap masalah. Dia, seperti Masih as., akan disengsarakan melalui tangan kaum/umat. Dia akan dinobatkan sebagai kafir.

Seandainya orang-orang ini - atas ketidak-pahaman mereka - menyatakan bahwa dia itu dajjal dan kafir, maka memang harus demikian. Sebab di dalam Hadis telah tertera bahwasanya Masih yang akan datang itu akan dikatakan kafir dan dajjal. Akan tetapi akidah yang telah di ajarkan kepada beliau itu benar-benar bersih dan bersinar. Ia tidak memerlukan dalil-dalil lain lagi. Ia mengandung ‘burhan’/ dalil-dalil yang telah di dalam dirinya. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.45-46)

- - - - -oo0oo- - - - -

KEWAFATAN ALMASIH AS.

Permasalahan pertama adalah mengenai kewafatan Almasih as.. Terdapat beberapa ayat yang secara nyata mendukung hal itu.

Yaa iysaa inniymutawaffiyka waraafiuka ilayya (Al-Imran:56). Kemudian :Falamma tawaffaytaniy kunta antar-raqiyba alaiyhim (Al-Maidah:118)

Kilah yang menyatakan bahwa kata ‘tawaffi’ mempunyai makna yang lain lagi, adalah suatu kedustaan. Ibnu Abbas ra. dan Pembimbing Kamil saw. sendiri mengartikan kata tersebut sebagai ‘wafat’. Orang-orang ini yang, dimana saja mereka menggunakan kata ‘tawaffi’, maka maksud mereka adalah ‘wafat’ dan ‘pencabutan nyawa’. Alquran pun di setiap tempat menerangkan makna kata tersebut demikian. Oleh karena itu tidak ada yang bisa merubah hal tersebut.

Dan tatkala kewafatan Almasih as. telah terbukti, maka tentu yang akan datang itu adalah yang berasal dari umat ini juga. yaitu sebagai mana yang di terangkan oleh hadis “imamukumminkum”. Orang-orang ‘Necri’ (orang-orang yang hanya mempercayai kenyataan alam; tidak percaya pada Tuhan; atheis –pen), mereka beruntung bahwa mereka terhindar dari cobaan ini. Sebab, mereka memang mengakui masalah kewafatan Almasih.

Dan keterangan mengenai Masih Mau’ud (Masih yang dijanjikan) begitu beruntunya, sehingga tidak mungkin lagi untuk diingkari. Selai daripada itu isyarat-isyarat Alquran pun memberikan kesaksian akan hal tersebut. Oleh karenanya seseorang yang berakal tidak akan dapat mengingkari masalah kedatangan masih itu. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.47)

- - - - -oo0oo- - - - -

APA KAITAN ANTARA MASIH YANG DI JANJIKAN DENGAN ZAMAN INI?

Yaa, memang sebagian orang berhak untuk mengajukan keberatan: “Apa pula kaitan antara Masih yang dijanjikan dengan zaman ini?”

Jawabannya adalah bahwa Quran Syarif secara terbuka memberikan isyarat akan persamaan antara khilafat yang terdapat di dalam silsilah Israili dan silsilah Ismaili. Hal itu nyata dari ayat berikut ini: Wa-adallahul-laziyna aamanuw minkum wa-amilusholihaati layastakhlifannahum fiyl-ardhi kamas-takhlapal-laziyna minqoblihim (An-Nur:56)

Khalifah terakhir dari silsilah Israili yang datang empat-belas abad setelah kedatangan Hz.Musa as., adalah Almasih as.. sebagai bandingannya, maka sudah pasti bahwa Masih umat ini pun akan datang pada abad ke empat-belas.

Selain itu, para ahli-kasyaf (Orang-orang yang memperoleh penglihatan rohani atau kasyaf dari Allah swt. –pen.) telah menetapkan – zaman ini sebagai zaman turunnya Masih. Misalnya Hz.Syah Waliullah beserta para ahli-hadis lainnya, telah sepakat bahwasanya tanda-tanda sekunder dan tanda-tanda perimer sampai batas-batas tertentu masih sempurna. Akan tetapi dalam hal itu ada sedikit kekeliruan mereka.........

Semua tanda-tandanya telah sempurna. Ciri-ciri ataupun tanda-tanda yang besar bagi Masih yang akan datang itu terdapat di dalam hadis Bukhari sbb: Yaksirus-saliba wayaqtulul-khinziyr

Yakni, tatkala sang Masih turun, pada saat itu kaum Nasrani dan penyembahan terhadap salib sedang meraja-lela. Nah, apakah ini bukan masalahnya? Apakah kemudaratan-kemudaratan yang telah di lakukan oleh para padri/pendeta terhadap Islam pada saat ini ada taranya dari semenjak Nabi Adam hingga sekarang? Di seluruh negeri timbul perpecahan. Tidak ada suatu keluarga muslim pun yang separuh dari anggotanya yang tidak keluar.

Jadi, masa Masih yang akan datang itu adalah merupakan masa kejayaan penyembahan-salib. Kini apalagi kemenangan yang lebih hebat bagi mereka, bahwa betapa mereka bagaikan binatang buas telah menyerang Islam dengan penuh kedengkian dan permusuhan. Apakah ada dari kalangan penentang yang membicarakan prihal yang Mulia Rasul Akram saw. dengan kata-kata kotor serta makian?

Kini jika saat sekarang bukan merupakan waktunya bagi orang yang akan datang itu, maka secepatnya dia akan datang dalam jangka seratus tahun ini. Sebab, dia merupakan mujaddid bagi zaman ini, yangmana masa kedatangannya adalah di penghujung abad.

Maka, apakah Islam pada saat ini masih memiliki kekuatan lagi yang cukup untuk menghadapi kemenangan para pendeta yang semakin hari semakin meningkat, hingga satu abad? Kejayaan mereka sudah sampai pada klimaksnya. Dan orang yang akan datang itupun telah tiba! Yaa, kini dia akan menghancurkan Dajjal dengan pemenuhan segala hujah. Sebab di dalam hadis-hadis di katakan bahwa di tangannya telah di takdirkan kehancuran agama-agama lainnya; bukan kehancuran manusia ataupun umat agama-agama tersebut. Nah demikianlah yang telah sempurna. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.47-48)

------oo0oo------

GERHANA MATAHARI DAN GERHANA BULAN

Salah satu tanda bagi orang yang akan datang itu adalah bahwa pada zaman itu di dalam bulan Ramadhan akan terjadi gerhana matahari dan bulan. Orang-orang yang memperolok-olokan Tuhan. Terjadinya gerhana matahari dan bulan setelah adanya pernyataan diri (da’wa) dari orang itu, adalah suatu hal yang sangat jauh dari kepalsuan maupun buatan.

Sebelumnya tidak pernah terjadi gerhana matahari dan bulan seperti itu. Itu adalah suatu Tanda yang melaluinya Allah Ta’ala mengumumkan kepada seluruh dunia tentang orang yang datang tersebut. Bahkan orang-orang Arab pun berdasarkan kecendrungan mereka, membenarkan Tanda itu.

Di tempat mana saja selebaran-selebaran kami yang merupakan pengumuman itu tidak dapat sampai, maka gerhana matahari dan gerhana bulan tersebutlah yang telah mengumumkan kesana prihal masa tibanya orang yang akan datang itu. Ini adalah suatu Tanda Ilahi yang benar-benar suci dari rencana manusia. Terserah apapun falsafah yang di anut oleh seseorang, jika dia memperhatikan hal ini serta merenungkannya, bahwa tatkala tanda yang telah di tetapkan itu telah sempurna, maka orang yang di janjikan itupun pasti sudah datang.

Hal ini bukanlah suatu hal masalah yang terjadi berdasarkan perhitungan belaka. Melainkan, sebagaimana yang telah di katakan bahwa ia akan terjadi tatkala sudah ada seseorang Yang menyatakan diri sebagai Mahdi. Rasul Akram saw. pun telah bersabda bahwasanya semenjak masa Adam as.hingga masa kedatangan sang Mahdi itu, peristiwa yang demikian belum pernah terjadi. Jika ada yang dapat membuktikan hal seperti itu dari dalam sejarah, maka kami bersedia untuk mengakuinya. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.48-49)

------oo0oo------

MUNCULNYA BINTANG BEREKOR

Salah satu Tanda lainnya adalah bahwa pada saat itu akan muncul bintang berekor. Yaitu bintang yang sudah pernah muncul sebelumnya. Maksudnya adalah bintang yang sudah pernah muncul pada zaman Almasih as., kinipun bintang tersebut telah muncul kembali. Bintangi itulah yang secara samawi telah mengabarkan kepada orang-orang Yahudi perihal kedatangan Almasih.

Demikian pula halnya dengan menelaah Alquran pun dapat di ketahui [tanda-tanda yang lain]: Waizal-isyaru utthilat, waizal-wahuwsyu husyirat, waizal-bihaaru sujjirat, waizash-shuhufu nusyirat (At-Takwir:5-11)

Yakni pada zaman itu unta-unta betina yang merupakan kendaraan dan alat pengangkut barang yang terbaik, tidak akan bermanfaat lagi. Pada zaman itu sistim kendaraan sudah akan sedemikian rupa baiknya sehingga unta-unta betina tersebut tidak akan terpakai lagi.

Maksudnya di sini adalah zaman kereta api. Orang-orang yang beranggapan bahwa ayat-ayat tersebut kaitannya adalah dengan hari Kiamat,mereka tidak berfikir bahwa sebagai mana mungkin pada hari Kiamat unta-unta betina dapat hamil. Sebab yang di maksud dengan ‘isyaar’ adalah unta-unta betina yang sedang hamil.

Kemudian tertulis bahwa sungai-sungai akan di salurkan dari segala arah. Lalu buku-buku akan di terbitkan dalam jumlah besar. Pendeknya, semua tanda-tanda itu adalah berkenaan dengan zaman sekarang. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.49-50)

------oo0oo------

TEMPAT TURUNNYA MASIH MAUUD

Kini tinggal masalah tempatnya. Jadi, ingatlah, telah di beritahukan bahwa dajjal itu akan muncul dari Timur. Yangmana maksudnya adalah negeri kita (Hindustan/India –pen.). Bahkan pengarang kitab Hujjajul Kiromah menuliskan bahwasanya fitnah Dajjal tengah muncul di Hindustan. Dan nyatalah bahwa sang Masih itu turun dimana tempat mana tempat mana ada Dajjal. Kemudian dusun ini pun di namakan “Qad’ah”, yang merupakan singkatan dari Qadian. Mungkin saja di daerah Yaman pun terdapat dusun yang bernama seperti itu. Namun harus di ingat, bahwa Yaman itu bukan di sebelah timur Hijas. Melainkan di sebelah selatannya. Akhirnya di Punjab ini toh ada satu Qadian yang terletak di dekat Ludhiana.

Selain dari pada itu, adapun nama yang telah di tetapkan oleh Takdir bagi saya, nama itu juga mengisyaratkan kepada hal tersebut. Sebab, berdasarkan nilai huruf, jumlah nilai yang terdapat di dalam nama ‘Ghulam Ahmad Qadiani’, adalah genap 1300. Yakni, imam/ puncak dari pada nama ini akan muncul di permulaan abad ke-empatbelas. Demikianlah, bahwa isyarat yang di berikan Rasulullah saw. itu tertuju kepada hal ini. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897/jld.1,h.50)

------oo0oo------

TRAGEDI LANGIT DAN BUMI

Tragedi-tragedi pun merupakan suatu tanda. Tragedi ‘samawi’ telah mengambil bentuk rupa bencana kelaparan, wabah Pes dan Kolera. Wabah penyakit Pes merupakan suatu azab yang sangat berbahaya sehingga ia telah mengguncangkan Pemerintah. Dan kalau sampai wabah terebut meraja-lela, maka seluruh penduduk negeri ini akan punah.

Tragedi-tragedi dari ‘Bumi’ adalah dalam bentuk peperangan dan gempa, yang telah menghancurkan negeri ini. Bagi seseorang utusan Allah adalah penting untuk memperlihatkan Tanda Samawi sebagai bukti akan dirinya. Ada satu Tanda, yaitu tentang Lekhram; apakah tanda itu masih tidak cukup? Sebagai suatu pertempuran, sebuah persyaratan di pegang hingga beberapa tahun. Lima tahun lamanya ‘peperangan’ itu terus berlangsung. Kedua belah pihak masing-masing menyebarkan selebaran. Masalah itupun menjadi mashur di mana-mana. Begitu mashurnya sehingga tidak mungkin ada bandingannya. Lalu demikianlah yang terjadi, sebagaimana yang telah di katakan. Apakah ada taranya peristiwa seperti itu?

Berkenaan dengan ‘Dharm Mahutsu’ pun, beberapa hari sebelumnya telah di umumkan bahwa Allah Ta’ala telah memberi tahukan kepada kita bahwasanya artikel kitalah yang akan unggul dari sekian artikel lainya. Orang-orang yang menyaksikan pertemuan besar tersebut, mereka dapat merenungkan sendiri bahwasanya mengeluarkan pengumuman tentang keunggulan di dalam suatu pertemuan seperti itu sebelum tiba waktunya, bukanlah suatu tebakan maupun hayalan. Lalu, demikianlah yang terjadi sebagaimana yang telah di katakan.

Waakhiru da’wana anil hamdulilahi rabbil alamiyn (pidato pertama Hz. Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.50-51)

- - - - -oo0oo- - - - -

Pen:MI/1990

File DN> (C:MALFUZAT.24)

Pidato Pertama Hadhrat Masih Mauud a.s. Pada Jalsah Salanah Tanggal 25 Desember 1897

Nasihat Berkenaan Dengan Takwa

UNTUK kebaikan Jemaatku, hal yang sangat penting adalah agar diberikan nasihat berkenaan dengan takwa. Sebab, menurut orang yang berakal, hal ini adalah nyata bahwa Allah Taala tidak akan rida/senang terhadap suatu apapun selain dari pada takwa. Allah Taala berfirman: Innallaaha ma’allaziina't-taqaw wallaziina hum muhsinuun—[Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-oarang yang yang berbuat kebajikan]. (An-Naĥl : 129)


Bagi Jemaat Ahmadiyah Secara Khusus Diperlukan Takwa

Bagi Jemaat kita, secara khusus diperlukan takwa. Khususnya dengan anggapan bahwa ia telah menjalin hubungan dengan seorang yang telah menyatakan diri sebagai rasul serta masuk di dalam ikatan baiatnya, supaya mereka orang-orang yang sebelumnya tenggelam di dalam kedengkian, kebencian dan kemusyrikan atau yang benar-benar telah berkiblat kepada dunia, berhasil memperoleh keselamatan dari segala musibah itu.

Saudara-saudara mengetahui bahwa jika ada orang yang sakit—tidak peduli apakah sakit ringan atau berat—lalu penyakit itu tidak diobati serta tidak dilakukan usaha gigih untuk menyembuhkannya, maka orang yang sakit itu tidak akan sembuh.

Jika sebuah noda hitam timbul di wajah, maka timbul kerisauan: Jangan-jangan noda itu semakin berkembang sehingga membuat seluruh wajah menjadi hitam. Demikianlah halnya bahwa dosa merupakan sebuah noda hitam di dalam hati. Kemalasan-kemalasan kecil (kecendrungan untuk bersenang-senang) dapat berkembang menjadi besar. Hal-hal kecil seperti itulah merupakan noda yang berkembang sehingga akhirnya ia menghitamkan sebuah wajah.

Allah Taala Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Demikian pula ia Maha Perkasa dalam menampakkan murka-Nya serta mengadakan pembalasan. Dia melihat sebuah Jemaat di dalam pengakuan dan omong-kosong mereka terdapat segala sesuatu, sedangkan amalan mereka tidak demikian, maka amarah dan murka-Nya akan meluap. Lalu, untuk menghukum Jemaat seperti itu Dia mengajukan orang-orang kafir.

Orang-orang yang tahu sejarah mengetahui bahwa beberapa kali orang Islam dikalahkan oleh orang-orang kafir. Misalnya, Jenghis Khan dan Hulaku Khan telah membinasakan oran-orang Islam. Padahal, Allah Taala telah menjadikan dukungan dan pertolongan bagi orang-orang Islam, namun tetap saja orang-orang Islam kalah. Peristiwa-peristiwa seperti itu kadang-kadang terjadi. Penyebabnya adalah, tatkala Allah Taala melihat bahwa memang mereka menyebutkan “Lâ ilâha illa'l-Lâh” namun hati mereka berpaling ke tempat lain serta tidak tunduk. Mereka benar-benar mengarah kepada keduniawian, maka murka-Nya akan menampakkan diri.

(Malfûzhât Jilid I, halaman 10-11)

Cara Mendapatkan Kehidupan Suci adalah Mengenali Tuhan Dengan Benar

KEHIDUPAN suci yang bebas dari dosa adalah intan permata yang tidak ada dimiliki manusia sekarang. Allah yang Maha Perkasa telah menganugerahkan intan permata itu kepada saya dan Dia telah mengutus saya untuk menyampaikan kepada dunia mengenai cara-cara untuk memperoleh intan permata tersebut.

Saya bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa dengan menempuh jalan ini, maka setiap orang akan bisa mendapatkannya. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengenali Tuhan secara benar, namun hal ini merupakan hal yang sulit dan rumit. Sebagaimana telah saya kemukakan, seorang filosof yang merenungi langit dan bumi dan menyadari keteraturan yang sempurna daripada alam semesta, hanya akan mengatakan bahwa kemungkinan ada sosok Pencipta. Tetapi saya melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dan menyatakan berdasarkan pengalaman pribadi saya bahwa Tuhan itu memang ada.[] (Malfûzhât, Volume III, halaman 16)

Qadla dan Qadar

Berikut ini adalah kompilasi dari nukilan yang diambil dari Malfûzhât yang berkaitan tentang Takdir dan Nasib Manusia. Kumpulan Malfûzhât terdiri dari sepuluh volume dan berisi koleksi diskursus, khutbah dan pidato Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Masih Mau’ud dan Imam Mahdi.

Penterjemah: A.Q. Khalid [Senin, Juli 17, 2006]

“Penerjemahan telah melalui penyuntingan ulang”

Link

“A

llah swt. memang tidak mengungkapkan rahasia sistem takdir dan penentuan nasib. Namun, di dalam hal itu [melalui manifestasi-Nya], ada berbagai pokok-pokok kebijakan. Melalui pengalaman saya sendiri dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang mungkin mencapai makam keruhanian yang luhur semata-mata dari hasil upayanya sendiri. Ada berbagai cobaan yang harus ditanggungkan, yang akan membawa seseorang mendekat kepada Tuhan. Siapa yang mampu memecut keras dirinya sendiri dengan sebuah gada? Allah swt. bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang [karena itu, cobaan yang datang daripada-Nya pasti membawa ganjaran].

“Saya sendiri telah mengalami hal ini dimana setelah melalui sedikit kepedihan, Allah akan melimpahkan karunia dan berkat yang besar. Yang namanya akhirat itu bersifat kekal. Mereka yang telah berpisah dari diri kita tidak akan kembali. Tetapi kita, dalam waktu tidak terlalu lama malah akan bergabung dengan mereka.

“Dinding di dunia ini [yang memisahkannya dengan akhirat], bukanlah suatu dinding yang solid. Bahkan, dinding ini merupul runtuh [dengan bertambah dekatnya kita ke wilayah sana]. Yang harus dipikirkan ialah tidak ada sesuatu pun yang bisa dibawa dari dunia ini ke alam berikut. Lagi pula, tidak ada seorang pun yang tahu kapan ia harus berangkat.

“Kapan pun saatnya manusia meninggalkan dunia ini, akan dianggap sebagai saat yang tidak tepat dan ia berangkat berhampa tangan. Karena, hanya amal baik saja yang bisa menyertai seseorang. Nyatanya sering dijumpai adanya orang-orang yang sudah di ambang sakratul maut tetapi masih saja membilang dan menghitung-hitung berapa harta benda yang dimilikinya. Perhatian mereka pada saat demikian masih saja seputar benda duniawi.

“Banyak sekali orang yang berperilaku demikian. Bahkan, dalam Jemaat ini pun dimana ibadah mereka kepada Allah swt. disertai berbagai persyaratan.

“Ada pula beberapa orang yang menyurati saya, memohon didoakan sambil mengatakan bahwa jika mereka dikaruniai sekian banyak uang atau ada keinginan lain yang terkabul, maka mereka berjanji akan menjadi anggota Jemaat ini.

“Orang-orang bodoh ini tidak memikirkan apa untungnya bagi Allah kalau mereka baiat ke dalam Jemaat(!) Jemaat kita ini, sepatutnya memiliki keimanan seperti yang dimiliki para Sahabat Rasulullah saw. yang merelakan kepala mereka di jalan Tuhan.” (Malfûzhât Vol. IX, hal. 381-383)

Dalam suatu percakapan umum ketika beberapa orang mengemukakan bahwa musibah bisa dihindari dengan cara bersedekah dan memberikan infaq, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan:

“Memang benar demikian. Tetapi, ada pula manusia yang mempertanyakan mengapa takdir Ilahi terdiri dari dua bagian. Jawabannya adalah dengan melihat pengalaman kita sendiri yang menjadi saksi atas suatu kenyataan bahwa: Ketika seseorang menghadapi situasi yang amat mengancam dirinya, jika ia menggiatkan doa atau salat, sedekah dan infaq, ternyata situasi demikian kemudian bisa dihindari.

“Karena itu sepatutnya kita meyakini takdir Ilahi yang dikenal sebagai mu’allaq atau ‘qada yang tertunda’ nyatanya memang ada. Kalau bukan takdir jenis ini dan yang ada ialah ‘takdir yang tidak bisa diubah’ atau ‘mubram’, maka doa, salat dan sedekah tidak akan membawa pengaruh.

“Lalu mengapa suatu situasi yang amat berbahaya bisa dihindari melalui doa dan sedekah? Yang perlu disadari ialah, ada beberapa kehendak Ilahiah yang sifatnya hanya bertujuan menanamkan rasa takut kepada Tuhan serta mengingatkan manusia kepada kemanjuran doa.

“Melalui doa, sedekah dan amal saleh, banyak sekali ketakutan dan mara bahaya yang bisa dihindarkan. Masalah kemakbulan doa mirip dengan hubungan antara wanita dan pria dimana akan terjadi hubungan jika dilakukan pada saat dan kondisi relatif yang tepat serta tidak ada kekurangan yang mengganggu. Hanya saja, jika qadar Ilahiah itu dari jenis yang tidak bisa dihindari, maka jenis yang demikian disebut Mubram dimana doa juga tidak akan berhasil.

“Bisa saja seseorang ingin berdoa tetapi tidak bisa mengkonsentrasikan pikirannya. Sedangkan hatinya tidak meresapi sepenuhnya emosi kepedihan dan kesedihan yang mestinya melambari suatu permohonan doa. Kekurangan konsentrasi ini juga terjadi dalam salat yang bersangkutan. Semua ini, lalu mengisyaratkan bahwa hasil akhir dari situasi yang dihadapi tidak akan baik jadinya. Inilah qadar yang disebut sebagai Mubram yaitu takdir yang tidak bisa dielakkan.

Saat itu seseorang memberi komentar bahwa pada saat putra dari Nawab Muhammad Ali Khan sedang sakit berat, beliau (Hadhrat Masih Mau’ud a.s.) menerima wahyu yang menyatakan bahwa itu adalah takdir Mubram dimana kematian sudah ditakdirkan. Namun dengan syafaat doa Huzur maka takdir itu nyatanya bisa dihindari. Hazrat Masih Maud.a.s. menyatakan:

“Hadhrat Sayid Abdul Qadir Al-JaIlani r.h. (rahmatu'l-Lâh ‘alaih) pernah menulis bahwa terkadang takdir mubram pun bisa dielakkan melalui kekuatan doa. Berkenaan dengan hal ini, seorang ulama terkenal yaitu Syeikh Abdul Haque Muhaddits Dehli mempermasalahkan kalau takdir mubram tidak bisa dielakkan. Lalu apa yang dimaksud oleh Al-Jaelani? Akhirnya ia sendiri juga yang memberikan jawaban bahwa takdir mubram juga terdiri dari dua jenis yaitu yang ‘benar-benar’ mubram sedangkan yang satunya ‘mirip’ mubram tetapi bukan.

“Mubram ‘yang sesungguhnya’ tidak bisa dihindari dalam keadaan apa pun seperti contohnya bahwa manusia pada akhirnya akan mengalami kematian. Qadar ini tidak bisa dielakkan meski yang bersangkutan berkeinginan hidup abadi. Jenis qadar yang mirip Mubram (tetapi bukan), contohnya seperti suatu situasi berbahaya yang amat gawat dimana orang sepertinya tidak akan mungkin melepaskan diri. Keadaan demikian disebut takdir ‘seperti’ Mubram (yang sebenarnya lebih tepat disebut Muallaq yang bisa dielakkan melalui doa dan sedekah). Adapun qadar Mubram yang sesungguhnya tidak akan bisa dielakkan meski misalnya semua Nabi-nabi mendoakannya.” (Malfûzhât Vol. VII, hal. 87-88)

“Kitab Alquran telah menetapkan beberapa hal sebagai pengukuhan prinsip agung; bahwa, Allah yang Maha Kuasa-lah yang Maha Esa dan sumber serta tujuan segala hal. Tetapi, hal ini ditafsirkan beberapa kritikus bodoh sebagai akidah pemaksaan.

“Allah adalah Wujud kausal utama dari segala hal dan Pemelihara semuanya. Ini juga yang mendasari mengapa Allah Yang Maha Kuasa dalam Alquran menyebut Diri-Nya sebagai Kausa dari segala kausa tanpa ada apa pun yang menjadi sarana antara. Namun, Alquran ada juga mengungkapkan terdapatnya media antara yang harus diperhatikan manusia.

“Selain itu, Alquran juga mengemukakan penghukuman atas kejahatan dan menetapkan hukumannya. Kalau sistem qada dan qadar Ilahi sama sekali tidak bisa diubah, dimana manusia harus mengikuti paksaan nasib yang bersifat absolut. Lalu, apa gunanya penetapan adanya ganjaran dan hukuman?

“Yang patut diingat ialah Alquran tidak membatasi segalanya dalam cakupan sistem kausal fisik, tetapi lebih pada menuntun umat manusia kepada ketauhidan Ilahi yang hakiki. Kebanyakan orang tidak memahami fitrat doa dan juga tidak mengerti makna pertalian antara doa dengan takdir Ilahi.

“Allah swt. selalu membuka jalan bagi doa dan tidak akan menolak permohonan mereka. Baik bagi doa mau pun takdir Ilahi, Allah swt. telah menetapkan kapan saatnya yang tepat. Melalui doa, salah satu fitrat Maha Pemelihara telah dianugrahkan Allah swt. kepada mereka yang menyembah-Nya sebagaimana dinyatakan dalam Alquran:

...أدعونىۤ أستجب لكم...

‘...Ud’ûnî astajib lakum...—Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doamu...’ (QS Al-Mumin, 40:61)

“Karena itu, saya selalu menyatakan bahwa Tuhan umat Islam selalu mendengar permohonan mereka. Sedangkan tuhan yang tidak pernah mencipta senoktah apa pun atau dikatakan telah mati karena aniaya bangsa Yahudi, bagaimana mungkin ia bisa mengabulkan?

“Tidaklah bijak mencari kesepakatan di antara kondisi pilihan bebas dengan paksaan hanya berdasarkan logika atau nalar semata. Sia-sia saja Anda mencoba memahami rahasia Ilahi. Lagi pula tidak patut rasanya sebagaimana juga dinyatakan oleh Hadhrat Rasulullah saw. ‘Perilaku seorang pencari kebenaran adalah penghormatan semata.’

“Qada dan qadar Ilahi memiliki kedekatan yang sangat dengan doa. Doa bisa mengelakkan berlakunya takdir yang bersifat sementara atau takdir mu’allaq. Doa adalah sarana paling efektif guna menghindari bahaya dan kesulitan. Mereka yang meragukan keunggulan doa sesungguhnya keliru.

Alquran mengemukakan dua aspek daripada doa. Aspek pertama, Allah swt. akan memaksakan kehendak-Nya. Sedangkan pada aspek yang lain, Dia mengabulkan doa seorang hamba. Dalam ayat:

و لنبلونكم بشيء من الخوف والجوع

Wa lanabluwannakum bisyai'im-mina'l-khaufi wal-jû’[i]—...akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan…’ (QS Al-Baqarah, 2:156)

“Allah swt. meminta kepatuhan atas kehendak-Nya. Maksudnya, tanggapan manusia terhadap takdir Ilahi yang bersifat mutlak ialah:

إنا لله و إنا إليه رٰجعون

‘...Innâ li'l-Lâhi wa innâ ilaihi râji’ûn[a]—Sesungguhnya, kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali…’ (QS 2:157)

“Adapun saat kapan tiba gelombang rahmat dan berkat dari Allah swt., diindikasikan dalam Alquran: ‘Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doamu.’ (QS 40:61)

“Seorang mukminin haruslah memahami kedua aspek tersebut. Kaum Sufi menyatakan bahwa ketergantungan seseorang kepada Tuhan-nya belum akan sempurna sampai yang bersangkutan mampu membedakan saat dan tempat yang sesuai dalam mengajukan permohonan doa.

“Dikatakan bahwa seorang Sufi tidak akan berdoa sampai ia tahu telah tiba saat yang tepat untuk berdoa.

“Hadhrat Sayid Abdul Qadir Al-Jailani r.h. menyatakan bahwa doa bisa menjadikan seorang yang kasar hatinya menjadi seorang yang lembut. Beliau r.h. bahkan menyatakan kalau marabahaya gawat yang sepertinya merupakan takdir mutlak, nyatanya dapat dihindari.

“Singkat kata, yang harus selalu diingat berkenaan dengan doa ialah terkadang Allah swt. mengharuskan kepatuhan hamba kepada kehendak-Nya. Dan pada saat lain, Dia mengabulkan permohonan hamba-Nya. Dengan kata lain, Dia memperlakukan hamba-Nya layaknya seorang sahabat.

“Doa-doa Hadhrat Rasulullah saw. dikabulkan dalam skala besar. Karena itu, beliau menduduki posisi tertinggi dalam ketakwaan kepada kehendak Allah swt. serta menerimanya dengan hati gembira. (Malfûzhât Vol. III, hal. 224-226)”

-------oooOooo-------

Letak Nilai Kasih Allah swt. Pada Ketidakberpuasaan Seseorang


Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“MENURUT pendapat saya, jika seseorang berdoa kepada Allah swt. dengan segala ketulusan, memohon agar ia tidak diasingkan dari berkat-berkat bulan Ramadan, maka ia tidak akan diasingkan. Jika kemudian yang bersangkutan jatuh sakit dalam bulan Ramadan, maka sakitnya menjadi sumber rahmat baginya karena nilai setiap tindakan ditentukan oleh niat yang mendasari. Sepatutnya bagi orang-orang beriman adalah: Jika ia bisa membuktikan diri bahwa ia memiliki keberanian di jalan Allah swt..



Malfûzhât Jilid IV, Additional Nâzhir Isyâ’at London,1984, h. 258-260; The Essence of Islam Vol. II, Islam International Publication Limited Surrey-UK, halaman 314-315; Penerjemah: Abdul Qayum Khalid

[/SHA]

Luput Tidaknya "Pahala Puasa" Bagi Yang Tidak Puasa

Seseorang yang sepenuh hati bertekad untuk melaksanakan puasa, tetapi terhalang karena sakit yang yang diderita sedangkan hatinya sangat ingin mengerjakan puasa tersebut, ia tidak akan mahrum dari rahmat pelaksanaan puasa, dan para malaikatlah yang menggantikannya berpuasa. Hal ini merupakan suatu hal yang pelik. Jika seseorang merasa berpuasa itu sulit karena kemalasan rohaninya dan berkhayal bahwa ia sedang kurang sehat sehingga tidak boleh melewatkan waktu makan karena dianggapnya akan membawa berbagai penyakit, maka orang seperti ini jika menganggap rahmat Tuhan akan tetap berada di sisinya, sesungguhnya, ia tidak berhak atas pahala rohani apa pun.

--Malfûzhât Jilid IV, Additional Nazhir Isyaat London, 1984, halaman 258-260; The Essence of Islam Volume II, Islam International Publication Limited Surrey-UK, halaman 314-315; Penerjemah: Abdul Qayum Khalid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar